AIRSPACE REVIEW – Ethiopia mengakuisisi pesawat nirawak intai dan serang Orion-E dari Rusia, menandai ekspor terverifikasi pertama dari sistem drone tersebut.
Sebuah Orion-E turut dipamerkan dalam Aviation Expo 2026 pada 23 Januari di Addis Ababa, untuk merayakan ulang tahun ke-90 Angkatan Udara Ethiopia (ETAF90).
Orion-E adalah varian ekspor dari keluarga drone Orion yang dikembangkan oleh Kronshtadt Group Rusia. Drone ini tergolong jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance).
Sistem ini melakukan penerbangan pertamanya pada tahun 2016 dan sejak itu telah digunakan oleh pasukan Rusia dalam operasi tempur, termasuk penempatan di Suriah dan Ukraina.
Drone memiliki berat lepas landas maksimum (MTOW) 1.200 kg dan ditenagai sebuah mesin piston APD-115T. Bentang sayap utamanya 16 m serta mengadopsi ekor model V.
Orion bisa terbang selama 24 jam di ketinggian maksimum 7.500 m dan jangkauan operasi sejauh 250 km, dengan membawa muatan hingga 200 kg.
Drone dibekali sistem pemantauan elektronik stabil MOES multi kanal yang dirancang oleh Precision Instrument-Manufacturing System Corp, untuk mendeteksi dan melacak target siang dan malam dan memberikan panduan untuk senjata.
Salah satu persenjataan yang bisa dibawa Orion adalah Vikhr-M 9K121 (NATO: AT-16 Scallion), rudal antitank berpemandu laser yang sudah menjadi andalan heli serang Mi-24, Mi-28, Ka-52 dan pesawat serang darat Su-25T.
Rudal ini dirancang untuk menyerang target lapis baja yang dilengkapi dengan pelindung reaktif eksplosif (ERA). Dapat ditembakkan pada jarak 8 km dari helikopter dan 10 km dari drone atau jet serang. (RBS)

