AIRSPACE REVIEW – Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, menawarkan jet tempur siluman generasi keenam Boeing F-47.
Sebelumnya, Trump memang telah menyatakan gagasan untuk mengekspor F-47 ketika mengumumkan kemenangan Boeing dalam program jet tempur berawak Next Generation Air Dominance (NGAD) Angkatan Udara AS (USAF) pada bulan Maret lalu.
Asahi Shimbun melaporkan, percakapan telepon antara Trump dengan Shigeru terjadi sebelum negosiator perdagangan utama Jepang Ryosei Akazawa berangkat ke AS untuk bernegosiasi mengenai tarif yang dikenakan oleh Trump.
Jet tempur F-47 akan dibuat oleh Boeing untuk menggantikan peran jet tempur generasi kelima F-22 Raptor yang dibuat oleh Lockheed Martin.
F-47 dirancang sebagai jet tempur dengan berbagai teknologi canggih seperti mesin siklus adaptif, kendali pesawat nirawak “wingman”, badan pesawat siluman, dan sistem radar canggih.
Pesawat memiliki jangkauan tempur sekitar 1.000 mil laut (1.600 km), yang memungkinkan operasi mendalam di daerah penolakan akses/daerah penolakan.
Meskipun Trump berminat menawarkan F-47 kepada Jepang, sejumlah pejabat Jepang mengatakan presiden AS hanya bertanya santai apakah Jepang berminat membeli jet tempur buatan AS, tanpa mendesak agar pembelian itu dikaitkan dengan negosiasi tarif.
Jepang saat ini terlibat dalam pengembangan bersama pesawat tempur generasi berikutnya dengan Inggris dan Italia, yang dikenal sebagai Program Udara Tempur Global (GCAP). Pesawat ini dibuat justru untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi militer AS.
Namun, kekhawatiran atas kemungkinan penundaan GCAP karena kurangnya urgensi dari Inggris dan Italia dapat mendorong Jepang untuk mempertimbangkan alternatif seperti memperoleh lebih banyak F-35 buatan AS atau meningkatkan pesawat tempur F-2 miliknya.
Pembelian tambahan F-35 juga dapat menguntungkan Jepang dalam negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung dengan AS.
Meskipun F-47 merupakan kemajuan signifikan dalam penerbangan militer, para ahli telah menyatakan skeptisisme mengenai kesediaan sekutu AS untuk memperoleh versi ekspor pesawat tempur yang kemampuannya dikurangi.
Selama panggilan telepon 45 menit tersebut, Trump dan Ishiba sepakat untuk mengadakan pertemuan puncak bersama selama konferensi G-7 yang dijadwalkan pada pertengahan Juni di Kanada. (RNS)

