AIRSPACE REVIEW – Dalam perang saudara di Sudan, pasukan antipemerintah RSF(Rapid Support Forces) dikabarkan telah menembak jatuh drone Akinci buatan Turkiye yang dioperasikan oleh tentara pemerintah.
Dilaporkan drone tersebut ditembak saat terbang di atas langit Darfur utara.
Akinci adalah drone intai serang buatan Baykar yang baru dimiliki oleh Angkatan Bersenjata Sudan (SAF).
Masuk dalam kelas drone MALE (Medium-Altitude, Long-Endurance), Akinci mampu terbang hingga ketinggian maksimum 12.192 m dan durasi selama 24 jam penuh.
Drone ini mampu membawa berbagai senjata, termasuk rudal presisi, bom berpemandu, dan rudal jelajah.
Akinci dilengkapi dengan sensor dan sistem kontrol modern, memungkinkannya melakukan pengintaian dan melaksanakan operasi serangan.
Para analis menduga pesawat tak berawak itu ditembak jatuh oleh sistem rudal antipesawat yang diproduksi oleh China.
Baru-baru ini, dilaporkan bahwa sistem rudal antipesawat jarak pendek FB 10-A China, yang seharusnya dikirim ke Chad, justru berpindah tangan ke kelompok pemberontak RSF Sudan.
Sistem ini menggunakan panduan gabungan, ditandai dengan respons cepat dan kemampuan bermanuver tinggi.
FB 10-A bertugas dalam misi pertahanan udara jarak pendek dan titik. Digunakan untuk mencegat helikopter, drone, rudal jelajah, dan pesawat sayap tetap di ketinggian rendah dengan jarak tembak hingga 18 km. (RBS)


“Para analis menduga pesawat tak berawak itu ditembak jatuh oleh sistem rudal antipesawat yang diproduksi oleh China.”
Masih dugaan, dan apabila itu benar ini menjadi debut pertamanya dan langsung nyandang gelar ‘battle proven’ 👍😁