AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Bangladesh (BAF) telah menyelesaikan kesepakatan dengan China Electronics Technology Group Corporation (CETC) untuk mendirikan pabrik manufaktur dan perakitan pesawat nirawak militer di dalam negeri.
Ditandatangani di Dhaka Cantonment pada 27 Januari 2026, perjanjian antarpemerintah ini mencakup transfer teknologi (ToT) lengkap, yang memungkinkan produksi lokal, pemeliharaan, dan dukungan siklus hidup berbagai platform drone di Bangladesh.
Dalam proyek drone ambisius ini, Pemerintah Bangladesh dilaporkan mengalokasikan anggaran sebesar Tk 608,08 crore (55 juta USD).
Dari jumlah tersebut, sekitar Tk 570,60 crore akan mencakup impor, instalasi, dan pengoperasian pabrik serta sistem teknologi terkait. Sisanya, sebesar Tk 37,47 crore akan digunakan untuk biaya lokal, termasuk surat kredit dan pajak pertambahan nilai.
Proyek ini akan mencakup pembuatan drone Medium Altitude Long Endurance (MALE) untuk operasi pengawasan dan pengintaian, dan drone Vertical Take-Off and Landing (VTOL) yang dioptimalkan untuk dukungan taktis dan operasi di medan yang sulit.
Meskipun jadwal operasional penuh belum diumumkan, para pejabat memperkirakan pembangunan dan produksi awal akan dimulai dalam 18 hingga 24 bulan ke depan.
Cukup menarik, salah satu drone kelas MALE yang diproduksi CETC adalah model XY-I, di mana desainnya serupa dengan Bayraktar TB2 dari Turkiye, yang telah teruji di Perang Rusia-Ukraina.
Drone XY-I sendiri baru diluncurkan ke hadapan publik saat dipamerkan dalam Airshow China 2022 di Zhuhai.
XY-I dirancang untuk digunakan dalam tugas dwifungsi di sektor militer atau sipil. Dapat menjalankan misi seperti pengintaian, pengawasan, patroli perbatasan, peperangan elektronik, komunikasi, dan peran penyerangan. (RBS)
