Dilengkapi radar PhantomStrike AESA dari Raytheon, jet tempur FA-50 buatan KAI semakin canggih

FA-50MIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Raytheon, bagian dari RTX, telah mengirimkan radar PhantomStrike AESA (active electronically scanned array) pertama kepada Korea Aerospace Industries (KAI) untuk diintegrasikan ke dalam armada jet tempur FA-50 Fighting Eagle.

Sebelumnya, versi standar FA-50 menggunakan radar AN/APG-67, yaitu radar X-band multi-mode pulse-Doppler.

Dengan dilengkapi radar AESA, hal ini menandai kemajuan signifikan dalam kolaborasi teknologi pertahanan antara KAI dan Raytheon.

PhantomStrike adalah radar kompak berpendingin udara penuh yang dirancang untuk menyediakan deteksi, pelacakan dan penargetan target yang sangat efisien serta hemat biaya.

Dengan menggunakan teknologi galium nitrida (GaN), radar ini memberikan kinerja yang ditingkatkan melalui pancaran digital yang lebih gesit, deteksi target yang lebih canggih, dan ketahanan interferensi yang kuat.

Raytheon mengatakan, radar PhantomStrike beroperasi dengan biaya hampir setengah dari radar pengendali tembakan standar, namun tetap mempertahankan kemampuan yang unggul.

Radar ini dikembangkan untuk platform dengan keterbatasan ukuran, berat, dan daya, termasuk pesawat nirawak, pesawat serang ringan, pesawat tempur, dan helikopter.

Bobotnya yang sekitar setengah dari berat radar AESA pada umumnya, menjadikan radar ini menawarkan kemampuan pengendalian tembakan penuh dalam bentuknya yang paling ringan hingga saat ini.

FA-50 dengan radar PhantomStrike AESA
RTX

Pengiriman PhantomStrike kepada KAI merupakan kelanjutan dari serangkaian uji terbang yang sukses yang dilakukan oleh Raytheon pada pesawat Multi-Program Testbed-nya dalam misi misi udara ke udara dan udara ke darat.

Produksi radar PhantomStrike dilakukan di fasilitas Raytheon di Forest, Mississippi; Tucson, Arizona; dan Skotlandia, dengan dukungan dari Raytheon UK.

Radar PhantomStrike telah disetujui untuk diekspor sebagai produk Penjualan Komersial Langsung, sehingga memperluas aplikasinya di luar armada FA-50 KAI.

Arsitektur sistem misi terbukanya memfasilitasi peningkatan tanpa perlu pemeliharaan berkelanjutan, memastikan relevansi jangka panjang di medan perang.

Dengan pengiriman ini, Raytheon menegaskan kembali komitmennya untuk menyediakan teknologi canggih yang memungkinkan operator mengambil keputusan yang tepat dalam lingkungan pertempuran yang semakin kompleks dan penuh persaingan. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *