Akankah Filipina menjadi pengguna KF-21 Boramae kedua, menggeser posisi Indonesia?

KF-21 Boramae_KAIKAI

AIRSPACE REVIEW – Menurut seorang pejabat Korea Aerospace Industries (KAI), Filipina telah meminta pengiriman jet tempur KF-21 antara tahun 2027 dan 2029 jika jadi mengakusisinya, seperti diberitakan Reportera pada 6 Januari 2026.

Permintaan ini terkait langsung dengan pengadaan tambahan selusin FA-50PH yang sedang berlangsung dan mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam program pertahanan Horizon 3 Filipina untuk pengadaan jet tempur multiperan modern.

Meskipun opsi pesaing seperti F-16V dan Gripen E tetap menjadi bagian dari evaluasi yang lebih luas, Angkatan Udara Filipina lebih mengenal pesawat Korea Selatan termasuk sistem pelatihan dan rantai dukungannya, sehingga membuat KF-21 lebih disenangi.

Manila juga mempertimbangkan kompleksitas armada, biaya transisi, dan kepastian pengiriman di pasar yang semakin terbatas.

Varian KF-21 Block 1 yang diincar Filipina dibandrol antara 80 juta hingga 90 juta USD, tergantung pada konfigurasi dan elemen dukungannya.

Berdasarkan hal tersebut, kemungkinan pembelian 12 hingga 24 pesawat KF-21 oleh Filipina akan mencapai antara 1 miliar hingga 1,5 miliar USD, termasuk pelatihan, suku cadang, dan dukungan awal.

Mengenai KF-21, merupakan jet tempur yang digolongkan sebagai jet tempur generasi ke-4,5 yang kemampuannya setara dengan Rafale, Typhoon, Gripen E atau F-16V.

Pesawat berjulukan Boramae ini ditenagai oleh dua mesin turbofan General Electric F414-GE-400K, memungkinkan kecepatan maksimum Mach 1,8, radius tempur melebihi 1.000 km.

Sistem sensornya berpusat pada radar array pemindaian elektronik aktif (AESA) buatan dalam negeri yang dikembangkan oleh Hanwha Systems, dilengkapi dengan sistem pencarian dan pelacakan inframerah serta paket peperangan elektronik terintegrasi.

Persenjataan KF-21 Block 1 mencakup rudal udara ke udara jarak jauh dan jarak pendek serta bom berpemandu presisi.

Sebelumnya, proyek yang dikenal sebagai KF-X/IF-X hasil kolaborasi KAI dengan PTDI ini, menempatkan Indonesia sebagai negara kedua pengguna KF-21 setelah Korea Selatan.

Namun belakangan Indonesia telah mengurangi investasinya untuk proyek ini, dengan pembayaran iuran yang beberapa kali tertunda.

Berdasarkan laporan terbaru, Indonesia tetap akan mengakuisisi KF-21, tapi Block 2 yang memiliki kemampuan multiperan, meskipun jumlahnya belum diungkapkan. (RBS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *