AIRSPACE REVIEW – Pada 24 Januari 2026, Angkatan Udara Rusia telah meluncurkan 12 rudal jelajah Kh-22/Kh-32 dari pesawat pembom strategis Tu-22M3 menuju wilayah Kyiv, menandai penggunaan pertama jenis rudal ini terhadap target di dekat ibu kota Ukraina tersebut.
Pasukan pertahanan udara Ukraina mengatakan berhasil mencegat sembilan rudal, menggunakan sistem pertahanan udara yang dipasok oleh Barat, sedangkan tiga rudal lainnya diklaim tidak mencapai target yang dituju.
Rusia sendiri sepertinya menghabiskan stok rudal jumbo yang dibangun semasa Uni Soviet ini. NATO menjuluki Kh-22 sebagai AS-4, sedangkan Kh-32 adalah versi upgrade-nya.
Rudal Kh-22 dirancang oleh MKB Raduga, semasa Uni Soviet masih berdiri, yang mulai diproduksi tahun 1962. Rudal awalnya dirancang sebagai senjata antikapal untuk menyerang kapal induk AS.
Ketika perannya diubah untuk misi serangan udara ke darat, rudal ini bergantung pada sistem pemandu yang tidak dioptimalkan untuk serangan presisi terhadap target darat.
Para pejabat militer Ukraina mengatakan bahwa pesawat-pesawat pengebom Rusia juga harus terbang dekat perbatasan Ukraina untuk meluncurkan rudal pada jarak maksimum.
Ditambahkan, bahwa probabilitas kesalahan melingkar (CEP) rudal ini tinggi, sehingga meningkatkan risiko terhadap daerah sipil ketika digunakan terhadap target darat.
Baik Kh-22 dan Kh-32 secara eksklusif untuk dibawa oleh pesawat pembom jarak jauh bersayap geometri variabel Tu-22M3 dan pembom strategis varian Tu-95K-22.
Untuk spesifikasinya, Kh-22/Kh-32 memiliki bobot 5.820 kg, panjang 11,65 m, diameter 92 cm, dan dimuati hulu ledak seberat 1.000 kg
Rudal yang dilengkapi motor roket berbahan bakar cair R-201 ini mampu melesat hingga 4,6 Mach (5.600 km/jam), dengan jangkauan tembak hingga 600 km saat diluncurkan dari ketinggian 10.000 m – 14.000 m. (RBS)

