AIRSPACE REVIEW – Industri pertahanan Amerika Serikat, Boeing, menyerahkan total 127 pesawat militer kepada para pemesannya di tahun 2025 lalu. Dari jumlah tersebut, 60 di antaranya adalah pesawat yang baru dibangun.
Pesawat sayap putar (helikopter) merupakan yang paling banyak ditransfer di tahun tersebut, yaitu sebanyak 61 unit, terdiri dari 19 helikopter baru dan 42 helikopter hasil perbaikan.
Jumlah helikopter yang dikirim meningkat dibanding tahun 2024 yang berjumlah 50 unit, terdiri dari 16 unit baru dan 34 unit hasil perbaikan.
Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, helikopter serang AH-64E Apache Guardian termasuk helikopter yang paling banyak dikirimkan, diikuti oleh helikopter angkut CH-47 Chinook.
Di sektor pesawat tempur, pengiriman Boeing mengalami penurunan jumlah. Boeing hanya menyerahkan sembilan pesawat F-15 pada tahun 2025, menurun dari 14 unit pada tahun 2024.
Pesawat tempur yang disebutkan mengarah pada F-15EX untuk Angkatan Udara AS dan F-15QA untuk Qatar.
Selain F-15, Boeing menyerahkan 14 F/A-18E/F Super Hornet, naik dari 11 unit pada tahun 2024. Kemungkinan besar ini adalah pesanan untuk Angkatan Laut AS (US Navy), sementara pesanan untuk Kuwait masaih dalam pengerjaan.
Untuk pengiriman pesawat tanker KC-46 Pegasus jumlahnya tidak meningkat tinggi. Boeing mengirimkan 14 unit pesawat ini pada tahun 2025, lebih banyak satu unit dari pengiriman tahun 2024 yang 13 unit.
Selanjutnya untuk pesawat antikapal selam P-8A Poseidon, pengiriman di tahun 2025 sebanyak enam unit, meningkat dari empat unit pada tahun 2024.
Poseidon menjadi salah satu pesawat pilihan utama untuk patroli maritim bagi sekutu NATO, termasuk Denmark.
Terakhir, Boeing mengirimkan sembilan helikopter MH-139 Grey Wolf pada tahun 2025, naik dari enam unit pada pengiriman tahun 2024.
Helikopter tersebut dipesan untuk menggantikan heli UH-1N Huey yang sudah tua untuk operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), transportasi VIP, dan patroli lapangan ICBM.
F-15EX
Terkait F-15EX Eagle II, Boeing telah mendapatkan pesanan untuk memproduksi 129 unit pesawat ini bagi USAF dan Garda Nasional Udara.
Selain AS, Israel adalah negara yang telah menandatangani kontrak pembelian 25 unit F-15EX yang kemudian kodenya diganti menjadi F-15IA.
Indonesia telah mendapatkan izin dari Kongres AS untuk akuisisi 36 F-15EX (F-15IDN) sejak Februari 2022. Namun rencana akuisisi yang kemudian diturunkan menjadi 24 unit oleh Jakarta ini, hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya.
Arab Saudi disebut-sebut juga berminat untuk mengakuisisi 54 F-15EX, tapi juga belum ada kelanjutannya.
Selain itu, Polandia telah menyatakan minatnya untuk mengakuisisi sekitar 32 F-15EX, tapi juga belum ada kelanjutannya. (RNS)

