Kantongi pesanan untuk 220 pesawat, Dassault percepat produksi Rafale: 300 unit telah diproduksi, ini kunci kesuksesannya

Rafale Indonesia

AIRSPACE REVIEW – Dassault Aviation dari Prancis mempercepat produksi jet tempur Rafale karena permintaan internasional yang kuat, selain kebutuhan untuk memenuhi pesanan di dalam negeri.

Peningkatan jumlah produsi Rafale secara konsisten terus dilakukan seiring upaya penambahan fasilitas manufakturnya.

Tahun 2024, Dassault berhasil memproduksi sebanyak 21 Rafale, lalu pada tahun 2025 meningkat menjadi 26 unit. Di tahun 2026 ini perusahaan mengatakan produksi Rafale akan ditingkatkan lagi dengan target jangka menengah mencapai 36 unit per tahun atau tiga unit per bulan.

Dassault tidak mengatakan secara spesifik berapa unit target produksi Rafale untuk tahun ini, namun yang pasti jumlah produksi Rafale akan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Hingga Oktober 2025 lalu, Dassault telah membukukan pesanan Rafale untuk 220 unit. Dari jumlah ini, sebanyak 175 unit merupakan pesanan negara asing. Sementara 45 lainnya untuk kebutuhan dalam negeri, yaitu untuk Angkatan Udara dan Antariksa Prancis, serta untuk Angkatan Laut Prancis.

Kontrak Rafale terbaru yang paling signifikan datang dari India, yang menyelesaikan kesepakatan untuk akuisisi 26 jet tempur Rafale M untuk operasi berbasis di kapal induk Angkatan Laut India.

Pesanan ini akan diselesaikan Dassault hingga akhir dekade di mana Prancis tidak hanya mengirimkan pesawatnya saja, melainkan juga mengirimkan persenjataan, paket dukungan logistik, pelatihan, dan integrasi dengan armada Rafale B/C yang sudah dioperasikan oleh Angkatan Udara India.

Pasar lainnya tetap menjadi perhatian. Kontrak untuk sekitar 14 jet tempur Rafale F4 pesanan Irak, misalnya, hampir selesai.

Selain itu, negara-negara lainnya yang sudah memesan Rafale termasuk Indonesia dengan 42 unit pesanan, akan dipenuhi pengiriman seluruh pesanannya sebelum dekade berakhir, yakni pada tahun 2029.

Indonesia diberitakan akan menambah 18 unit lagi sehingga total pesanan menjadi 60 Rafale. Saat ini tiga unit Rafale B (kursi tandem) dan satu Rafale C (kursi tunggal) pesanan Indonesia telah selesai dibuat dan dalam persiapan untuk dikirimkan ke Jakarta. Pelatihan pilot dan teknisinya pun telah selesai dilaksanakan.

Di tahun 2026, Dassault juga masih punya peluang besar dari India dengan rencana New Delhi, apabila jadi, yang akan memesan 114 Rafale tambahan.

Media memberitakan, program ini akan mendapat kepastian pada saat kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke India untuk melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, dalam waktu dekat.

Selain India dan Indonesia yang telah disebutkan, masih banyak negara lain yang telah menyatakan minat mereka pada jet tempur Omnirole generasi 4,5 dari Prancis ini.

Dulu Sepi Peminat

Larisnya jet tempur Rafale di pasar internasional, telah menarik perhatian banyak pengamat pertahanan. Padahal, dulu pesawat ini hampir tidak ada yang berminat untuk mengakuisisinya, sampai-sampai presiden Prancis kala itu menyatakan bahwa sekitar tahun 2010-an produksi Rafale akan dihentikan bila tak kunjung mendapat pembeli dari luar negeri.

Rafale diproduksi pertama kali pada tahun 1986 dengan pesawat prototipe Rafale A mengudara pada 4 Juli 1986 alias 40 tahun yang lalu.

Butuh waktu lama bagi Rafale untuk digunakan oleh militer Prancis. Pengiriman pesawat operasional pertama, yaitu Rafale M, oleh Dassault kepada Angkatan Laut Prancis baru terlaksana pada tahun 2024, alias 18 tahun kemudian setelah penerbangan perdana Rafale A.

Sementara Rafale B/C pertama kali dikirimkan ke Angkatan Udara Prancis pada tahun 2006 atau 20 tahun sejak prototipe pertama Rafale mengudara.

Pamor Internasional di Libya

Rafale mulai mendapatkan pamor internasional setelah pesawat ini dikerahkan Prancis dalam operasi militer bersandi Operation Harmattan di Libya tahun 2011.

Operasi Harmattan diluncurkan oleh Prancis dalam rangka menegakkan dan melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 1973 tahun 2011.

Tujuan dari operasi tersebut adalah untuk menjalankan dua mandat PBB, yaitu mendirikan zona larangan terbang (No-Fly-Zone) dan memberikan perlindungan kepada warga sipil Libya yang berada di bawah ancaman serangan dari pasukan pro-Gaddafi.

Seperti diketahui, Libya yang saat itu dipimpin oleh Muammar Gaddafi menggunakan pesawat tempur maupun helikopter untuk menyerang warga sipil :ibya dan kelompok pemberontak.

Dalam operasi militer itu, Prancis mengerahkan sejumlah besar aset udaranya ke Libya, dan Rafale menjadi tulang punggung kekuatan udaranya sekaligus menjadi bintang di sana.

Sebanyak 4-6 Rafale B/C dikerahkan ke Pangkalan Udara Saint-Dizier untuk memulai serangan udara jarak jauh dari Prancis.

Selain itu, sebanyak 10-12 Rafale M dari kapal induk Prancis, Charles de Gaulle , juga dikerahkan dengan tujuan yang sama dari basis operasinya di Laut Mediterania.

Total jumlah jet tempur Rafale yang dikerahkan dalam Operasi Harmattan sekitar 14 hingga 18 unit (gabungan dari versi Angkatan Udara dan Angkatan Laut) pada puncak operasi tersebut.

Beragam Keunggulan Rafale

Sulit rasanya untuk mengatakan secara pasti apa sebenarnya yang menjadi daya tarik Rafale sehingga kini laku di pasaran. Walaupun, perlu diingat bahwa klaim Pakistan yang menyatakan berhasil menjatuhkan empat Rafale India dalam perang kilat kedua negara pada bulan Mei 2025, sempat membuat pamor Rafale jatuh.

Beberapa faktor yang membuat Rafale miliki daya tarik, mungkin ya, antara lain karena pesawat ini memiliki kemampuan yang sangat serba guna (omnirole), yang artinya Rafale dapat beralih peran dengan cepat, seperti dari pertahanan udara ke serangan darat, bahkan dalam satu misi.

Namun kemampuan tersebut sebenarnya juga lazim dimiliki oleh jet temnpur multiperan lain di generasi yang sama.

Rafale dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik terintegrasi SPECTRA. Sistem ini memberikan kemampuan mengaburkan pengenalan radar dan perlindungan diri yang sangat baik.

Desain delta wing dan canard Rafale, memberikan kemampuan manuver yang gesit di udara, sangat penting dalam pertempuran jarak dekat (dogfight).

Namun lagi-lagi, kemampuan ini bukan hal baru, bahkan juga dimiliki oleh Eurofighter Typhoon yang sama-sama bersayap delta dan ber-canard.

Rafale menggunakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) RBE2 yang canggih untuk deteksi dan pelacakan target multi-jarak. Namun, pesawat lain pun kini sudah lazim menggunakan radar AESA.

Rafale mampu membawa berbagai macam senjata, mulai dari rudal udara ke udara jarak jauh MBDA Meteor, rudal jelajah, hingga bom berpemandu laser.

Kalau berbicara di segmen ini, jet tempur F-15EX dari Boeing bahkan lebih menjanjikan lagi.

Satu yang mungkin menjadi nilai plus Rafale, adalah kemandirian Prancis sehingga memiliki imunitas terhadap embargo. Paling tidak, hampur seluruh komponen pesawat ini dibuat oleh industri pertahanan Prancis.

Kelebihan lainnya, adalah berkaitan dengan Prancis yang memiliki kebijakan lebih lentur dalam hal transfer teknologi dibandingkan kompetitornya dari negara lain.

Namun sesungguhnya, ini pun tidak terlepas dari seberapa banyak pelanggan membeli Rafale dan benefit apa yang diperoleh oleh masing-masing negara, yaitu negara pembeli dan negara penjual.

Jadi menurut Anda, apa sebenarnya kelebihan Rafale ini? Silakan tulis di kolom komentar bila punya pendapat. (RNS)

    2 Replies to “Kantongi pesanan untuk 220 pesawat, Dassault percepat produksi Rafale: 300 unit telah diproduksi, ini kunci kesuksesannya”

    1. kabarnya Omnirole itu beda dgn Multirole yg dimiliki pesawat lain.
      Pesawat multirole bisa melakukan banyak tugas, tapi perubahan tugas dan setting hw/sw hrs dilakukan sebelum pesawat itu take off.
      Sedangkan Rafale bisa berubah tugas saat pesawat sudah take-off sbg jauh lebih fleksibel.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *