Bukan Typhoon atau J-10CE, Bangladesh lebih tertarik untuk mengakuisisi JF-17 Block III dari Pakistan, ini alasannya

JF-17 Pakistan di Dubai Airshow 2025 _ Airspace Review _ Roni SontaniRoni Sontani/AR

AIRSPACE REVIEW – Bangladesh dan Pakistan telah membuka pembicaraan tingkat angkatan udara formal di Islamabad pada 6 Januari 2026. Pertemuan yang melibatkan kepala staf angkatan udara dari kedua negara ini membahas kemungkinan akuisisi jet tempur JF-17 Thunder Block III.

Angkatan Udara Bangladesh (BAF) berpotensi untuk membeli antara 20 hingga 32 jet JF-17 Thunder untuk secara bertahap menggantikan pesawat tempur buatan China dan Rusia yang sudah tua.

Reuters melaporkan, di luar potensi untuk akuisisi JF-17, Kepala Staf Angkatan Udara Bangladesh Marsekal Udara Hasan Mahmood Khan dan Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan Marsekal Udara Zaheer Ahmed Baber Sidhu juga membahas terkait jalur pelatihan, pemeliharaan jangka panjang, dan kerja sama kelembagaan kedua angkatan udara.

Salah satu elemen kunci dalam diskusi tersebut melibatkan jaminan terkait percepatan pengiriman pesawat latih Super Mushshak, ditambah dengan ekosistem pelatihan dan dukungan jangka panjang yang lebih luas guna memastikan keberlanjutan pelatihan pilot dan ketersediaan pesawat.

Pihak Bangladesh juga meminta bantuan dalam dukungan pemeliharaan untuk armada mereka yang sudah tua dan dalam integrasi sistem radar pertahanan udara untuk meningkatkan cakupan pengawasan udara nasional.

Mengapa JF-17 Block III yang Lebih Menarik Perhatian?

Program akuisisi jet tempur multiperan baru yang digagas BAF, tidak lepas dari kebutuhan mendesak BAF dan faktor kecepatan pihak pabrikan dalam penyediaan pesawat yang diharapkan.

Kekuatan tempur udara BAF saat ini hanya mengandalkan empat unit MiG-29BM yang beroperasi, meskipun empat unit lainnya akan kembali dari Belarus pada bulan Juni mendatang setelah program MLU/MRO.

Kekurangan pesawat tempur ini menciptakan kerentanan yang signifikan dalam pertahanan udara negara, menurut tinjauan BMD Military.

Untuk itu, konsorsium Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) menawarkan solusi kunci berupa percepatan pengiriman JF-17 Block III.

“PAC & AVIC menawarkan untuk mempercepat pengiriman guna mengatasi kekurangan pertahanan udara Bangladesh.”

Kesanggupan PAC & AVIC dalam menyediakan JF-17, menjadi pertimbangan utama bagi BAF dibanding calon alternatif lain yang telah ditinjau, seperti Eurofighter Typhoon dan Chengdu J-10CE, yang membutuhkan estimasi waktu lebih lama untuk pengiriman pesawat masing-masing.

Selain faktor kecepatan penyediaan pesawat tadi, BAF juga menilai peningkatan kemampuan tempur yang signifikan pada JF-17 Block III sebagai lompatan teknologi besar dari varian sebelumnya.

Peningkatan-peningkatan tersebut antara lain mencakup integrasi radar AESA (Active Electronically Scanned Array), yang merupakan jantung dari Block III.

JF-17 Block III

Penggantian radar dengan AESA modern meningkatkan kesadaran situasional, kemampuan pelacakan multitarget, dan ketahanan terhadap jamming secara drastis.

JF-17 Block III juga telah terintegrasi dengan sistem Helmet Mounted Display (HMD), yang memungkinkan pilot dapat melihat data penerbangan dan mengunci target rudal hanya dengan menggerakkan kepala mereka. Hal ini mempercepat waktu reaksi dalam pertempuran udara jarak dekat.

Block III juga mampu membawa rudal udara ke udara jarak jauh canggih seperti PL-15, yang memiliki jangkauan jauh superior dan telah terbukti keandalannya.

Peningkatan pada sistem peperangan elektronik (EW) modern dan avionik terbuka (open architecture) juga memastikan JF-17 Block III relevan dengan kondisi medan pertempuran modern.

    Dengan JF-17 Block III yang dikategorikan sebagai jet tempur generasi 4,5 ini, BAF tidak hanya mengisi kekosongan, tetapi juga mengakuisisi platform yang secara teknologi mampu menghadapi ancaman modern.

    Faktor lain yang menarik dan berpotensi kontroversial dalam akuisisi ini adalah terkait dimensi geopolitik.

    Sumber-sumber yang dikutip menunjukkan bahwa JF-17 Block III dipilih karena pesawat ini dapat dioperasikan tanpa Bangladesh menghadapi tekanan internasional atau pertanyaan politik jika terjadi konflik.

    Akuisisi JF-17 akan memperkuat aliansi strategis Bangladesh dengan Pakistan, di mana Islamabad disebut akan menyediakan amunisi serta suku cadang tanpa batasan bila terjadi perang.

    Kesanggupan ini dinilai penting setidaknya selama 50 tahun ke depan untuk mengatasi ancaman terbuka megara tetangga terhadap Bangladesh.

    Sumber-sumber menyebut Dhaka telah menyiapkan anggaran awal sebesar 720 juta USD untuk akuisisi 16 unit JF-17 Block III. Namun, laporan mengindikasikan bahwa ini hanyalah permulaan.

    Dikatakan bahwa BAF kemungikan memiliki rencana untuk memesan hingga 48 unit JF-17 Block III, meskipun jumlah akhir ini masih bergantung pada faktor teknis dan anggaran.

    J-10CE dan Typhoon

    Pada bulan-bulan terdahulu, Airspace Review memberitakan bahwa BAF telah melakukan peninjauan terjadap jet tempur Chengdu J-10CE dari China yang kemudian disebut sebagai kandidat sangat kuat untuk diakuisisi oleh Dhaka.

    BAF hampur menyelesaikan kesepakatan untuk membeli hingga 20 unit J-10CE dengan total biaya diperkirakan mencapai 2.2 miliar USD, termasuk senjata, pelatihan, dan suku cadang.

    Namun dalam perkembangan berikutnya, faktor kesiapan pengiriman yang lebih lama dibanding bila memilih J-17, kemudian mengubah rencana awal.

    Selain itu, biaya paket total yang jauh lebih tinggi menjadi pertimbangan lain bagi Dhaka untuk berganti pilihan.

    Sementara mengenai jet tempur Typhoon, BAF juga sebelumnya telah menunjukkan minat yang kuat pada jet tempur buatan konsorsium Barat yang dipimpin Leonardo dari italia ini.

    Kepala Staf Angkatan Udara BAF dan jajarannya dilaporkan telah melakukan kunjungan teknis ke fasilitas Leonardo di Turin dan menghadiri demonstrasi penerbangan Eurofighter Typhoon pada sekitar pertengahan tahun 2025.

    Bahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa BAF telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Leonardo untuk mengakuisisi Typhoon. Beberapa perkiraan menyebutkan potensi akuisisi 10 hingga 16 unit Typhoon dengan perkiraan biaya 2-3 miliar USD.

    Kembali lagi, pertimbangan biaya yang lebih tinggi, pada akhirnya membatalkan minat awal untuk mengakuisisi Typhoon.

    Selain itu, Typhoon adalah platform standar NATO/Barat. Hal ini akan memerlukan pembangunan sistem logistik, infrastruktur, dan pelatihan yang sama sekali baru bagi BAF, dibandingkan dengan pesawat tempur buatan China/Pakistan yang sudah dikenal BAF. (RNS)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *