Maut dari jarak 400 km, PL-17 “tombak baru” di udara dari Negeri Tirai Bambu

PL-17 rudal udara ke udara China berjangkauan 400 kmVia X

AIRSPACE REVIEW – Sebuah foto beredar di media sosial, memperlihatkan seorang pria dengan wajahnya yang disamarkan berdiri di samping rudal udara ke udara berukuran besar dengan tulisan PL-17.

Tidak salah, itu adalah gambaran sosok rudal udara ke udara terbaru China, kakak besar dari rudal PL-15 yang namanya tersohor dalam pertempuran udara antara India dan Pakistan pada Mei 2025 lalu.

PL-17 dianggap sebagai salah satu senjata paling ampuh dalam persenjataan Negeri Tirai Bambu saat ini.

Sebelumnya, isu kemunculan PL-17 telah mendorong Amerika Serikat untuk mengembangkan AIM-260 JATM (Joint Advanced Tactical Missile) dan amunisi jarak jauh lainnya.

Meskipun rudal yang ditampilkan hanya berupa model, ukuran dari rudal PL-17 sudah dapat menggambarkan kepada kita tentang kemampuannya, yang tentunya lebih tinggi dibanding PL-15.

China memang seringkali mengejutkan, dan gaya publikasinya yang seringkali “tidak resmi” berhasil menyedot perhatian publik global.

Sebelumnya, kemunculan rudal ini terdeteksi beberapa kali, antara lain tahun lalu ketika sebuah rudal putih berukuran panjang melengkapi jet tempur J-16.

Rudal PL-17 sebenarnya telah lama dikembangkan, kurang lebih satu dekade lalu. Rudal ini pertama kali diuji pada pada jet J-16 pada tahun 2016,

Pada Oktober 2022, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa PL-17 telah memasuki layanan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakat (PLAAF). Rudal ini juga dapat dibawa oleh Su-30MKK dan Su-35 PLAAF.

Sejauh ini belum ada spesifikasi resmi dari rudal tersebut. Informasi yang beredar kebanyakan mengacu pada informasi terbuka, yang mungkin saja mendekati kebenaran spesifikasi sesungguhnya.

Rudal PL-17 Rudal PL-17 (dalam literatur Barat sering ditulis sebagai PL-XX) dikembangkan oleh Luoyang Electro-Optics Technology Development Centre (EOTDC), bagian dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC).

Rudal ini menonjol karena ukurannya yang panjang mencapai 6 m dan diameter sekitar 30 cm. Bandingkan dengan PL-15 yang berukuran panjang 4 m dan diameter 20,3 cm.

PL-17 menggunakan motor roket berbahan bakar padat (solid-fuel rocket motor), berbeda dengan PL-15 yang menggunakan dual-pulse.

PL-17 mengandalkan ukuran motor yang besar untuk mencapai jarak tempuh yang ekstrem. Jangkauannya diperkirakan mencapai hingga 400 km, jauh melampaui rudal AIM-120D AMRAAM dari AS yang memiliki jangkauan 180 km maupun AIM-260 JATM yang berjangkauan maksimal 250 km.

Rudal PL-17 dilengkapi dengan empat sirip kontrol kecil di bagian ekor untuk bermanuver. Kecepatan maksimal PL-17 mencapai Mach 4 atau lebih.

Rudal ini kemungkinan besar menggunakan jalur terbang lofting, yaitu menanjak ke stratosfer di mana hambatan udara rendah, sebelum menukik tajam ke arah target untuk memaksimalkan jangkauan.

Untuk dapat mencapai target pada jarak hingga 400 km, PL-17 menggunakan pemandu inersia dan satelit pada fase awal penerbangannya.

Rudal ini diluncurkan dari pesawat pembawanya seperti J-16 yang berukuran bongsor. Dalam misinya, J-16 dibantu oleh pesawat kendali dan kontrol udara, AEW&C yang memberikan pembaruan posisi target secara waktu nyata saat rudal telah diluncurkan terbang.

Pada fase akhir (terminal) penerbangannya saat mendekati target, rudal PL-17 akan menyalakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array (AESA) mandiri yang sangat sulit untuk diganggu oleh electronic warfare (EW).

Melihat jangkauannya yang sangat jauh, tampaknya China merancang PL-17 untuk tugas menghancurkan target-target penting di udara seperti pesawat AEW&C maupun pesawat tanker.

Kedua jenis target tersebut sangat penting perannya dalam pertempuran udara. Pesawat AEW&C memainkan peran sebagai koordinator pertempuran di udara, sementara pesawat tanker menyediakan jet tempur kemampuan bertahan lama di udara.

Pada jarak jangkau terjaunya, manuver rudal tentu sudah tidak seagresif saat baru diluncurkan atau pada jarak optimalnya.

Pada jarak tersebut, rudal ini cocok untuk menghancurkan pesawat berukuran besar yang tidak lincah, seperti pesawat AEW&C maupun pesawat tanker, atau drone intai yang terbang pelan.

Karena ukurannya yang panjang, PL-17 tidak bisa dibawa di dalam internal weapon bay jet siluman seperti J-20.

Oleh karena itu, dalam berbagai penggambaran rudal ini terlihat lebih sering melengkapi jet tempur kelas berat seperti J-16.

Kalaupun di situ ada J-20, maka kemungkinan besar jet tempur siluman ini membantu menyuplai data target. Sedangkan J-16 bertindak selaku pembawa “tombak udara”, algojo baru dari China ini.

PL-17 dikembangkan sebagai bagian dari strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD) China untuk menjaga agar kekuatan udara asing tetap berada di luar Garis Rantai Pulau Pertama (First Island Chain), yang dalam konsep geopolitik dan militer China digunakan untuk menggambarkan garis pertahanan alami di sepanjang pesisir timur daratan Asia. (RNS)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *