F-15SG Strike Eagle, Aset Letal Negeri Singa

F-15SGBrian Lockett

DALAM enam hari ke depan, F-15SG Strike Eagle milik Angkatan Udara Republik Singapura akan kembali menjadi sorotan. Pesawat buatan Boeing, Amerika Serikat ini tampil dalam pertunjukan terbang Singapore Airshow 2024, berkolaborasi dengan helikopter serang AH-64D Apache yang juga punya RSAF.

Tak bisa disangkal, melihat arsenal matra udaranya Singapura bisa dikatakan memiliki kekuatan tempur udara yang terkuat di Asia Tenggara. Superioritas tersebut tidak hanya dilihat dari segi jumlah, tapi menilik kualitasnya pun demikian. Kekuatan tempur udara RSAF (Republic of Singapore Air Force) atau Angkatan Udara Singapura bertumpu pada jet tempur F-16C/D Fighting Falcon dan F-15SG Strike Eagle yang jumlahnya masing-masing sudah puluhan, bukan lagi belasan.

F-15SG (dengan “SG” merupakan akronim dari “Singapore”) merupakan pesawat tempur kelas berat yang merupakan varian dari jet tempur multi peran F-15E Strike Eagle yang jadi andalan Angkatan Udara AS (USAF) dan sudah kenyang pengalaman tempur di berbagai palagan sejak Perang Teluk 1991 hingga sekarang.

F-15E sendiri merupakan pengembangan dari pesawat tempur superioritas udara F-15 Eagle yang legendaris. Hingga kini, keluarga jet tempur ini masih menyandang rekor belum terkalahkan dalam ratusan duel dengan pesawat tempur lawan. Sebagian besar skor kemenangan itu dicatatkan oleh Israel lewat varian generasi awal Eagle.

F-15E Strike Eagle yang diawaki dua penerbang ini dikembangkan sebagai pesawat tempur penyerang jarak jauh (long-range strike fighter) pengganti pembom tempur F-111E/F/G Aardvark. Pertimbangan dua awak tempur untuk F-15E (pilot dan operator senjata atau WSO/weapons system operator) adalah faktor keamanan terutama untuk kewaspadaan situasional (situational awareness)  pada misi-misi beresiko tinggi seperti serangan jarak jauh ke belakang garis pertahanan lawan. Sebagai catatan, pada generasi sebelumnya varian kursi ganda difungsikan sebagai sarana latih atau konversi. F-15B merupakan varian tandem seater dari F-15A, sementara F-15D adalah tandem dari F-15C.

Kalahkan Rafale

Singapura merupakan negara keempat setelah Israel, Arab Saudi, dan Korea Selatan yang diperkenankan membeli varian Strike Eagle. Maklum saja, dengan potensi letalitasnya daya penggentar (deterrent) Strike Eagle tergolong tinggi. Dalam proses pengadaan pengganti A-4SU Super Skyhawk untuk RSAF, F-15T (kode desainasi yang disematkan Boeing selama masa penawaran) ini berhadapan dengan para pesaingnya mulai dari Sukhoi Su-35 (waktu itu masih taraf pengembangan), Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, F/A-18E/F Super Hornet, F-16E/F Block 60 Fighting Falcon, dan JAS-39C/D Gripen.

Pada babak kualifikasi awal, Fighting Falcon Block 60 dan Gripen yang bermesin tunggal (single-engine fighter) langsung tersingkir karena ternyata AU Singapura lebih menitikberatkan pada penempur bermesin ganda. Lewat proses seleksi yang terbilang ketat dan panjang, pada Desember 2005 negeri termungil di Asia Tenggara itu menjatuhkan pilihannya pada tawaran Boeing yang kelak diubah kodenya menjadi F-15SG. Pilihan tersebut mengandaskan harapan finalis terdekatnya yaitu Rafale untuk mendobrak pasar Asia.

Konon dalam beberapa uji terbang, para pilot AU Singapura sangat menaruh hati pada penempur multi peran buatan Dassault, Perancis tersebut. Namun tak bisa dipungkiri, bagi RSAF yang sejauh itu inventorinya didominasi alutsista buatan AS, memilih Rafale merupakan awal dari kerepotan tersendiri.

Singapura yang telanjur sudah banyak menimbun munisi dan rudal buatan AS, akan mendapat pekerjaan tambahan berupa proses integrasi senjata-senjata buatan AS pada Rafale yang hingga saat inipun masih terkenal eksklusif menggunakan senjata buatan Perancis atau Eropa.

Kendati sistem interkoneksi senjata Perancis juga masih sesuai dengan standar NATO, namun setiap senjata non standar Rafale harus menjalani proses uji komprehensif sebelum dinyatakan cleared alias aman digunakan Rafale. Dan jangan lupakan tekanan politik AS yang tentu saja tak rela kehilangan pasar senjata nan gurih lantaran Singapura terkenal “royal” dalam memborong alutsista dan persenjataannya.

Strike Eagle Tercanggih

F-15SG milik Angkatan Udara Singapura disebut-sebut sebagai salah satu varian tercanggih keluarga Strike Eagle. Bahkan kendati F-15SA (Saudi Advanced) dengan kontrol terbang digital sudah masuk dinas operasional baru-baru ini, namun secara kapabilitas tempur, F-15SG masih dalam rentang kemampuan tempur yang mirip dengan F-15SA. Belakangan muncul lagi varian F-15 tercanggih lainnya yakni F-15QA milik Angkatan Udara Qatar (QEAF).

Berbeda dengan keluarga generasi awal F-15E Strike Eagle (F-15E AU AS, F-15I Raam AU Israel dan F-15S AU Arab Saudi) yang menggunakan mesin Pratt & Whitney F100-PW200 series (-PW200/220/229), F-15SG ditenagai mesin yang berbeda yaitu General Electric F110-GE129. Perbedaan paling kasat mata ada pada bentuk bilah-bilah nozzle-nya, di mana pada mesin buatan GE terlihat lebih membulat. Kedua mesin ini memang kompatibel dengan engine bay F-15 dan F-16.

Memang dengan bobot yang sedikit lebih berat, mesin GE ini tak memberikan kontribusi berarti pada kecepatan jelajah maupun kecepatan maksimum F-15, kendati daya dorong mesin GE sedikit lebih besar daripada mesin PW (yang bobotnya pun sedikit lebih ringan). Namun mesin ini menawarkan rentang semburan tenaga yang lebih merata dan lebih tinggi di semua parameter terbang (flight envelope).

Performa tersebut ditebus dengan harga perawatan yang konon sedikit lebih tinggi, meski biaya pengadaan kosongnya (flyaway cost) tak beda signifikan. Itulah sebabnya sebagian besar pengguna F-16 di luar AS (termasuk TNI AU) lebih memilih mesin PW ketimbang mesin GE.

Sebuah fitur yang selayaknya jadi catatan penting buat Indonesia, adalah radar F-15SG yang bertipe AESA (active electronically-scanned array), yaitu APG-63(V)3. Selain jangkauan endusnya yang jauh, radar ini juga sulit sulit diacak secara elektronik (jamming) karena mampu berpindah-pindah frekuensi secara lincah.

Radar AESA merupakan radar generasi baru dari jenis  phased array dan merupakan lompatan satu generasi lebih canggih dari radar pindai mekanis (mechanically-scanned radar) yang ada sebelumnya, dan rata-rata digunakan pesawat tempur generasi keempat.

Perbedaan jenis phased array dengan mechanically-scanned radar adalah pada pemancaran gelombangnya, di mana fase relatif dari sinyal yang dipancarkan setiap modul T/R (transmitter/receiver) bisa diatur besarannya. Pemancaran sinyal (radiasi) seperti ini menyebabkan pola sebaran radiasi/pancaran gelombang radar (gelombang elektromagnetik) dapat semakin diperkuat (dipertinggi pancaran radiasi gelombang elektromagnetiknya) ke arah tertentu yang dituju, atau sebaliknya diperlemah di arah yang memang tidak dikonsentrasikan.

Ilustrasi sederhana operasi radar mechanically-scanned dan phased array kurang lebih seperti berikut. Radiasi gelombang radar konvensional bisa diilustrasikan seperti cahaya lampu sorot yang dalam kegelapan pancaran cahanya terlihat menyebar membentuk kerucut (cone) yang kian melebar menjauhi sumbernya (lampu sorot itu sendiri). Sementara untuk radar phased array, pola radiasi gelombang radar yang keluar bisa diatur sehingga seolah-olah cahaya dari “lampu sorot” itu justru bisa  terfokus ke satu titik tertentu saja, di luar pola menyebar seperti “cone”. Radar AESA sendiri merupakan jenis yang lebih canggih (namun lebih rumit) dari radar PESA (passive electronically-scanned array) yang merupakan generasi lebih awal.

F-15SG Pitch Black 2022_RSAF_RAAF_ Airspace Review
RAAF F-15SG mengikuti Exercise Pitch Black 2022 di Australia.

Indonesia khususnya TNI AU perlu mewaspadai betul aset tempur matra udara negeri jiran ini. Di kawasan sekitar Indonesia, praktis sudah ada Singapura dan Australia yang memiliki pesawat tempur dengan radar AESA (Australia dengan F/A-18F Super Hornet dan EA-18G Growler). Dalam pertempuran udara jarak jauh atau dikenal BVR (beyond visual range) combat, pesawat tempur dengan radar AESA dipastikan memiliki peluang menang yang besar karena berkemampuan mengunci sasaran lebih cepat dan akurat (jauh) dibanding radar pindai mekanis konvensional. Singkatnya, pesawat tempur yang dilengkapi radar AESA memiliki nilai deterrent yang jauh di atas pesawat tempur dengan radar konvensional.

Namun kecanggihan F015SG tak melulu bertumpu pada radar. Serbagai sebuah kesatuan utuh alat utama sistem senjata (alutsista), F-15SG dilengkapi perangkatb elektronik tempur lain yang juga mumpuni. Kedua awak F-15SG dibekali Joint Helmet Mounted Cueing System (JHMCS) yang membuat jet tempur itu mampu mendayagunakan rudal high-off-boresight AIM-9X Sidewinder secara maksimal. Berbekal JHMCS dan AIM-9X, awak F-15SG bisa menembak  pesawat tempur lawan yang posisinya berada di belakang, cukup dengan tolehan kepala dan disusul penguncian (lock on) target oleh perangkat pembidik yang terintegrasi dengan display pada helm awaknya tersebut.

Sensor F-15SG masih ditunjang dengan eksistensi sensor pasif IRST (infra red search and tracking) “Tiger Eyes”. Perangkat ini didesain sedemikian rupa di mana di bagian bawahnya terdapat dudukan untuk pod pemindai target Sniper-XR Advanced Targeting Pod terbaru. Ilustrasi kapabilitas kala dipasang menyatu kurang lebih sebagai berikut: awak F-15SG bisa menjejak dan mengunci sasaran udara yang jauh dengan radar  APG-63(V)3, sementara data sasaran maritim di kejauhan bisa dijejak oleh Tiger Eyes dan dimonitor Sniper-XR. Kalau sudah begitu, tinggal pilih saja senjata apa yang mau digunakan.

Atau jika digunakan untuk penyergapan secara senyap, radar  APG-63(V)3 akan menjejak target di kejauhan lalu pindah ke posisi standby. Penjejakan dan penguncian selanjutnya dilakukan oleh Tiger Eyes. Metode ini mirip dengan yang diterapkan Rusia lewat penempur Su-27/30/35 Flanker dan MiG-35 Fulcrum terbaru, hanya saja digadang masih lebih inferior karena belum menggunakan radar AESA.

Dilengkapi komputer misi generasi terbaru, F-15SG mampu terkoneksi dan memanfaatkan nyaris semua arsenal terkini buatan AS, kecuali bom nuklir berpemandu GPS. Dan meski belum memiliki rudal udara ke udara jarak jauh AIM-120D, namun avionik dan komputer F-15SG sudah dipersiapkan untuk rudal tersebut. Siapa yang tahu, mungkin saja ke depan Singapura bakal memborong AIM-120D dalam jumlah yang tak kalah banyak dibanding AIM-120C-7 yang dibeli dalam jumlah ratusan seiring paket pembelian F-15SG.

Selain perangkat pengecoh chaff dan flare standar, F-15SG dibekali perangkat peperangan elektronik alias EW (electronics warfare suite) yang tidak dipbulikasikan secara detil. Di luar perangkat ECM (electronics countermeasures) ALQ-135M, pada F-15SG dibenamkan sejumlah perangkat lain yang diduga berasal atau buatan Israel.

Armada F-15SG sebentar lagi akan memiliki pendamping yang sepadan, seiring berita telah disetujuinya penjualan paket upgrade F-16 Block 52 Singapura. Jet-jet ini (jumlahnya sekitar 60 unit) akan di-upgrade antara lain dilengkapi radar AESA juga. Selain itu, tentu saja penambahan selusin F-35B Lightning II akan menjadikan RSAF sebagai angkatan udara terdepan di kawasan.

-AKK-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *