ARISPACE REVIEW – Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev baru-baru ini mengunjungi Pabrik Elektromekanik Terter yang memproduksi berbagai produk pertahanan, salah satunya adalah sistem senjata energi terarah untuk melawan drone kecil.
Yang pertama adalah sistem senjata laser antidrone bergerak yang dipasang pada kendaraan lapis baja yang dinamai Pulsar.
Meski karakteristiknya belum diumumkan, ada kemungkinan sistem ini dikembangkan dari Fireforce yang telah diperkenalkan pada 2024, karena secara tampilan memiliki kesamaan.
Bila Fireforce benar digunakan dalam pembuatan Pulsar, maka senjata tersebut memiliki daya 30 kilowatt, jangkauan hingga 1 km, dan berat total seluruh instalasi mencapai 900 kg.
Untuk mendeteksi target, Pulsar memiliki empat stasiun radar kecil dengan antena susunan bertahap aktif, yang diarahkan ke segala arah.
Sedangkan sistem senjata kedua berupa perangkat gelombang mikro bergerak yang disebut sebagai Magic Beam yang dipasang pada kendaraan taktis ringan.
Perangkat ini dirancang untuk benar-benar membakar komponen elektronik dalam drone menggunakan gelombang mikro. Namun spesifikasinya juga belum diumumkan.
Macic Beam memiliki ukuran yang relatif kecil, yang seharusnya memengaruhi daya radiasinya, jangkauannya, efektivitasnya, dan jumlah drone yang dapat dicegatnya secara bersamaan.
Antena pada Macic Beam memiliki bentuk piringan, yang berarti bahwa untuk membidik target, antena tersebut harus diarahkan secara mekanis dengan tepat ke target untuk memfokuskan pancaran gelombangnya.
Hal ini juga memengaruhi kemampuan untuk menangkal sekumpulan drone sekaligus, karena sistem perlu secara bertahap menargetkan setiap drone secara individual.
Dengan keberhasilan pengembangan senjata laser dan gelombang mikro ini, Azerbaijan termasuk segelintir negara yang sanggup mengembangkan senjata antidrone generasi baru secara mandiri. (RBS)

