Menhan RI kunjungi Bosnia dan Herzegovina, ini produk pertahanan yang berpotensi dibeli Indonesia berikut transfer teknologi

Menhan RI kunjungi perusahaan amunisi di Bosnia dan HerzegovinaKemhan RI

AIRSPACE REVIEW – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, pada 11 Januari 2026 lalu, melakukan kunjungan kerja ke Bosnia dan Herzegovina. Dalam kunjungan tersebut Menhan Sjafrie mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Bosnia dan Herzegovina, Y.M. Zukan Helez, di Kantor Kementerian Pertahanan Bosnia dan Herzegovina.

Kedua pihak menegaskan kembali komitmen kuat kedua negara untuk terus meningkatkan dan memperkuat hubungan kerja sama di bidang pertahanan.

Selain itu keduanya melakukan tukar pandangan mengenai berbagai dinamika keamanan, baik di tingkat kawasan maupun global, tulis Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina

Kedua menteri menyepakati bahwa kerja sama pertahanan merupakan pilar penting dalam menjaga perdamaian, stabilitas serta membangun kepercayaan di antara negara-negara.

Pertemuan tersebut lebih lanjut membahas upaya untuk membangun kerangka kerja sama yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Salah satu fokus utama adalah penyusunan sebuah Nota Kesepahaman (MoU) yang akan menjadi landasan hukum bagi kolaborasi di masa depan.

MoU tersebut diharapkan dapat mendorong kerja sama praktis dalam berbagai bentuk, seperti dialog reguler, pertukaran informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta bentuk-bentuk keterlibatan lainnya yang akan dikembangkan secara bertahap.

Sebagai rangkaian dari kunjungan kerja ini, Menhan RI mengunjungi industri pertahanan Bosnia dan Herzegovina, Pretis d.d.

Menhan RI berharap kedua negara dapat mengeksplorasi peluang kerja sama industri pertahanan, termasuk dalam hal pengadaan, alih teknologi, maupun pengembangan bersama dengan memanfaatkan kapabilitas industri strategis Indonesia, seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL Indonesia.

Di sela-sela kunjungan ini, Sjafrie menyempatkan diri untuk mengunjungi Masjid Soeharto yang kemudian berganti nama menjadi Masjid Istiklal di Kota Sarajevo.

Masjid ini merupakan simbol persahabatan kedua negara, yang dibangun atas inisiatif Presiden RI Soeharto, dan diresmikan pada tahun 2001 oleh Menteri Agama RI pada masa itu, Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar.

Bagi Sjafrie Sjamsoeddin, kunjungan kerja ke Sarajevo ini juga memiliki arti cukup personal, mengingat ia merupakan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang mendampingi Presiden RI Soeharto ketika berkunjung ke Sarajevo pasca-Perang Bosnia pada tahun 1995.

Amunisi Berat

Industri pertahanan Pretis d.d. yang dikunjungi Sjafrie adalah merupakan perusahaan pertahanan yang memproduksi berbagai jenis amubnisi berat.

Dalam katalognya, perusahaan ini membagi amunisi yang diproduksinya ke dalam empat kelompok, yaitu Amunisi Artileri, Amunisi Mortir, Amunisi Tank, dan Amunisi Roket.

Untuk Amunisi Roket, Pretis.d.d. memproduksi beragam jenis amunisi HE, amunisi Asap, dan amunisi untuk Peneraangan. Antara lain sebagai berikut.

Amunisi 105 mm diigunakan untuk meriam artileri medan seperti Howitzer. Amunisi 122 mm untuk standar blok timur seperti meriam D-30 yang banyak digunakan secara global.

Kemudian amunisi 130 mm & 152 mm untuk artileri jarak jauh, dan amunisi 155 mm yang merupakan standar NATO, cukup relevan bagi Indonesia karena banyak alutsista terbaru TNI yang menggunakan kaliber ini seperti Caesar atau M109.

Untuk Amunisi Mortir, perusahaan ini memproduksi amunisi untuk jarak standar hingga jarak jauh, seperti amunisi 60 mm & 81 mm dan amunisi berat 120 mm.

Untuk Amunisi Tank, Pretis.d.d. memproduksi proyektil bagi tank tempur utama (MBT), khususnya amunisi 125 mm

Lalu untuk Amunisi Roket, perusahaan memproduksi amunisi untuk sistem peluncur roket multilaras (MLRS), termasuk amunisi 122 mm untuk GRAD dan amunisi 128 mm PLAMEN yang banyak digunakan di regional Balkan.

Amunisi 122 mm dapat digunakan digunakan oleh Korps Marinir TNI AL untuk sistem peluncur roket RM-70 Vampire/Grad. Amunisi ini juga dapat digunakan untuk roket roket R-Han 122B yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Kunjungan Sjafrie ke fasilitas Pretis d.d. sedikit banyak menunjukkan ketertarikan strategis Indonesia pada kemandirian stok munisi Bosnia dan Herzegovina.

Saat ini, Indonesia melalui PT Pindad sudah mampu membuat Munisi Kaliber Kecil (MKK), namun untuk Munisi Kaliber Besar (MKB), terutama standar 155 mm NATO dan 122 mm, masih dalam tahap pengembangan dan penguatan kapasitas produksi.

Kerja sama pertahanan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina bisa membuka jalan untuk transfer teknologi (ToT) dari negara pecahan Yugoslavia ini.

Dalam rilisnya, Kemhan RI menyebut kunjungan kerja Menhan RI ke Bosnia dan Herzegovina untuk menegaskan kebijakan pertahanan Indonesia yang terbuka terhadap penguatan kerja sama pertahanan dengan mitra internasional.

Hal ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, yang diharapkan segera ditindaklanjuti guna mendukung kepentingan pertahanan kedua negara dan perdamaian dunia. (RNS)

One Reply to “Menhan RI kunjungi Bosnia dan Herzegovina, ini produk pertahanan yang berpotensi dibeli Indonesia berikut transfer teknologi”

  1. “Kerja sama pertahanan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina bisa membuka jalan untuk transfer teknologi (ToT) dari negara pecahan Yugoslavia ini.”

    Pertanyaannya, adakah negara itu juga tertarik dengan alutsista buatan kita untuk mereka beli berikut ToT-nya? 🤔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *