Fenomena “Tom and Jerry” di Perang Ukraina, Rusia kerahkan truk EW GAZ-66 untuk mengawal penerbar ranjau Zemledeliye ISDM dari ancaman drone Ukraina

Rusia kerahkan Zemledeliye ISDM yang dikawal Truk EW GAZ-66Istimewa

AIRSPACE REVIEW – Sejak drone kecil yang dilengkapi amunisi muncul menjadi senjata murah namun berbahaya dalam perang modern, sistem persenjataan berat berbasis di darat yang berharga mahal menjadi rentan untuk hancur dalam sekejap.

Berbagai cara diupayakan untuk menangkal dan bahkan menghancurkan drone-drone murah tersebut lebih dulu. Paling tidak, dapat membuat kawanan drone yang datang lumpuh sistemnya dengan gangguan gelombang yang dipancarkan.

Ini pula yang baru-baru ini dilakukan Rusia dengan mengerahkan truk peperangan elektronik (EW) GAZ-66 sebagai pengawal khusus sistem penebar ranjau Zemledeliye ISDM dalam strategi pertahanan Rusia.

Sistem EW biasanya terintegrasi langsung pada kendaraan tempur atau disebar dalam unit besar.

Pengerahan truk GAZ-66 khusus ini menyoroti pentingnya payung pelindung bergerak guna menjaga unit peluncur ranjau, Zemledeliye.

Truk EW GAZ-66 memberikan perlindungan 360 derajat terhadap Zemledeliye yang sedang bekerja maupun saat berpindah tempat.

Pertanyaannya, kenapa sampai harus dikawal truk khusus? Sebab intensitas serangan drone FPV (first-person view) sudah mencapai tahap di mana sistem pertahanan internal kendaraan tidak lagi cukup. Terlebih, Zemledeliye ISDM memang tidak punya perlindungan antidrone internal.

Yang jadi masalah kemudian adalah, drone FPV kini bertransformasi dengan dilengkapi serat optik sebagai cadangan dari sistem sinyal radio antara operator dengan drone.

Kelebihan drone serat optik ini adalah kebal terhadap gangguan jamming elektromagnetik (frekuensi radio), sehingga di sisi yang lain kendaraan tempur Rusia banyak yang dilengkapi sisten jaring antidrone (Cope-Cages) sebagai lapisan pertahanan lapis terakhir jika perlindungan EW gagal.

Sesuai judul tulisan ini, mari kita analogikan Zemledeliye ISDM Rusia sebagai “Tom” dan Drone FPV serat optik Ukraina sebagai “Jerry”. Sementara Truk Gaz-66, ibaratkan saja sebagai pengawal pribadi (bodyguard) Tom dengan kaca mata hitamnya.

Jerry muncul dari balik semak-semak dengan baling-baling kecil yang berputar cepat, Nguuunggg…Nguuunggg!!. Jerry membawa palu godam (bom) dan siap menukik mengarah ke kepala Tom.

Sang pengawal yang menyadari kedatangan Jerry, dengan cekatan langsung menekan tombol jammer. Bzzz..!! Bzzz!!. Jerry tiba-tiba pusing, matanya berputar-putar dan muncul simbol “No Signal”. Jerry sempoyongan, menabrak pohon, dan akhirnya jatuh terjungkal ke tanah.

Tom tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk Jerry yang pingsan. Tom kemudian mulai menembakkan roket ranjaunya ke medan musuh dengan santai, Puff! Puff! Puff!

Namun karena Jerry ini adalah drone serat optik, Jerry seketika bangun lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena sedikit masih pusing.

Jerry kemudian mengeluarkan sebuah gulungan besar berisi kabel serat optik dari balik punggungnya. Dia lalu mengikatkan kabel itu ke sebuah tiang dan terbang lagi.

Bodyguard kaget melihat Jerry bisa terbang lagi. Ia segera menekan tombol jammer-nya, tapi anehnya Jerry tetap terbang mendekat ke arah Tom melewati gelombang EW yang dipancarkannya.

Tom akhirnya menyadari Jerry sudah ada di depan hidungnya dan melepaskan amunisi yang dibawanya, dan Boom!, Asap hitam mengepul. Tom terlihat gosong, bulunya berdiri semua. Jerry kini yang tertawa terbahak-bahak.

Ilustrasi cerita kartun tersebut menggambarkan bahwa perkembangan teknologi harus diantisipasi dengan teknologi lainnya yang lebih ampuh.

Senjata-senjata antidrone terus dikembangkan, tapi teknologi drone pun terus dikembangkan agar semakin kebal terhadap jammer.

Drone serat optik membawa kabel yang tergulung dalam wadah khusus. Kabel tembaga tipis ini dapat keluar dengan sangat mulus dari kotak gulungannya tanpa hambatan saat drone terbang. Mirip dengan mekanisme pelontar tali pancing atau rudal antiank seperti TOW (Tube-launched, Optically tracked, Wire-guided).

Perintah dari operator dikirim dalam bentuk pulsa cahaya melalui serat optik di dalam kabel. Karena cahaya tidak terpengaruh oleh frekuensi radio, drone ini menjadi “tuli” terhadap gangguan luar.

Sistem jammer bekerja dengan membanjiri target dengan frekuensi radio. Karena drone ini tidak menggunakan frekuensi radio, jammer secanggih apa pun tidak akan berpengaruh.

Drone radio memancarkan sinyal yang bisa dilacak oleh alat pengintai musuh untuk menemukan lokasi operator. Sedangkan drone serat optik tidak memancarkan sinyal radio, sehingga operatornya hampir mustahil dilacak secara elektronik.

Namun meskipun memiliki keunggulan, drone serat optik juga punya kelemahan. Jangkauan drone dibatasi oleh panjang kabel dalam gulungan yang biasanya hanya untuk 5–10 km saja.

Kabel yang digunakan tentu saja bisa putus jika tersangkut di dahan pohon yang tajam, putus terkena baling-baling drone itu sendiri, atau jika drone melakukan manuver ekstrem yang melewati tajamnya sudut bangunan, dan karena sebab lainnya. So, ada kelebihan, ada kekurangannya juga.

Namun bagi Rusia, paling tidak, dengan pengerahan Truk EW GAZ-66, peluncur ranjau Zemledeliye ISDM lebih aman karena drone penyerang pun tidak selalu drone serat optik.

Prajurit Rusia pun bisa menggunakan senjata antidrone personel lainnya untuk melumpuhkan drone yang datang.

Ah seru deh, Tom and Jerry masih banyak episodenya. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *