Boeing mulai memproduksi jet latih T-7A Red Hawk untuk USAF

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Berbeda dengan permasalahan yang dihadapi divisi pesawat komersial, jalur produksi pesawat militer Boeing Defense berkembang dengan baik. Salah satunya adalah dengan dimulainya produksi jet latih terbaru untuk Angkatan Udara AS (USAF), T-7A Red Hawk.

Perusahaan akan melakukan pekerjaannya di fasilitas Boeing, St. Louis, Missouri. Sementara Saab yang berkolaborasi dengan Boeing dalam proyek T-7A Red Hawk, juga telah memulai produksi sebagian komponen pesawat tersebut di Swedia sejak Januari 2020. Saab membuat bagian belakang T-7A.

T-7A dirancang dengan menggunakan teknik digital dan berbasis model 3D serta sistem manajemen data. Pesawat berkursi tandem ini merupakan jet latih generasi terbaru yang akan menggantikan T-38 Talon. Pesawat ini diwujudkan dalam kurun tiga tahun sejak perancangan pertama.

Boeing dan Saab mendapatkan kontrak untuk pengerjaan sebanyak 351 unit pesawat ini berikut 46 simulator pelatihan darat. Nilai kontrak total mencapai 9,2 miliar USD telah ditandatangani pada September 2018. Pengiriman pertama T-7A dijadwalkan pada 2023.

Sejumlah Pangkalan Udara USAF telah disiapkan untuk menerima pesawat ini dan melaksanakan pelatihan pilot. Pangkalan udara tersebut antara lain Colombus AFB di Missisippi, Laughlin AFB di Texas, Shppard AFB di Texas, dan Vance AFB di Oklahoma.

Tahap pertama Boeing akan mengirimkan lima unit T-7A dan tujuh simulator ke Joint Base San Antonio-Randolph, Texas. Pengadaan pertama ini bernilai 813 juta dolar AS.

“Ini merupakan momen bersejarah untuk program dan untuk industri,” ujar Chuck Dabundo, Wakil Presiden Program T-7 di Boeing.

Ia juga mengungkapkan, Boeing sedang dalam pembicaraan dengan Angkatan Laut AS (USN) tentang kemungkinan membuat T-7 versi angkatan laut untuk menggantikan pesawat latih jet T-45 Goshawk.

Seperti diketahui, USN saat ini sedang mencari pesawat jet latih baru dan telah mengeluarkan permintaan informasi (RFI) kepada sejumlah pabrikan untuk mendapatkan pesawat yang diinginkan pada 2028. Pesawat diharapkan sesuai untuk mendukung pelatihan para pilot kapal induk.

Elang Merah

Nama T-7A Red Hawk ditetapkan secara resmi oleh pemerintah AS sebagai kode dan nama bagi “T-X Trainer” yang terpilih sebagai jet latih pengganti T-38 Talon..

Hal ini diumumkan oleh Pelaksanan Menteri Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS) Matthew Donovan dalam dalam Konferensi Siber, Ruang Angkasa, dan Udara yang digelar Asosiasi Angkatan Udara di National Harbor, Maryland pada 16 September 2019.

Nama Red Hawk (Elang Merah) diambil sebagai penghargaan kepada Tuskegee Airmen, skadron nasional pertama para pilot Amerika di Afrika dalam kancah Perang Dunia II.

Nama ini juga didedikasikan bagi pesawat Curtiss P-40 Warhawk, pesawat Skadron Tempur ke-99 Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat di era yang sama.

T-7A Red HawkBoeing Defense

Dalam acara tersebut hadir Kolonel Purn. Charles McGee, veteran pilot P-51 Mustang mantan anggota Tuskegee Airmen. Ia tercatat membukukan 400 pertempuran udara di masa Perang Dunia II.

Tuskegee Airmen mengecat pesawat mereka Republik P-47 Thunderbolt dan North American P-51 Mustang dengan warna ekor merah. Oleh karena itu pula mereka terkenal dengan julukan Si Ekor Merah (Redtails).

Australia dan Serbia juga berminat

Selain USN, surat RFI sebelumnya juga telah dilayangkan oleh pemerintah Australia kepada Boeing untuk memberikan informasi mengenai jet latih T-7A Red Hawk.

Menanggapi permintaan Canberra, Boeing mengatakan bahwa T-7A sangat cocok digunakan sebagai jet latih lanjut pesawat tempur cepat seperti F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18 Growler yang dimiliki oleh Angkatan Udara Australia (RAAF). Pembelian T-7A, bila dilaksanakan oleh Australia, akan menguntungkan kedua belah pihak karena Super Hornet dan Growler juga dibuat oleh Boeing.

Kerja sama RAAF dengan Boeing juga sudah banyak, salah satunya adalah dalam pembuatan dan pengembangan drone tempur Loyal Wingman.

Boeing menambahkan, Australia akan mendapatkan keuntungan bila memilih jet latih supersonik T-7A Red Hawk, karena pesawat ini juga dapat digunakan untuk melatih para pilot yang nantinya akan mengawaki jet tempur generasi kelima F-35 Lightning II.

T-7ABoeing-Saab

Australia berencana mengganti 33 armada BAE Systems Hawk Mk 127 dengan pesawat baru. Seluruh pesawat yang ikut dalam kompetisi akan dikaji termasuk T-7A Red Hawk.

Diharapkan, seluruh pesawat pengganti Hawk 127 sudah dapat diterima oleh RAAF pada tahun 2033, atau 10 tahun sejak USAF menerima pesawat pertama T-7A pada 2023.

Di Australia, T-7A akan bersaing dengan kompetitor lainnya. Antara lain dengan Hawk Advanced Jet Trainer (AJT) dari BAE Systems dan Leonardo dengan M-346 Master.

Selain Australia, negara lain yaitu Serbia juga telah menyatakan ketertarikannya terhadap T-7A Red Hawk. Pesawat ini dipertimbangkan sebagai calon pengganti jet latih G-4 Super Galeb dan jet serang darat J-22 Orao buatan pabrik SOKO, Yugoslavia semasa Perang Dingin. Serbia mempertimbangkan untuk membeli sedikitnya 20 unit T-7A.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *