AIRSPACE REVIEW – Di tengah proses untuk dipensiunkan, pesawat serang darat ikonik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), Fairchild Republic A-10 Thunderbolt II (atau “Si Brrrttt” – karena suara kanon gatling GAU-8/A Avenger-nya), baru saja mendapatkan peningkatan kemampuan yang signifikan.
Pesawat yang dijuluki “Warthog” ini kini mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara (Air-to-Air Refueling/AAR) menggunakan sistem probe-and-drogue. Ini adalah kemampuan baru yang tidak dimiliki A-10 selama puluhan tahun masa operasionalnya.
Selama ini, A-10 hanya bisa mengisi bahan bakar melalui sistem rigid boom (pipa kaku) yang biasanya ada pada pesawat tanker besar seperti Boeing KC-135 Stratotanker.
Namun, keterbatasan jumlah pesawat tanker dan masalah teknis pada pesawat tanker terbaru, KC-46A Pegasus, menciptakan risiko operasional bagi unit Warthog.
Untuk mengatasi masalah ini, sebuah adaptor probe baru telah dikembangkan. Perangkat ini dapat dipasang langsung pada lubang penerima bahan bakar (receptacle) yang ada di hidung A-10.
Hebatnya, pemasangan ini bersifat sangat praktis dan bisa dilakukan langsung di lini penerbangan dalam waktu singkat, tanpa perlu membawa pesawat ke pusat pemeliharaan yang kompleks.
Dengan adanya adaptor ini, A-10 kini bisa mengisi bahan bakar dari pesawat tanker berbasis Lockheed Martin C-130 Hercules, seperti KC-130J Super Hercules, MC-130J Commando II, dan HC-130J Combat King II.
Proses AAR terhadap A-10 memiliki beberapa kelebihan karena Thunderbolt II adalah pesawat yang terbang relatif lambat.
Pesawat C-130 terbang pada kecepatan dan ketinggian yang lebih sesuai dengan profil terbang A-10 dibandingkan pesawat tanker jet besar yang seringkali sulit menjaga kestabilan saat harus terbang lambat demi A-10.
Pesawat keluarga C-130 sering digunakan dalam misi penyelamatan tempur (CSAR) dan operasi khusus, lingkungan yang sama di mana A-10 juga biasanya dilibatkan.
Selain itu, dengan penggunaan adaptor memungkinkan komandan di lapangan untuk dengan cepat mengubah konfigurasi pesawat sesuai dengan ketersediaan tanker di area operasi.
Laporan menyebutkan bahwa pengujian awal telah menunjukkan keberhasilan, di mana A-10 berhasil melakukan kontak dengan “keranjang” bahan bakar dari pesawat HC-130.
Meskipun sering muncul perdebatan mengenai rencana pemensiunan A-10, inovasi modular dan cepat ini membuktikan bahwa Warthog masih terus beradaptasi agar tetap relevan dan memiliki jangkauan operasional yang lebih luas di medan tempur modern.
Proses Pensiun yang Tidak Instan
Meskipun USAF telah mendapat lampu hijau dari Kongres untuk mulai memensiunkan armada A-10 (sekitar 42 unit pada tahun fiskal 2024 dan lebih banyak lagi di 2025), total armada yang ada masih mencapai ratusan unit.
USAF memperkirakan butuh waktu hingga akhir dekade ini (sekitar 2029-2030) untuk benar-benar menghentikan operasional Warthog sepenuhnya.
Inovasi adaptor untuk C-130 sangat relevan dengan strategi ACE (Agile Combat Employment) USAF di mana di wilayah seperti Pasifik, landasan pacu besar yang bisa menampung tanker raksasa seperti KC-135 sangat terbatas.
Dengan adaptor ini, A-10 bisa beroperasi dari pulau-pulau kecil atau landasan darurat yang hanya bisa dijangkau oleh KC-130.
Alasan lain mengapa A-10 terus “bertahan hidup” adalah karena pesawat tanker terbaru, KC-46 Pegasus, seperti disinggung di muka, sempat mengalami masalah teknis pada sistem boom-nya saat mencoba mengisi bahan bakar pesawat yang terbang lambat seperti A-10.
Adaptor yang dikembangkan ini menjadi solusi murah dan cepat agar A-10 tidak tergantung pada pesawat tanker jet yang bermasalah tersebut. (RNS)

