Kelanjutan pembelian F-15EX dari AS belum tuntas, Indonesia malah disebut akan menambah 8 hingga 16 jet tempur Rafale dari Prancis

Rafale-F3R-AAEAAE

AIRSPACE REVIEW – Kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 28 Mei 2025 menghasilkan 21 kesepakatan strategis antara kedua negara. Hal ini disampaikan menyusul pertemuan antara Macron dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang diampingi delegasi dari kedua negara di Jakarta.

Sebanyak 21 dokumen kesepakatan tersebut telah ditandatangani, ditunjukkan, dan diumumkan di hadapan Prabowo dan Macron.

Kesepakatan Indonesia dan Prancis mencakup deklarasi bersama, kerja sama antarpemerintah (G-to-G), antarlembaga (P-to-P), kemitraan swasta (B-to-B), hingga pengumuman kerja sama antarbank sentral.

Prabowo dan Macron terlebih dahulu mengadopsi empat deklarasi bersama. Deklarasi tersebut mencerminkan kesamaan visi jangka panjang kedua negara, serta kontribusi bersama terhadap perdamaian dan kebudayaan dunia.

Keempat deklarasi itu adalah Deklarasi Bersama untuk Pengembangan Kemitraan Strategis Indonesia-Prancis hingga 2050 (Joint Vision 2050), Deklarasi Bersama untuk Strategi di Bidang Kebudayaan antara Indonesia dan Prancis, Deklarasi Penyelesaian Damai Isu Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara, serta Pernyataan Bersama antara Presiden Republik Indonesia dan Presiden Republik Prancis.

Selain itu, sebanyak 11 deliverables resmi ditandatangani dalam kesempatan tersebut, terdiri dari 10 kesepakatan G-to-G dan satu kesepakatan P-to-P. Kerja sama antarpemerintah mencakup berbagai sektor penting, di antaranya:

Terkait kerja sama bidang pertahanan, Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Sébastien Lecornu menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin untuk memasok militer Indonesia dengan berbagai peralatan pertahanan Prancis.

Dikatakan, pesanan prospektif tersebut mencakup jet tempur multiperan Rafale buatan Dassault Aviation.

Meskipun jumlah pesawat belum diungkapkan secara resmi, surat kabar Prancis La Tribune melaporkan bahwa Jakarta sedang mempertimbangkan pembelian antara 8 dan 16 Rafale tambahan. Hal ini untuk melengkapi pembelian 42 unit Rafale yang telah berjalan di mana jet Rafale pertama Indonesia dijadwalkan akan diterima pada tahun 2026.

Meskipun surat pernyataan tersebut bukan merupakan pembelian resmi, kedua belah pihak dilaporkan bermaksud untuk menyelesaikan kesepakatan tersebut saat perayaan Hari Bastille di Prancis pada tanggal 14 Juli 2025.

Pada perayaan tersebut Prabowo menyampaikan langsung dalam jumpa pers dengan Macron di Istana Merdeka, Jakarta bahwa ia telah diundang Presiden Macron untuk hadir sebagai tamu kehormatan di acara Bastille Day nanti.

Presiden Macron, lanjut Prabowo, juga mengundang militer Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam parade Bastille Day. Dalam kesempatan itu Prabowo langsung meminta Sjafrie Sjamsoeddin untuk menyiapkan tim yang akan ditampilkan di Bastille Day.

Presiden Macron mengunjungi Indonesia selepas kunjungan kedengaraannya ke Vietnam. Setelah kunjungan di Indonesia ia akan melanjutkan kunjungannya ke Singapura. Kunjungan ke tiga negara ASEAN ini untuk memproyeksikan Prancis sebagai kekuatan penyeimbang di Indo-Pasifik.

Dalam jumpa pers dengan Prabowo itu, Macron mengatakan bahwa Prancis dan Indonesia telah menandatangani perjanjian pertahanan awal yang dapat membuka jalan bagi pesanan baru peralatan militer dari Paris, termasuk kesepakatan terkait jet tempur Rafale dan kapal selam kelas Scorpene.

“Saya gembira bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani hari ini dapat membuka perspektif baru dengan pesanan baru untuk Rafale, Scorpene, juga fregat ringan,” ujarnya.

Pernyataan Macron mengonfirmasi pernyataan yang sebelumnya disampaikan Sjarie pada hari Selasa bahwa Indonesia akan menandatangani nota kesepahaman bersama menteri lain dengan fokus pada penguatan hubungan pertahanan Indonesia-Prancis.

Keputusan Jakarta untuk menambah 8-16 jet tempur Rafale dari Prancis, menyisakan pertanyaan lain terkait kesepakatan Indonesia dengan Boeing yang berencana untuk mengakuisisi 24 unit jet tempur F-15EX Eagle II.

Seperti diketahui, Indonesia telah menandatangani MoU dengan Boeing untuk komitmen pembelian 24 unit jet tempur terbaru F-15EX.

Hal itu diketahui dari unggahan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto melalui akun Instagramnya pada 22 Agustus 2024.

Dalam akunnya tersebut, Prabowo menuliskan: “Penandatanganan MoU komitmen pembelian 24 Unit Pesawat Tempur F-15EX”.

Penandatanganan MoU saat itu dilaksanakan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsda TNI Yusuf Jauhari dan Wakil Presiden Direktur dan Manajer Program Boeing Fighters Mark Sears di fasilitas Boeing di St. Louis setelah dilakukan kunjungan ke lini produksi F-15EX.

Namun hingga saat ini, langkah akhir untuk mengakuisisi jet tempur terbaru itu belum ada kepastian apakah akan dilanjutkan atau dibatalkan. Informasi beredar menyebut, Indonesia belum menyiapkan anggaran untuk pembelian jet tempur F-15EX.

Di tengah beragam informasi ini, muncul juga informasi lain yang menyebut Indonesia akan melanjutkan pengadaan jet tempur Su-35 dari Rusia serta rencana memodernisasi armada F-16 yang telah dimiliki bekerja sama dengan Turkiye.

Lebih menghenyakkan lagi, informasi yang masih simpang siur menyebut bahwa Indonesia juga akan mengakuisisi jet tempur J-10CE dari China. Informasi terakhir ini belum dipastikan kebenarannya. (RNS)

One Reply to “Kelanjutan pembelian F-15EX dari AS belum tuntas, Indonesia malah disebut akan menambah 8 hingga 16 jet tempur Rafale dari Prancis”

  1. Jangan lupa fungsi AEW&C yg bisa terintegrasi dg semua elemen tempur jg dipenuhi. Perang Ukraina dan India – Pakistan membuktikan bagaimana pihak yg bisa mengintegrasikan semua elemen mendapatkan hasil yg maksimal.
    Tapi yg paling mendesak mungkin terpenuhinya platform patroli maritim yg lebih banyak, yg canggih dan terintegrasi dengan semua elemen penjaga pertahanan dan keamanan maritim. Karena masalah penyelundupan, ilegal fishing, bajak laut dan aktivitas ilegal lain di laut sudah menjadi masalah harian di lautan kita yg luas. Juga untuk membantu aktivitas SAR agar bisa lebih cepat dan tepat menemukan sasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *