Dalam simulasi pertempuran, J-10C berhasil menembak jet tempur siluman J-20 dengan bantuan pesawat KJ-500 AEW&C

J-10C berhasil menembak J-20 dalam simulasi pertempuran udaraIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Dalam simulasi pertempuran yang digelar Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF), pesawat tempur generasi 4,5 China, J-10C Vigorous Dragon, berhasil menembak jet tempur siluman J-20 Mighty Dragon.

Pada awalnya, secara sendirian J-10C tidak bisa mendeteksi jet tempur generasi kelima tersebut. Rudal yang ditembakkan J-10C tidak berhasil mengenai J-20.

Namun, ketika pertempuran dilakukan dengan melibatkan J-10C lainnya dan dibantu oleh pesawat peringatan dini dan kontrol udara KJ-500 AEW&C, Mighty Dragon berhasil dikunci dan ditembak oleh J-10C.

Simulasi pertempuran tersebut disiarkan oleh Televisi Pusat China (CCTV) dalam serial dokumenter berjudul “Gong Jian” (Maju).

Tayangan tersebut telah menarik perhatian internasional yang menyoroti kemajuan China dalam peperangan udara yang berpusat pada jaringan, sensor terintegrasi, dan persenjataan jarak jauh.

Pilot J-10C PLAAF, Mayor Xiao Nan, menerangkan, data pelacakan waktu nyata yang disediakan oleh pesawat KJ-500 pada akhirnya memungkinkan J-10C yang dipilotinya dapat mengunci J-20 dan simulasi serangan pun berhasil dicapai.

“Ini adalah pertama kalinya pilot J-10C mampu mengalahkan pesawat siluman dalam sebuah aksi. Dengan dukungan peperangan jaringan, potensi J-10C jauh melampaui apa yang tampak,” ujar Xiao bangga.

Keberhasilan J-10C menembak J-20 semakin menegaskan kapabilitas Vigorous Dragon (NATO: Firebird) dalam pertempuran udara modern.

Pada Mei 2025, dalam konflik militer India dengan Pakistan, J-10C Pakistan dengan menggunakan rudal udara ke udara jarak jauh PL-15 dilaporkan berhasil menembak jatuh setidaknya satu jet tempur Dassault Rafale Angkatan Udara India menggunakan rudal PL-15.

Rudal PL-15 yang ditenagai oleh mesoin ramjet dan memiliki jangkauan perkiraan 200 hingga 300 km (meskipun versi ekspornya, PL-15E, memiliki jangkauan yang lebih terbatas), dipandu oleh radar aktif.

Rudal tersebut dibuat China untuk menyaingi rudal AIM-120D Amerika dan rudal Meteor Eropa.

Terintegrasi dengan radar AESA J-10C, sensor ini memungkinkan pesawat untuk mendeteksi dan menyerang target di luar jangkauan visual dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Dikembangkan oleh Perusahaan Industri Penerbangan China (AVIC) milik negara, J-10C merupakan varian paling modern dari keluarga J-10.

Pesawat tesebut dilengkapi dengan mesin WS-10B, radar AESA, sistem ECM (penanggulangan elektronik), dan penggunaan material komposit yang ekstensif untuk mengurangi RCS.

Dengan perkiraan kecepatan maksimum Mach 1,8, ketinggian terbang 18.000 m, dan jangkauan tempur 1.200 km, J-10C tergolong pesawat generasi 4,5, meskipun kinerja jaringannya membuatnya lebih dekat dengan platform yang lebih canggih.

Versi ekspor, J-10CE, sudah diakuisisi dan dioperasikan oleh Angkatan Udara Pakistan. Hal ini memperkuat kehadiran industri pertahanan China di pasar strategis dan menciptakan parameter baru untuk perbandingan dengan pesawat tempur Barat. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *