China mengklaim jet tempur siluman J-20 beroperasi di dekat Taiwan tanpa terdeteksi, Taipei: Kampanye disinformasi Beijing

J-20Istimewa

AIRSPACE REVIEW – China mengklaim jet tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon tidak terdeteksi oleh Taiwan saat dikerahkan dalam latihan militer “Misi Keadilan 2025” baru-baru ini di sekitar negara yang disebut Tiongkok sebagai salah satu provinsinya.

Selama latihan itu, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat merilis sebuah video yang menunjukkan pesawat J-20 terbang di atas area yang tidak diketahui.

Dengan cepat, para pengamat dan tokoh pro-Beijing mulai mengklaim bahwa gambar tersebut diambil di dekat Pingtung, di Taiwan selatan, sebuah wilayah yang menjadi lokasi beberapa instalasi militer paling sensitif di pulau itu.

Materi tersebut menyebar di media sosial Tiongkok dan internasional, disertai komentar yang mengejek dugaan ketidakmampuan pasukan Taiwan untuk mendeteksi pesawat siluman tersebut.

Namun, belum ada konfirmasi independen mengenai lokasi gambar tersebut, maupun pernyataan resmi terperinci dari Kementerian Pertahanan Taiwan atau pimpinan militer Tiongkok.

Latihan “Justice Mission 2025” telah menarik perhatian karena cakupan dan intensitasnya. Penilaian oleh lembaga pemikir pertahanan menyoroti bahwa manuver tersebut mencakup operasi udara, laut, dan rudal di sekitar pulau tersebut, dan ditafsirkan sebagai latihan opsi paksaan, termasuk skenario blokade.

Dalam konteks ini, perilisan video dan narasi tentang kemampuan siluman J-20 sesuai dengan strategi tekanan informasi yang lebih luas terhadap Taiwan dan sekutunya.

Chengdu J-20 adalah jet tempur generasi kelima pertama yang dikembangkan oleh China. Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada Januari 2011.

Sejak itu, program J-20 telah berkembang pesat. Armada operasionalnya telah melebihi seratus pesawat, dengan produksi yang berjalan stabil dan indikasi peningkatan bertahap pada sensor, avionik, dan integrasi jaringan.

J-20 dirancang untuk mengurangi jejak radar dan inframerahnya, serta beroperasi secara terhubung dengan platform China lainnya, seperti pesawat peringatan dini, drone, satelit, dan sistem peperangan elektronik.

Berbeda dengan pernyataan Beijing, Taipei menyebut klaim China sebagai kampanye disinformasi, walaupun belum ada publikasi publik terkait J-20.

Selama latihan militer itu, Taiwan mengklaim telah mendeteksi sejumlah jet tempur PLA, termasuk J-16 yang canggih.

Dalam insiden yang dilaporkan sebelumnya, sebuah F-16V Angkatan Udara Taiwan berhasil melacak J-16 China menggunakan pod penargetan AN/AAQ-33 Sniper, yang menunjukkan kemampuan pengawasan dan pelacakan target udara.

Menurut beberapa analis Taiwan, hal ini tidak berarti bahwa pesawat tempur siluman China tidak terdeteksi. Militer jarang mengungkapkan semua detail tentang apa yang dideteksi oleh sensornya, karena hal ini dapat mengungkap kemampuan, keterbatasan, dan pola operasional.

Kontroversi seputar J-20 menggambarkan bagaimana meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan tidak terbatas pada domain militer, tetapi meluas ke bidang informasi. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *