Militer AS gunakan AGM-154C-1 JSOW dalam serangan di Venezuela, puing-puingnya ditemukan

AS gunakan rudal AGM-154C-1 dalam serangan ke VenezuelaVia X

AIRSPACE REVIEW – Pihak berwenang Venezuela merilis foto-foto yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat menggunakan glide bomb AGM-154C-1 dalam serangan ke Venezuela pada 3 Januari 2025. Hal ini dipastikan dari ditemukannya puing-puing Senjata Jarak Jauh Gabungan (JSOW) tersebut.

Dikatakan bahwa rudal tersebut menarget Institut Penelitian Ilmiah Venezuela (IVIC). Institut ini berlokasi di Miranda, pinggiran kota Caracas, berjarak sekitar 27 km dari kediaman Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Ini adalah penemuan penggunaan pertama AGM-154C-1 Amerika Serikat di Venezuela.

Foto puing-puing senjata tersebut, seperti beredar di media sosial, termasuk bagian selongsong dan komponen internal yang sesuai dengan varian C-1. Ini adalah varian AGM-154 yang dirancang untuk serangan jarak jauh dengan panduan terminal yang ditingkatkan.

AGM-154C-1 adalah senjata udara ke permukaan yang biasanya diluncurkan dari pesawat tempur seperti F/A-18 dan F-35.

Senjata jenis bom luncur ini dirancang untuk menyerang target tetap dan terlindungi dari jarak jauh dengan jangkauan hingga 130 km ketika dilepaskan dari ketinggian yang lebih tinggi.

Dengan menggunakan senjata tersebut, pesawat peluncurnya dapat beroperasi di luar wilayah udara yang dilindungi.

AGM-154 JSOW pada dasarnya adalah bom luncur berpemandu. Senjata ini dilepaskan dari pesawat yang mengudara lalu akan menggunakan sayapnya yang terlipat untuk meluncur (glide) menuju targetnya.

Varian AGM-154C dan C-1 dirancang khusus untuk menyerang target yang keras dan terlindungi (hardened targets).

Senjata ini membawa hulu ledak tandem (dua tahap) yang dirancang untuk penetrasi tinggi. Muatan pembentuk (shaped charge) akan meledak untuk membuat lubang di lapisan pertama pelindung seperti atap beton.

Kemudian hulu ledak utama yang berupa bom penetrasi akan menembus lubang tersebut untuk meledak di dalam target guna memaksimalkan kerusakan struktural.

Varian C-1 memiliki peningkatan besar dalam sistem panduan dibandingkan model JSOW sebelumnya:

Panduan utamanya mengandalkan sistem navigasi inersia (INS) dan Global Positioning System (GPS) untuk akurasi tinggi pada fase penerbangan awal dan tengah.

Sementara pada fase akhir penerbangan, AGM-154C-1 menggunakan pencari gambar inframerah (Infrared Imaging Seeker) yang memungkinkan senjata untuk secara otonom mengidentifikasi dan mengunci target (Automatic Target Acquisition/ATA).

Hal itu memungkinkan senjata untuk mencapai akurasi titik-nol yang sangat tinggi, bahkan jika sinyal GPS terganggu.

Fitur paling khas dari varian AGM-154C-1 adalah kemampuan Network-Enabled Weapon (NEW). Versi C-1 tidak hanya bisa menyerang target darat yang diam, tetapi juga mampu menyerang target laut yang bergerak.

Ini menandai kemampuan senjata tersebut untuk menerima pembaruan target saat terbang melalui jaringan data (seperti Link 16), memungkinkannya mengalihkan target pada menit-menit terakhir berdasarkan intelijen waktu nyata.

AGM-154C-1 JSOW dibuat oleh Raytheon, yang sekarang merupakan bagian dari RTX Corporation.

Program pengembangan rudal ini merupakan proyek gabungan antara Angkatan Laut (US Navy) dan Angkatan Udara (US Air Force) Amerika Serikat untuk menciptakan senjata presisi jarak menengah yang terstandardisasi.

Selain digunakan oleh AS, senjata ini juga telah diekspor ke sejumlah negara, termasuk Australia, Kanada, Yunani, Singapura, Taiwan, dan lainnya. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *