AIRSPACE REVIEW – Pesawat tempur dan sistem pertahanan udara merupakan unsur kekuatan udara utama yang dapat diandalkan untuk menghalan serangan udara musuh yang masuk ke wilayah kedaulatan suatu negara.
Tidak punya sistem yang mumpuni dari kedua persenjataan tersebut, menyebabkan musuh leluasa melaksanakan operasi serangan udaranya.
Serangan udara yang dilakukan oleh jet tempur Gripen Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) terhadap fasilitas di O’Smach, Kamboja, menjadi studi kasus militer yang nyata tentang betapa krusialnya memiliki kekuatan udara.
Tanpa angkatan udara yang kompeten, sebuah negara bukan hanya akan kehilangan wilayah udara, tetapi juga kehilangan kendali atas apa yang terjadi di darat.
Sudah sejak lama kita mengetahui doktrin bahwa siapa yang menguasai langit, dia yang akan menguasai jalannya pertempuran. Kasus serangan Gripen terhadap kompleks kasino di Kamboja menunjukkan bahwa Thailand sejatinya telah meraih superioritas udara.
Serangan Thailand tersebut tanpa perlawanan karena Kamboja tidak memiliki jet buru sergap (interceptor) yang operasional, bahkan pesawat tempur pun tidak memiliki.
Tak mengherankan bila Gripen Thailand dapat terbang dengan leluasa masuk ke wilayah Kamboja untuk menyerang target yang telah ditetapkan.
Keunggulan udara tersebut telah memungkinkan Thailand untuk melakukan serangan pre-emptive (mendahului) guna menghancurkan sistem persenjataan dan logistik Kamboja yang disembunyikan di gedung kasino.
Diberitakan bahwa Gripen Thailand kemungkinan besar menggunakan munisi berpemandu presisi (PGM) atau bom pintar untuk memastikan akurasi tinggi. Namun demikian, belum ada rincian secara spesifik mengenai bom yang digunakan.
Dapat dipahami bila RTAF menggunakan bom presisi dalam serangan ke kompleks kasino O’Smach Kamboja. Lokasi kasino tersebut berada sangat dekat dengan garis perbatasan. Jika menggunakan bom jatuh bebas biasa (bom bodoh), dapat menimbulkan risiko salah sasaran ke wilayah Thailand sendiri.
Sehubungan data intelijen mengatakan bahwa roket BM-21 dan drone kamikaze Kamboja disimpan di dalam gedung kasino, Thailand membutuhkan bom yang memiliki kemampuan penetrasi beton sebelum meledak agar daya ledaknya terfokus pada gudang senjata di dalam gedung tersebut.
Kemudian untuk meminimalisir korban sipil, sekaligus menghindari kecaman internasional yang lebih luas jika terjadi kerusakan kolateral masif pada permukiman sipil di sekitar gedung kasino.
Sedikit mengulas kekuatan udara Kamboja, negara ini memang tidak memiliki angkatan udara yang kuat, bahkan tidak punya pesawat tempur. Maka dari itu, Angkatan Udara Kerajaan Kamboja (RCAF) berada dalam posisi asimetris (tidak seimbang) dibandingkan RTAF yang memiliki pesawat-pesawat tempur modern.
RCAF pernah memiliki sekitar 20 unit MiG-21 warisan Soviet, namun kini semuanya dalam kondisi sudah di-grounded karena usia tua dan kesulitan suku cadang.
Satu-satunya yang dapat dikategorikan pesawat tempur hanyalah jet latih Aero L-39 Albatros dari Ceko yang bisa dimodifikasi untuk serangan darat ringan. Namun, dalam menghadapi Gripen Thailand, pesawat ini sangat rentan jika dipaksa bertempur di udara. RCAF dilaporkan saat ini memiliki sekitar lima unit jet latih L-39.
Selebihnya RCAF mengoperasikan pesawat Xian MA60 dan Harbin Y-12 yang dibeli dari China untuk fungsi angkut taktis personil dan logistik.
Selain pesawat angkut, RCAF mengoperasikan helikopter untuk mobilitas pasukan dan bantuan tembakan udara jarak dekat.
Helikopter yang dimiliki antara lain Harbin Z-9 dari China. Heli ini terbilang helikopter modern milik RCAF dengan sekitar 10-12 unit dimiliki.
RCAF juga memiliki varian Z-9W yang telah dipersenjatai dengan rudal antitank dan senapan mesin untuk menyerang posisi darat. Helikopter lainnya adalah helikopter angkut Mi-8 dan Mi-17 dari Rusia untuk angkutan skala besar.
Selain helikopter, RCAF memiliki drone pengintai dan drone kamikaze rakitan dari mitra strategis.
Guna menutupi ketiadaan jet tempur, Kamboja memperkuat pertahanan udara berbasis darat untuk menghalau jet tempur musuh, namun sistem pertahanan udara ini masih terbatas dari sisi jangkauannya.
RCAF memiliki rudal panggul seperti FN-6 dari China dan Igla dari Rusia. Namun sistem pertahanan udara ini lebih cocok digunakan untuk menyasar helikopter atau pesawat terbang musuh yang terbang rendah.
Sistem pertahanan udara lainnya, adalah meriam antipesawat ZSU-23-2 yang ditempatkan di bunker-bunker perbatasan. Sistem ini pun terbilang kurang mumpuni untuk menghalau jet tempur modern.
Menyadari tidak bisa melayani Thailand dalam perang udara, militer Kamboja kemudian mengalihkan pertempuran ke darat dengan mengandalkan beberapa persenjataan artilerinya.
Secara tradisional, Angkatan Darat Kamboja memang memiliki personel yang sangat berpengalaman dalam pertempuran hutan. Inilah salah satu yang diandalkan militer Kamboja dalam konflik dengan Thailand, yaitu menggiring pada perang hutan yang sangat melelahkan.
Sementara bila serangan udara terus berlanjut, Kamboja hanya dapat “pasrah” alias “terima nasib” dihujani oleh bom-bom udara Thailand. (RNS)


Kamboja segera telpon om Jinping, pesen 10 batere HQ9, barter dengan akses pangkalan militer kayak AS di Qatar, pasti bangkok mikir2 kalou mau ngebom😁
“Tidak punya sistem yang mumpuni dari kedua persenjataan tersebut, menyebabkan musuh leluasa melaksanakan operasi serangan udaranya.”
Pertanyaannya, ke mana 4 baterai rudal SAM jarak menengah KS-1C (versi ekspor dari rudal Hongqi-12) buatan Tiongkok yang sudah diterima Angkatan Darat Kamboja pada 2023 lalu? 🤔 rudal SAM tersebut juga dimiliki Thailand sejak tahun 2016 dan dioperasikan oleh Angkatan Udaranya sebagai pertahanan udara lanud.
“RCAF memiliki rudal panggul seperti FN-6 dari China dan Igla dari Rusia. Namun sistem pertahanan udara ini lebih cocok digunakan untuk menyasar helikopter atau pesawat terbang musuh yang terbang rendah.”
Kamboja memiliki koleksi hanud titik atau Manpads cukup bervariasi dan semuanya buatan Tiongkok, mulai dari HN-5, FN-6, FN-16 dan baru-baru ini QW-3 Vanguard diintegrasikan dengan sistem komando dan kontrol TH-S311 Smart Com-Smart Hunter, yang menyediakan kesadaran situasional real-time dan kontrol tembakan terkoordinasi.
“Secara tradisional, Angkatan Darat Kamboja memang memiliki personel yang sangat berpengalaman dalam pertempuran hutan. Inilah salah satu yang diandalkan militer Kamboja dalam konflik dengan Thailand, yaitu menggiring pada perang hutan yang sangat melelahkan.”
Harus diakui walau kekuatan dan teknologi militernya kalah superior dari tetangganya yaitu Thailand, namun mereka punya nyali yang tak kalah besar
Contoh jika suatu negara lemah alutsistanya..dihajar dri udara cuma bisa trima nasib dan triak2.. padahal cuma 2 ekor elbot yg jalan.. kan sakian jadinya .eh kasihan
beruntung kita punya presiden yg bener2 mikirin alutsista, dg cara apapun belinya yg penting punya. biar mikir 100x bikin masalah ama negara kita