AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui kemungkinan penjualan militer (FMS) kepada Pemerintah Singapura senilai total 2,316 miliar USD (sekitar Rp36 triliun).
Kabar ini telah diumumkan oleh Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA) kepada Kongres AS pada 20 Januari 2026 dan diberitakan melalui lamannya.
Potensi paket penjualan terhadap Singapura ini mencakup empat unit Pesawat Patroli Maritim (MPA) P-8A Poseidon dan 8 unit torpedo ringan MK 54, sistem canggih (AN/APY-10), sensor peringatan rudal, sistem akustik, mesin cadangan, dan perangkat lunak misi taktis.
Paket tersebut juga termasuk pelatihan personel, suku cadang, serta bantuan teknis dan teknik dari pemerintah AS dan kontraktor.
Pesawat P-8A Poseidon pesanan Singapura akan diproduksi oleh Boeing, sementara torpedo akan diambil langsung dari stok Angkatan Laut AS.
DSCA menjelaskan, FMS ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Singapura dalam menghadapi ancaman maritim saat ini maupun masa depan, serta memperkuat pertahanan nasional.
Selain itu, dengan pesawat P-8A akan memudahkan militer Singapura untuk bekerja sama (interoperabilitas) dengan pasukan AS dan sekutunya dalam operasi gabungan.
Dalam hal stabilitas politik, AS memandang Singapura sebagai mitra strategis yang penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Asia.
Penjualan ini dikatakan tidak akan mengubah keseimbangan dasar militer di kawasan tersebut.
Sekitar 14 perwakilan dari Pemerintah AS dan kontraktor akan ditempatkan di Singapura selama kurang lebih dua tahun untuk mendukung pengoperasian pesawat, pemeliharaan, serta pelatihan logistik.
Mengamankan Ekonomi
Mungkin kita akan bertanya-tanya, buat apa sih Singapura negara dengan luas yang kecil sampai membeli empat pesawat patroli maritim P-8A Poseidon yang canggih dari AS berikut torpedonya.
Memangnya Singapura punya wilayah laut seberapa luas hingga membutuhkan pesawat patroli maritim yang banyak? Apakah Singapura punya musuh dan ada negara yang mengancamnya secara nyata?
–(Maaf ya, sekalian curcol, tetangganya saja yang punya luas negara 2.611 kali lipat dari luas singapura, atau 9.846 kali lipat luas lautnya dibanding luas perairan Singapura, gak punya tuh P-8a atau sekelasnya, hadeuuuhhh…)–
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar, seperti halnya mengapa Singapura memiliki pesawat tempur yang banyak, dan sebentar lagi akan menerima pengiriman jet tempur siluman F-35 pesanannya, toh negaranya kecil.
Perlu kita pahami bahwa meskipun Singapura adalah negara dengan luas wilayah yang kecil, bahkan menjadi negara terkecil di Asia Tenggara, yaitu 734,3 km2 (kurang lebih seluas Batam yang memiliki luas 715 km², atau setara Samarinda seluas 718 kmn2), Negeri Singa memainkan peranan yang sangat besar di kawasan.
Keputusan mereka untuk membeli P-8A Poseidon, salah satu MPA tercanggih di dunia, sangat masuk akal jika kita melihat posisi geografis dan ketergantungan ekonomi Singapura.
Singapura adalah negara pelabuhan yang ekonominya bergantung pada keamanan jalur pelayaran. Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan titik tersempit (chokepoint) perdagangan dunia. Gangguan sekecil apa pun, termasuk pembajakan, terorisme maritim, atau blokade, bisa melumpuhkan ekonomi mereka.
P-8A memiliki daya jelajah yang jauh dan waktu mengudara (endurance) yang lama, yaitu hingga 10 jam tanpa henti. Kemampuan ini memungkinkan Singapura untuk dapat memantau area yang jauh lebih luas dari sekadar perairan teritorialnya guna memastikan kapal dagang aman menuju pelabuhan mereka.
Perlu kita pahami juga bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah meningkatkan akuisisi persenjataan militernya, termasuk pembelian kapal selam. Selain itu, fakta lainnya adalah agresifitas Tiongkok yang semakin gencar meningkatkan kekuatan militer lautnya dan hadir semakin jauh di wilayah lautan.
Pendeteksian secara dini, dalam konteks kewaspadaan, terhadap kemungkinan adanya kapal-kapal asing yang berniat jahat terhadap Singapura mendorong negara ini untuk mengakuisisi P-8A. Kita tahu, Poseidon adalah pesawat “pemburu kapal selam” terbaik di kelasnya, selain fungsinya sebagai MPA.
Dengan sensor akustik dan torpedo MK 54 yang ikut dibeli, Singapura ingin memastikan tidak ada ancaman bawah air di sekitar perairan mereka.
P-8A bagi Singapura, juga bukan sekadar pesawat MPA saja, melainkan sebagai “pusat data terbang” di udara mengingat wilayah daratannya yang kecil.
Pesawat P-8A Poseidon dilengkapi dengan radar AN/APY-10 yang bisa mendeteksi dan mengklasifikasi target berupa kapal besar dari jarak sangat jauh, hingga lebih dari 200 mil laut (370 km).
Sementara untuk kapal kecil hingga jarak 55-92 km. Radar AN/APY-10 juga dapat mendeteksi munculnya periskop kapal selam di permukaan laut hingga puluhan kilometer jauhnya, meskipun di tengah gelombang laut yang tinggi.
Radar AN/APY-10 mampu melacak hingga 256 target secara bersamaan sambil terus memindai area lain. Artinya, dari satu pesawat di atas Selat Malaka saja, Singapura bisa memantau ratusan pergerakan kapal secara real-time.
Dengan memiliki armada P-8A, Singapura tentunya dapat memantau pergerakan kapal militer asing atau aktivitas mencurigakan di Laut China Selatan yang berbatasan langsung dengan kepentingan ekonomi mereka.
Singapura bisa memantau aktivitas maritim di jalur internasional tanpa perlu menerbangkan pesawat masuk ke wilayah udara negara tetangga secara fisik, karena “mata” radarnya bisa melihat sangat jauh dari posisi aman. Terlebih lagi, bila pesawat ini terbang di koridor/wilayah udara internasional, cakupan deteksinya akan lebih jauh lagi, dan ini sangat berguna untuk menangkal berbagai ancaman yang datang.
Lalu mengenai interoperabilitas, sebagaimana disebutkan oleh DSCA tadi, ini terkait dengan doktrin pertahanan yang sangat mengandalkan kemitraan strategis.
Seperti kita tahu, Amerika Serikat, Australia, dan India sudah mengoperasikan P-8A, yang artinya dengan memiliki pesawat ini Singapura pun dapat berbagi data secara waktu nyata dan melakukan operasi gabungan dengan standar yang sama dengan negara-negara sekutu tersebut jika terjadi krisis di kawasan.
Pembelian empat pesawat P-8A oleh Singapura, di sisi yang lain didorong oleh akan berakhirnya masa operasional pesawat patroli maritim Fokker 50 Enforcer MK2 yang sudah sangat tua, yang sudah dioperasikan Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) sejak era 1990-an.
Doktrin Pertahanan “Udang Beracun”, “Landak”, hingga “Lumba-lumba”
Apakah Singapura memandang China sebagai ancaman, seperti halnya Amerika Serikat? Ini tentunya menarik untuk dikupas, karena seperti kita tahu Singapura adalah sekutunya AS di kawasan Asia Tenggara, sedangkan AS memandang China secara nyata sebagai musuhnya (atau mungkin rival yang mengancam?).
Posisi Singapura terhadap China sebenarnya dapat dikatakan sangat unik dan penuh perhitungan. Singapura tidak pernah secara terbuka menyebut China sebagai “ancaman” (threat) baginya, melainkan lebih memandangnya sebagai “tantangan strategis” (strategic challenge) yang harus dikelola dengan sangat hati-hati.
Singapura menerapkan prinsip diplomasi yang sangat disiplin dan penuh kehati-hatian untuk tidak memihak dalam rivalitas AS-China. Kita tahu, China adalah mitra dagang terbesar Singapura. Ekonomi Singapura sangat bergantung pada stabilitas ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Sementara dengan Amerika Serikat, Singapura mengandalkan Gedung Putih dan Pentagon sebagai penjamin keamanan regionalnya. Singapura membeli banyak peralatan militer dari AS dan menempatkan sebagian besar armada tempur udaranya di AS dan di pangkalan udara sekutu (Australia).
Singapura tidak punya konflik dengan China di Laut China Selatan, karena Singapura bukan negara pengklaim (claimant state) wilayah perairan di Laut China Selatan. Meski demikian, mereka sangat khawatir dengan aktivitas militer Tiongkok di sana.
Sebagai negara yang hidup dari perdagangan laut, Singapura memandang klaim sepihak China sebagai risiko terhadap jalur pelayaran internasional. Maka, Singapura terus mendesak agar semua pihak, termasuk China, menghormati hukum internasional (UNCLOS 1982).
Memasuki tahun 2026, Singapura juga semakin waspada terhadap potensi konflik di Selat Taiwan, karena memiliki kerja sama pelatihan militer yang lama dengan Taiwan, yaitu Project Starlight. Eskalasi ketegangan antara Beijing dan Taipei bisa menempatkan posisi Singapura dalam situasi yang sangat sulit.
Dalam posisinya yang dilematis, ditambah dengan geografisnya yang “terjepit”, Singapura sejak lama memilih untuk menerapkan doktrin pertahanan “Kelinci yang Memiliki Gigi”.
Metafora tersebut sering digunakan oleh para pengamat militer untuk menggambarkan Singapura yang terlihat kecil, lucu, dan tidak mengancam seperti kelinci, tetapi memiliki gigitan yang sangat tajam dan mematikan jika diserang.
Bila kita bedah lebih jauh, dalam doktrin resmi Angkatan Bersenjata Singapura (SAF), mereka sebenarnya menggunakan metafora biologi yang berevolusi sesuai dengan kekuatan militer yang dimilikinya.
Para pemimpin Singapura, termasuk Bapak Singapura, Lee Kuan Yew, sengaja menggunakan metafora biologi ini untuk memudahkan rakyat Singapura yang mengikuti Wajib Militer memahami mengapa mereka harus menghabiskan anggaran sangat besar untuk militer.
Di era tahun 1960-an hingga 1970-an, Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menerapkan doktrin pertahanan “Survival & Deterrence” yang dimetaforakan sebagai “Udang Beracun” (Poison Shrimp).
Ini adalah doktrin awal setelah Singapura merdeka. Sebagai negara yang sangat kecil, mereka sadar tidak bisa menang melawan negara besar.
Dengan doktrin “Poison Shrimp” Singapura ingin mengatakan bahwa jika Anda memakan saya, maka Anda akan mati. Singapura memosisikan diri sebagai udang kecil di tengah laut yang penuh ikan besar. Udang ini mungkin akan dimakan, tetapi ia mengandung racun yang akan membunuh pemangsanya.
Memasuki era 1980-an hingga 1990-an, Singapura bertransformasi menerapkan doktrin pertahanan yang baru “Operational Readiness & Conventional Deterrence” seiring pembelian jet tempur modern F-16 Fighting Falcon dan tank Leopard kala itu, dan dimetaforakan sebagai “Landak” (Porcupine)
Dengan doktrin ini, Singapura ingin menyampaikan pesan kepada negara lain untuk tidak coba-coba menyentuh atau menggangunya. Sebab, bila Anda mengganggu saya, maka Anda akan tertusuk.
Kemudian, memasuki era 2000-an hingga saat ini, doktrin pertahanan yang diterapkan oleh Singapura adalah “3rd Generation SAF/Integrated Force” yang dimetaforakan sebagai “Lumba-lumba” (Dolphin).
Mengapa lumba-lumba? Mamalia laut ini memiliki filosofi cepat, cerdas, dan mampu memukul jauh di luar wilayah sendiri. Logikanya, lumba-lumba adalah hewan yang lincah, memiliki sensor (sonar) yang sangat tajam, dan bisa berenang jauh.
Maknanya, Singapura tidak lagi menunggu musuh datang ke pintu rumahnya. Dengan pesawat seperti P-8A Poseidon sebagai “sonar” jarak jauh dan jet tempur canggih F-35, mereka bisa mendeteksi dan menghancurkan ancaman jauh di laut lepas sebelum ancaman itu mendekati negara Singapura.
Itulah kira-kira yang dapat kita pahami dari Singapura, sehingga nanti tidak ada lagi yang bingung mengapa Singapura, negara yang sering disebut “The Little Red Dot”, memiliki armada tempur yang melebihi luas negaranya. Sampai di sini paham kan ya… (RNS)


Apa kabar pengadaan P-6 MPA yang digadang-gadang memperkuat lini patroli maritim udara TNI-AL tahun lalu? C-295 MPA yang dikabarkan akan dibeli juga belum ada kelanjutannya hingga saat ini, masih “betah” pakai CN-235-220 Patmar dan CN-235 MPA plus B737-2X9 rupanya di saat tetangga di dua tempat sudah pakai P-8A Poseidon yang lebih mutakhir. Brarti, rumput tetangga lebih hijau itu memang benar adanya 😂
Saya sebagai orang Indonesia bangga atas kemajuan tetangga kita, next Filipina dan Malaysia mesti punya untuk menjaga perbatasan utara kita. Kalau mereka punya lengkap sudah perbatasan utara dijaga Malaysia, Singapura, Filipina, untuk wilayah selatan dijaga oleh Australia.