AIRSPACE REVIEW – Berdasarkan citra satelit dan rekaman video serangan pesawat nirawak berskala besar pada hari Minggu (1/6), khususnya serangan terhadap Pangkalan Udara Belaya di Timur Jauh Rusia, Ukraina berhasil merusak hampir semua pesawat pengebom strategis jarak jauh Tu-95MS dan Tu-22M3 yang berada di sana.
Cukup menarik, sementara pembom Tu-160M yang juga terparkir di landasan, tampaknya tidak menjadi sasaran. Terlihat tiga T-160M dalam kondisi utuh, sementara pesawat di sebalah kiri dan kanannya terbakar.
Menjadi pertanyaan, mengapa drone FPV bersenjata Ukraina tak menyerang pembom Tu-160M, apa alasannya?
Keputusan untuk membiarkan Tu-160M selamat telah memicu spekulasi mengenai apa alasan dari “pesan strategis” Ukraina tersebut.
Beberapa analis menyatakan serangan itu merupakan peringatan yang diperhitungkan kepada Moskow tentang kerentanan aset udaranya tanpa melewati ambang batas berbahaya menuju eskalasi nuklir, tulis Bulgarian Military (3/6).
Dengan menghancurkan T-160M, bisa membuat amarah besar Rusia, dengan kemungkinan bisa melakukan serangan nuklir terhadap Ukraina.
Tu-160M ini merupakan pengebom tercanggih milik Angkatan Udara Rusia (VKS) saat ini, yang mulai beroperasi sejak 1987, empat tahun sebelum uni Soviet runtuh.
Pesawat berjulukan Blackjack ini mampu mencapai kecepatan Mach 2,05 dan membawa hingga 40.000 kg persenjataan, termasuk rudal jelajah Kh-55SM dan Kh-101/102 yang berkemampuan nuklir.
VKS sendiri mengoperasikan 13 Tu-160M dan tiga pesawat baru sedang diselesaikan. Jumlah ini terbilang sedikit dibandingkan Tu-95MS dan Tu-22M3 yang masing-masing 55 unit.
Serangan pesawat nirawak dalam operasi bersandi “Jaring Laba-laba” ini digambarkan oleh Zelenskyy sebagai respons terhadap serangan rudal Rusia yang meneror di kota-kota Ukraina.
Dengan menargetkan kemampuan serangan jarak jauh Rusia, Ukraina telah menunjukkan kemampuannya untuk menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia.
Penghancuran pesawat pengebom Tu-95MS dan Tu-22M3, yang tidak lagi diproduksi, merupakan pukulan telak bagi kekuatan udara Rusia.
Andrii Kovalenko, Kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina, menyebutkan sedikitnya 13 pesawat Rusia hancur di beberapa lapangan udara, dengan lebih banyak lagi yang rusak, meskipun angka-angka ini masih menunggu verifikasi independen.
Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengklaim bahwa operasi tersebut menyerang total 41 pesawat, termasuk satu pesawat peringatan dini udara A-50, dengan perkiraan kerusakan melebihi 2 miliar dolar AS.
Sementara itu, citra satelit yang dirilis oleh perusahaan kedirgantaraan AS Umbra Space dan dianalisis oleh pakar OSINT Chris Biggers pada 2 Juni 2025, mengonfirmasi kerusakan signifikan di Belaya, dengan sedikitnya tiga pembom Tu-95MS dan satu Tu-22M3 hancur, dan satu Tu-95MS lainnya tampak rusak.
Citra tambahan menunjukkan hancurnya empat Tu-22M3 lagi, sehingga totalnya menjadi sedikitnya delapan kerugian yang dikonfirmasi. (RBS)

