AIRSPACE REVIEW – Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah memerintahkan dua kapal selam nuklir AS untuk ditempatkan di “wilayah yang tepat” guna memaksa Rusia menghentikan perang dengan Ukraina.
Sebelumnya pada minggu lalu, Trump mengultimatum Rusia untuk menyudahi perang dengan Ukraina dalam tempo 50 hari yang kemudian ia persingkat lagi menjadi kurang dari dua minggu atau hanya 10 hari.
Alih-alih menuruti pernyataan Trump, Rusia melalui Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia yang juga mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev malah mengancam balik Trump.
Medvedev merespons dengan keras pernyataan Trump dengan mengatakan bahwa setiap ultimatum yang dicetuskan Trump terhadap Rusia, khususnya ultimatum untuk mengakhiri konflik dengan Ukraina, akan menjadi jalan bagi Rusia menuju perang dengan negaranya (AS).
“Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri,” tulis Medvedev di media sosial menanggapi ultimatum Trump.
Pada hari Jumat, Trump menulis di Truth Social bahwa pernyataan Medvedev tersebut sangat provokatif.
“Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, saya telah memerintahkan dua Kapal Selam Nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang tepat, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif ini lebih dari sekadar itu,” tulis Trump.
“Kata-kata sangat penting, dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Saya harap ini bukan salah satu contohnya. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” lanjutnya.
Medvedev kemudian menuduh Trump sedang melakukan permainan ultimatum.
“Trump sedang memainkan permainan ultimatum dengan Rusia: 50 hari atau 10 hari⦠Dia harus mengingat 2 hal,” tulisnya.
Berikutnya ia menulis:
“1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru merupakan ancaman dan langkah menuju perang,” tulis Medvedev.
“Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak dalam jalan Sleepy Joe!” tambah Medvedev merujuk pada mantan Presiden Joe Biden, sebagaimana dikutip banyak media internasional.
Trump memperingatkan Medvedev tentang retorikanya, sekaligus mengkritik kemitraan dagang Rusia dengan India.
“Saya tidak peduli apa yang India lakukan terhadap Rusia. Mereka bisa menghancurkan ekonomi mereka yang mati bersama-sama, saya tidak peduli. Kita hanya berbisnis sedikit dengan India, Tarif mereka terlalu tinggi, termasuk yang tertinggi di dunia,” kata Trump.
“Demikian pula, Rusia dan AS hampir tidak berbisnis bersama. Mari kita pertahankan seperti itu, dan beri tahu Medvedev, mantan Presiden Rusia yang gagal, yang merasa dirinya masih Presiden, untuk berhati-hati dalam berbicara. Dia memasuki wilayah yang sangat berbahaya!” tulis Trump. (RNS)

