AIRSPACE REVIEW – Satu lagi aset strategis Angkatan Laut AS (US Navy) bergerak menuju wilayah panas. Kapal serbu amfibi USS Boxer (LHD-4) dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah, menyusul USS Bataan (LHD-5) yang sudah lebih dulu berada di sana.
Langkah ini menandakan peningkatan signifikan kekuatan maritim AS di tengah ketegangan yang terus mendidih di kawasan tersebut.
Pengerahan USS Boxer menjadikan AS kini memiliki dua kapal serbu amfibi kelas Wasp di wilayah operasional Komando Pusat (CENTCOM).
Meski secara teknis diklasifikasikan sebagai kapal amfibi, USS Boxer sering disebut sebagai “Baby Carrier” karena kemampuannya mengangkut jet tempur siluman F-35B Lightning II milik Korps Marinir (USMC).
Kehadiran USS Boxer bersama USS Bataan memberikan fleksibilitas luar biasa bagi komandan lapangan untuk operasi udara berkelanjutan dan proyeksi kekuatan amfibi di jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz.
USS Boxer memimpin Kelompok Siaga Amfibi (Amphibious Ready Group – ARG) yang membawa ribuan personel Marinir dari 15th Marine Expeditionary Unit (MEU).
Kelompok tempur ini tidak hanya membawa kekuatan udara, tetapi juga kapal-kapal pendukung seperti USS Somerset (LPD-25) dan USS Harpers Ferry (LSD-49).
Pengerahan ini dilakukan saat AS terus menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok pro-Iran dan ancaman terhadap navigasi internasional di Laut Merah dan sekitarnya.
Keberadaan USS Boxer di kawasan tersebut bukan sekadar menunjukkan kehadiran fisik, melainkan membawa lonjakan kemampuan tempur udara yang signifikan melalui detasemen jet tempur F-35B Lightning II.
Jet generasi kelima ini memberikan kemampuan stealth (siluman) dan sensor canggih yang mampu menembus sistem pertahanan udara lawan tanpa terdeteksi.
Pesawat tersebut dapat berperan ganda sebagai aset untuk misi pengintaian maupun serangan presisi di lingkungan yang dipenuhi ancaman rudal darat-ke-udara.
Integrasi jet ini dengan helikopter serbu AH-1Z Viper dan pesawat angkut tilt-rotor MV-22B Osprey menciptakan ekosistem tempur yang sangat mematikan bagi target di darat maupun permukaan laut.
Selain aspek ofensif, pengerahan kapal amfibi kelas Wasp kedua ini juga berkaitan erat dengan strategi keberlanjutan operasi (sustainability) di wilayah yang jauh dari pangkalan utama.
USS Boxer berfungsi sebagai “pangkalan terapung” yang mampu melakukan perawatan teknis tingkat menengah dan menyediakan fasilitas medis kelas dunia di tengah laut.
Dengan dua kapal ARG yang beroperasi secara bergantian atau bersamaan, seperti dilaporkan The War Zoen, militer AS dapat memastikan bahwa kehadiran mereka di titik-titik krusial tetap konstan tanpa harus mengalami kekosongan operasional saat salah satu kapal melakukan pengisian bahan bakar atau logistik di pelabuhan sekutu.
Kehadiran USS Boxer yang mendampingi USS Bataan di wilayah tanggung jawab CENTCOM bukan sekadar rotasi rutin, melainkan pengiriman pesan politik yang sangat kuat bagi aktor-aktor regional, terutama Iran dan kelompok proksinya.
Dengan menempatkan dua kapal serbu amfibi sekaligus, Amerika Serikat menunjukkan kesiapan untuk melakukan operasi skala besar secara mendadak (surge capability), mulai dari evakuasi non-kombatan hingga serangan amfibi terpadu.
Konsentrasi kekuatan maritim ini menciptakan efek gentar (deterrence) yang signifikan, sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi jalur perdagangan energi di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi ekonomi dunia.
Langkah Pentagon mengirim USS Boxer menunjukkan bahwa meskipun fokus global sering tertuju pada kapal induk kelas Nimitz atau Ford, kapal serbu amfibi kelas Wasp tetap menjadi instrumen vital dalam diplomasi kapal perang modern.
Kemampuan mereka untuk beroperasi di perairan dangkal dan membawa kekuatan udara canggih membuat mereka ideal untuk menghadapi ancaman asimetris yang kerap muncul di perairan Timur Tengah.
USS Boxer (LHD-4) Selayang Pandang
USS Boxer (LHD-4) merupakan kapal serbu amfibi serbaguna kedelapan dari kelas Wasp milik Angkatan Laut AS.
Kapal dengan panjang sekitar 257 m dan bobot mati mencapai 41.000 ton ini dirancang untuk menjadi ujung tombak proyeksi kekuatan USMC dari laut ke darat.
Sebagai sebuah “Baby Carrier”, kekuatan utama USS Boxer terletak pada fleksibilitas dek penerbangan dan dek serbu amfibinya (well deck).
Dalam konfigurasi standar untuk misi serangan, USS Boxer mampu membawa kombinasi mematikan yang terdiri dari: 6-10 F-35B, 12 MV-22B, heli serbu AH-1Z, heli angkut berat CH-53E Super Stallion, dan heli penyelamat dan antikapal selam MH-60S Knighthawk.
Di bagian dalam (well deck), USS Boxer dapat mengangkut aset pendarat untuk membawa kendaraan berat ke pantai, termasuk 3 unit LCAC (Landing Craft Air Cushion) atau 2 unit LCU (Landing Craft Utility), puluhan kendaraan tempur lapis baja, termasuk varian terbaru ACV (Amphibious Combat Vehicle) dan truk logistik.
Untuk angkut personel, kapal ini mampu menampung lebih dari 1.000 awak kapal (pelaut) dan membawa unsur tempur utama dari Marine Expeditionary Unit (MEU) sebanyak kurang lebih 1.600 hingga 1.800 personel Marinir yang siap dikerahkan kapan saja.
Tak hanya sebagai mesin perang, USS Boxer juga berfungsi sebagai rumah sakit terapung raksasa dengan enam ruang operasi dan kapasitas 600 tempat tidur pasien, menjadikannya aset vital dalam misi bantuan kemanusiaan maupun evakuasi medis di medan tempur. (RNS)

