AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Boeing telah menangguhkan pembelian titanium dari Rusia untuk menopang kebutuhan industry dirgantaranya.
Hal itu dilakukan karena Boeing merasa punya stok titanium yang cukup di dalam negeri.
Berbeda dengan Boeing, Airbus tetap membeli titanium dari Rusia melalui pemasok komoditas terbesar di dunia, VSMPO-AVISMA.
Boeing memerlukan sekitar sepertiga kebutuhan titaniumnya dari Rusia. Sisanya diimpor dari AS, Jepang, China, dan Kazakhstan.
“Kami telah menangguhkan pembelian titanium dari Rusia. Inventaris dan keragaman sumber titanium kami menyediakan pasokan yang cukup untuk produksi pesawat,” ujar Boeing dalam keterangannya pada 7 Maret lalu.
Bulan lalu, Boeing mengatakan tidak khawatir kekurangan titanium karena sudah mengurangi ketergantungan pasokan titanium dari Rusia sejak tahun 2014.
Saat itu, Rusia dikenai sanksi akibat tindakan aneksasi terhadap Krimea.
Di pesawat Boeing 787, Titanium digunakan sebesar 15% dari komponen-komponen pesawat.
Semetara itu, Kepala perusahaan milik negara VSMPO-AVISMA mengkritik keputusan Boeing yang telah menangguhkan kontraknya. Padahal, Boeing baru memperbarui kontraknya tersebut empat bulan lalu di Dubai Airshow 2021.
Saat itu Boeing berjanji akan mempertahankan perusahaan Rusia itu sebagai pemasok titanium terbesarnya.
Boeing dan ASMPO-AVISMA juga sepakat untuk meningkatkan penggunaan usaha patungan manufaktur tempa bernama Ural Boeing Manufacturing yang berbasis di Lembah Titanium Rusia di Ural.
“Kami dengan tulus menyesal bahwa kontrak dengan mitra jangka panjang kami ditangguhkan,” kata Kepala Eksekutif VSMPO-AVISMA Dmitry Osipov.
Seperti diketahui, Rusia telah mendapatkan sanksi ekonomi, keuangan, dan perdagangan dari AS dan negara-negara sekutu akibat agresi militer yang dilancarkan terhadap Ukraina sejak 24 Februari 2022.
-Jaden-

