Empat skenario Perang Rusia-Ukraina berakhir dengan kengerian dunia

Putin - Zelensky - Biden - StoltenbergInternet Files

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Memasuki hari kedelapan operasi militer skala penuh yang dilaksanakan oleh Rusia atas perintah Presiden Vladimir Putin sejak 24 Februari 2022 pagi, semakin banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak, baik sipil maupun militer.

Pemberitaan versi Ukraina menyebutkan, pasukan Rusia semakin terdesak karena kendaraan-kendaraan tempurnya semakin kehabisan logistik. Tank-tank dan kendaraan lainnya milik Rusia habis dibabat oleh beragam senjata perorangan macam rudal Javelin maupun NLAW serta serangan bebas dari udara menggunakan drone.

Sementara dari pihak Rusia, pasukan terus bergerak semakin mendekati kota Kyiv. Sejumlah kota berhasil dikuasai, membuat Ukraina makin terdesak.

Lepas dari laporan kedua belah pihak, video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan, pasukan Rusia tak lagi menyasar infrastruktur-infrastruktur militer seperti selalu dikatakan Kremlin.

Bukti bahwa Rusia telah menyerang bangunan-bangunan sipil dan bahkan universitas di Kharkiv, merupakan hal yang tak bisa terbantahkan.

Sementara pertempuran di Ukraina masih terus berkecamuk, bantuan-bantuan pengiriman persenjataan terus berdatangan untuk memperkuat tentara Ukraina. Bantuan diangkut melalui udara ke negara-negara tetangga Ukraina untuk kemudian diantarkan ke Ukraina melalui jalan darat.

Perundingan damai yang dilakukan oleh delegasi Rusia dan Ukraina pada hari Senin (28/2) di kota Gomel, Belarusia tak membuahkan hasil dan tak menghentikan perang terus berkobar.

Hari ini, Kamis (2/3), perundingan kembali akan dilanjutkan untuk mencoba lagi mendapatkan titik temu yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Selagi menunggu perkembangan perang yang tak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir dengan cepat ini, sejumlah analisis dari berbagai lembaga think tank pun bermunculan.

Salah satunya adalah empat skenario yang akan mengakhiri perang ini seperti ditulis oleh Atlantic Council.

Empat skenario berakhirnya perang dan masa depan yang mengerikan itu adalah sebagai berikut:

Skenario 1: Keajaiban di Dnipro

Pertama adalah Keajaiban di Dnipro. Didukung oleh bantuan defensif dari anggota-anggota NATO, perlawanan militer dan sipil Ukraina akan mampu mengatasi gerak pasukan Moskow yang ingin menggulingkan pemerintahan demokratis Kyiv dan mendirikan rezim boneka Rusia di Ukraina.

Tekad dan ketangkasan perlawanan Ukraina akan menimbulkan jalan buntu di medan perang yang pada akhirnya menguntungkan Ukraina.

Akibat dari ini, Rusia akan membayar harga selangit untuk petualangannya ditambah dengan keruntuhan ekonomi dan isolasi diplomatik.

Putin dengan terpaksa akan menarik pasukannya dari Ukraina dan itu berarti kekalahan besar bagi dia.

Ukraina selanjutnya tetap akan menjadi negara demokrasi yang berdaulat.

Di dalam negeri Rusia, kekalahan Moskow akan mempercepat ketidakpuasan rakyat domestik Rusia. Putin akan beralih fokus pada ancaman internal yang berkembang yang mengancam kekuasaannya.

Sementara itu, keuntungan akan didapatkan oleh NATO, karena Rusia dihukum dan Ukraina tumbuh semakin dekat ke Barat.

Skenario 2: Sebuah Rawa

Setelah berminggu-minggu pertempuran sengit di Kyiv dan kota-kota besar lainnya, Rusia akhirnya berhasil menggulingkan pemerintah Ukraina dan memasang rezim boneka di negeri itu. Namun, baik Angkatan Bersenjata Ukraina maupun penduduk Ukraina tetap tidak mau menyerah.

Selanjutnya, penduduk Ukraina akan melakukan pemberontakan secara luas, bersenjata lengkap, dan terkoordinasi dengan baik melawan pendudukan.

Mengulangi pola yang terlihat di tempat lain di dunia, pemberontakan di Ukraina akan memaksa korban manusia dan keuangan yang signifikan dan berkelanjutan di Rusia. Rusia akan mencurahkan jauh lebih banyak sumber dayanya selama periode waktu yang jauh lebih lama di Ukraina dari yang diperkirakan.

Pemberontakan warga Ukraina terhadap pemerintahan boneka Rusia akan didukung oleh kekuatan eksternal. Negara-negara NATO akan memberikan bantuan militer rahasia yang sangat kuat untuk perlawanan para pejuang Ukraina.

Rusia pun berperang dalam perang yang tidak dapat dimenangkan. Ibarat masuk ke sebuah rawa, Rusia masuk dan terjebak dalam sebuah rawa itu.

Sekali lagi, konflik ini akan menguras pundi-pundi Rusia dan pada akhirnya Moskow menyerah karena terlalu banyak kekerasan dan kematian.

Skenario 3: Tirai Besi baru

Ukraina akhirnya runtuh akibat invasi Rusia. Meskipun ditentang keras, pasukan Rusia berhasil menguasai negara itu melalui penggunaan senjata dan taktik yang semakin berat.

Perlawanan terhadap pemerintah boneka buatan Putin akan membara di Ukraina dan terjadi di mana-mana. Tetapi perlawanan ini berhasil ditumpas dengan kekuatan brutal Rusia di Ukraina.

Tirai Besi baru akan tumbuh di Eropa Timur, membentang di sepanjang perbatasan negara-negara Baltik di utara melalui perbatasan Polandia, Slovakia, Hongaria, dan Rumania di selatan.

Sementara Rusia menghadapi biaya ekonomi yang tinggi, Putin memperkuat cengkeramannya pada kekuasaan secara internal dengan lebih kuat menumpas perbedaan pendapat yang terjadi di domestik Rusia.

Di sisi yang lain NATO akan lebih bersatu dalam menghadapi Moskow, tetapi memiliki pilihan yang sangat terbatas untuk membalikkan kerugian Ukraina.

Setelah perang usai, Swedia dan Finlandia akan bergabung dengan NATO untuk meningkatkan keamanan mereka terhadap desain rencana Moskow.

Krisis keamanan akan terjadi pasang surut, karena Rusia berulang kali meluncurkan petualangan militer tambahan dan operasi perang hibrida yang jauh lebih agresif melawan sekutu NATO. Tidak ada jaminan resolusi damai untuk hal ini.

Skenario 4: Perang NATO-Rusia

Skenario paling berbahaya untuk masa depan Eropa dan tatanan global adalah bila konflik Ukraina berubah menjadi panggung konflik militer langsung antara NATO dan Rusia. Ada beberapa kemungkinan menuju hal itu.

NATO memutuskan untuk meningkatkan keterlibatannya di Ukraina dengan, misalnya, menerapkan zona larangan terbang atau bentuk intervensi langsung lainnya. Untuk saat ini, Amerika Serikat dan sekutu NATO telah menolak penerapan zona larangan terbang. Perhitungan ini bisa berubah jika Rusia terus meningkatkan pemboman terhadap warga sipil di Ukraina.

Rusia akan dipaksa untuk memutuskan apakah akan mundur atau langsung melibatkan pasukan militer Aliansi. Jika memilih yang terakhir, risiko konflik bersenjata antara NATO dan Rusia akan meningkat secara substansial.

Rusia dapat secara tidak sengaja menyerang wilayah anggota NATO dan hal ini akan menyebabkan tindakan balasan dari NATO. Hal ini akan menyeret pada terjadinya perang terbuka.

Prospek yang menakutkan bila Rusia memenangkan perang di Ukraina, Putin dapat mengalihkan perhatiannya ke negara-negara yang ia idamkan sebagai bagian dari keinginan untuk menyusun kembali lingkup pengaruh yang luas sejalan dengan wilayah bekas Uni Soviet.

Putin mungkin berpikir bahwa NATO akan mundur jika didorong. Tetapi yang terjadi NATO akan melakukan perlawanan terhadap setiap serangan militer Rusia kepada negara-negara anggotanya.

Kabut Perang

Perang, begitu dimulai, jarang mengikuti naskah. Lebih sering, mereka memimpin kombatan dan non-pejuang sama-sama ke jalur yang tidak terduga dengan hasil yang kadang-kadang mengubah dunia.

Invasi Rusia ke Ukraina tampaknya memiliki benih konflik semacam itu. Apa hasilnya bagi Ukraina dan dunia masih harus dilihat.

-RNS-

One Reply to “Empat skenario Perang Rusia-Ukraina berakhir dengan kengerian dunia”

  1. Pendapat saya bahwa jika terjadi perang Nato dan Rusia maka hasilnya akan dimenangkan oleh NATO..saat sekarang semua pintu2 Ekonomi Rusia telah dibikot oleh sistem Keuangan golaba. keluar dari skema swift..ini membuat keadaan Rusia semakin parah untuk membiayai logistik angkatan bersenjatanya…Rusia dana Putin akan tumbang dan tewas, Karena Tuhan ada berpihak di NATO…God Bless NATO. Nato didukung 30 Negara, saat sekarangpun banyak warga negara asing ingin menjadi voluntir untuk Ukraina. Saya pribadipun siap menjadi volontirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.