AIRSPACE REVIEW – Pasukan Pertahanan Ukraina akan menerima Amunisi Serang Jarak Jauh (ERAM), sebuah senjata berpemandu yang diluncurkan dari udara buatan Amerika Serikat.
Program senilai 850 juta dolar AS (USD) ini dibiayai oleh mitra-mitra Eropa dan telah diumumkan oleh Gedung Putih awal pekan ini.
The Wall Street Journal melaporkan, paket persenjataan yang akan dikirim ke Ukraina terdiri dari berbagai macam, namun ERAM menjadi sorotan khusus.
Secara resmi, AS telah menyetujui transfer 3.350 unit ERAM ke Ukraina. Pengiriman gelombang pertama senjata ini diperkirakan akan tiba dalam waktu sekitar enam minggu, yaitu awal Oktober tahun ini.
Laporan itu juga mencatat bahwa persetujuan paket senjata tersebut sebelumnya telah ditunda, kemungkinan terkait dengan upaya Presiden Donald Trump untuk mengatur perundingan trilateral yang melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyi dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
ERAM pada dasarnya merupakan gabungan antara bom pesawat dan rudal jelajah. Senjata ini pertama kali diungkapkan kepada publik pada Juli 2024.
Laporan pada saat itu mengindikasikan bahwa AS sedang mengembangkan senjata tersebut khusus untuk Ukraina dengan Angkatan Udara AS (USAF) terdaftar sebagai otoritas kontrak.
Permintaan pengembangan ERAM diajukan pada 31 Januari 2024, dengan produksi dijadwalkan dimulai dalam waktu 24 bulan setelah penandatanganan kontrak.
Mengingat pengiriman akan dimulai Oktober ini, disinyalir bahwa pengembang telah menyelesaikan proyek jauh lebih cepat dari jadwal.
Media melaporkan, sebanyak 1.000 unit ERAM diproyeksikan untuk diproduksi setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengiriman lebih dari 3.000 unit yang telah dijanjikan dapat dilakukan dalam beberpaa tahun saja, kecuali AS ikut menggunakannya.
ERAM mampu menjangkau targetnya dalam jarak hingga 463 km. Kecepatan terbang senjata ini mencapai 763 km/jam dan radius akurasi tembakan 10 m. (RNS)

