Bedah teknologi rudal hipersonik CPS pada USS Zumwalt: Masih kalah dari rudal Zircon Rusia?

Rudal hipersonik CPS AS vs Zircon RusiaIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Pada Januari 2026, kapal perusak Amerika Serikat, USS Zumwalt (DDG-1000) telah memasuki babak baru yang sangat krusial setelah menjalani modifikasi besar selama lebih lebih tiga tahun.

Kapal perusak (destroyer) ini awalnya dirancang untuk dukungan tembakan darat dengan meriam canggih Advanced Gun Systems (AGS).

Namun, karena biaya amunisi yang terlalu mahal, Angkatan Laut AS (US Navy) kemudian mengubah total peran kapal tersebut mejadi kapal peluncur rudal hipersonik Conventional Prompt Strike (CPS). Inilah kapal perang AS pertama yang dapat meluncurkan rudal hipersonik!

Untuk menjadikannya sebagai kapal peluncur rudal hipersonik CPS, dua meriam besar Sistem Senjata Canggih (AGS) 155 mm di bagian depan kapal Zumwalt dicopot terlebih dahulu.

Sebagai gantinya lalu dipasang tabung peluncur CPS dengan kapasitas 12 rudal. Rudal ini mampu terbang dengan kecepatan di atas Mach 5 dan menjangkau jarak hingga lebih dari 2.700 km.

Berbeda dengan kapal Rusia, USS Zumwalt memiliki desain siluman. Hal ini menjadi kelebihan tersendiri dari kapal perursak tersebut untuk digunakan sebagai platform peluncur rudal hipersonik. Keberadaan Zumwalt di lautan, akan lebih sulit dideteksi dibanding kapal perang permukaan konvensional.

Berdasarkan laporan terbaru dari galangan kapal Ingalls Shipbuilding, instalasi modul peluncur rudal hipersonik pada USS Zumwalt dinyatakan telah selesai pada akhir 2025 lalu.

Untuk diketahui, peluncur yang dipasang pada USS Zumwalt ini identik dengan yang digunakan pada kapal selam nuklir kelas Virginia Block V.

Pada Januari 2026 ini, kapal tersebut telah meninggalkan dok kering di Pascagoula untuk memulai uji coba laut (sea trials) dengan konfigurasi persenjataan barunya.

Targetnya, sistem rudal hipersonik CPS di USS Zumwalt akan siap digunakan secara operasional penuh pada akhir tahun 2026 atau awal 2027.

Setelah pengujian pada DDG-1000 selesai, rencananya modifikasi yang sama akan dilakukan pada dua kapal perusak kelas Zumwalt lainnya, yaitu USS Michael Monsoor (DDG-1001) dan USS Lyndon B. Johnson (DDG-1002).

Kapal perusak kelas Zumwalt merupakan destroyer paling modern dan paling mahal yang dimiliki AS.

Kapal ini dirancang dengan teknologi stealth radikal yang membuatnya terlihat hanya sebesar kapal nelayan di radar lawan, meskipun ukurannya jauh lebih besar dari kapal perusak biasa.

Desain kapal Zumwalt terbilang unik dan tidak lazim karena mengecil ke atas, terbalik dari desain kapal tradisional. Desain ini diklaim dapat memantulkan gelombang radar.

Berkat material komposit dan bentuk sudutnya, kapal sepanjang 180 m ini 50 kali lebih sulit dideteksi radar dibandingkan kapal perusak kelas Arleigh Burke.

Kapal perusak kelas Zumwalt menggunakan turbin gas Rolls-Royce yang menghasilkan listrik besar 78 megawatt, atau cukup untuk menyalakan sebuah kota kecil.

Bukan untuk Mengejar Zircon

Terkait rudal CPS, bila kita bandingkan dengan rudal hipersonik 3M22 Zircon, dari segi kecepatan terbangnya ternyata masih kalah.

Rudal CPS mampu terbang dengan kecepatan 5+ Mach, namun rudal Zircon terbang dengan kedepatan lebih tinggi lagi yaitu berkecepatan 8-9 Mach.

Kedua rudal penyerang ini dirancang sebagar rudal untuk menghancurkan target di permukaan darat atau laut. Artinya, rudal CPS tidak dirancang untuk “mengejar” atau mencegat rudal Zircon.

Rudal CPS dirancang untuk menyerang target bernilai tinggi dari jarak sangat jauh dengan kecepatan luar biasa. Tujuannya adalah menghancurkan target sebelum musuh sempat melakukan aksi (pre-emptive strike). Fungsi yang sama berlaku untuk rudal Zircon.

Jadi, rudal CPS tidak akan mengejar rudal Zircon atau sebaliknya. Kedua rudal ini sejatinya adalah untuk berlomba mencapai target masing-masing.

Rusia beberapa langkah lebih maju dibanding AS, karena rudal Zircon dapat diluncurkan dari kapal perang permukaan, kapal selam, maupun dari platform peluncur rudal berbasis di darat.

Kapal perang permukaan Rusia yang pertama dilengkapi rudal Zircon adalah fregat kelas Admiral Gorshkov.

Setelah itu rudal Zircon juga diintegrasikan pada kapal penjelajah nuklir kelas Kirov, seperti Admiral Nakhimov dan Pyotr Velikiy yang sedang dimodernisasi untuk membawa hingga puluhan rudal ini.

Rudal Zircon juga melengkapi sejumlah korvet Rusia, seperti korvet kelas Gremyashchiy.

Semenara untuk kapal selam, rudal Zircon telah melengkapi kapal kelas Yasen (Project 885/885M), yang merupakan kapal selam nuklir penyerang tercanggih Rusia.

Uji coba peluncuran rudal Zircon sukses pertama dilakukan dari kapal selam Severodvinsk pada tahun 2021.

Kapal selam lain yang juga dilengkapi rudal Zircon adalah kapal kelas Oscar II yang telah dimodernisasi.

Untuk peluncuran dari darat, Rusia telah memodifikasi peluncur bergerak Bastion, yang biasanya membawa rudal Oniks, kini juga mampu meluncurkan rudal Zircon.

Dari sisi perbandingan teknologi, rudal CPS menggunakan roket pendorong untuk mencapai ketinggian ekstrem, lalu melepaskan glide vehicle yang meluncur turun ke target, yaitu yang dinamakan Two-stage solid rocket booster + Hypersonic Glide Vehicle (HGV).

Sementara rudal Zircon berkecepatan lebih tinggi, menggunakan mesin scramjet untuk mempertahankan kecepatan di ketinggian yang lebih rendah, yaitu menggunakan Solid-fuel booster + Liquid-fuel Scramjet.

Namun dari sisi jangkauan, rudal CPS lebih unggul karena mampu mencapai jarak lebih jauh, yaitu 2.700 km dibanding jarak jangkau Zircon yang maksimum di angka 1.000 km.

Dari segi penggunaan, rudal Zircon lebih siap karena rudal ini sudah diuji coba dan resmi beroperasi sejak tahun 2023. Sementara rudal CPS belum dinyatakan siap beroperasional, menunggu tahapan sea trials USS Zumwalt selesai.

Pertanyaan berikutnya, kalau rudal CPS dirancang bukan untuk menangkal rudal Zircon, lalu siapa yang bertugas untuk menangkal rudal hipersonik Rusia tersebut?

Tugas tersebut masih dipercayakan kepada sistem pertahanan rudal AS seperti rudal SM-6, yang saat ini dianggap sebagai rudal yang paling mampu menghadapi ancaman hipersonik Rusia di fase akhir. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *