Terima P-8I kesembilan, AL India pengguna terbanyak Poseidon di luar AS

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Laut India (IN) telah menerima pesawat patroli maritim Boeing P-8I Poseidon kesembilan. Ini adalah pesawat pertama dari kontrak opsi penambahan empat P-8I oleh New Delhi tahun 2016 senilai 1 miliar dolar AS.

Dengan telah menerima sembilan P-8I, India menjadi negara pengguna terbanyak P-8 di luar AS. Sebelumnya India telah mengoperasikan delapan P-8I sejak tujuh tahun lalu.

Sejak 2013, pesawat-pesawat P-8I telah mengakumulasikan total 25.000 jam terbang.

Pesawat digunakan untuk misi pengintaian maritim jarak jauh, operasi antikapal selam (ASW), dan mendukung operasi kemanusiaan serta penanganan bencana.

P-8I memiliki kemampuan pengawasan dan pengintaian maritim yang luar biasa

Direktur Pelaksana Boeing Defense India Surendra Ahuja mengatakan, P-8I memiliki kemampuan pengawasan dan pengintaian maritim yang luar biasa. Keserbagunaan dan kesiapan operasional pesawat ini, ujarnya, telah terbukti menjadi aset penting bagi Angkatan Laut India.

Boeing dalam rilisnya mengatakan, perusahaan mendukung armada P-8I India yang terus berkembang dengan memberikan pelatihan awak penerbangan Angkatan Laut India, suku cadang, peralatan pendukung darat, dan dukungan perwakilan layanan lapangan.

Dukungan logistik terintegrasi Boeing telah memungkinkan kesiapan armada tertinggi dengan biaya serendah mungkin.

Boeing saat ini sedang menyelesaikan pembangunan Pusat Dukungan Pelatihan & Penanganan Data di INS Rajali, Arakkonam, Tamil Nadu, dan pusat sekunder di Naval Institute of Aeronautical Technology, Kochi.

Hal itu merupakan bagian dari kontrak paket pelatihan dan dukungan yang ditandatangani pada tahun 2019.

India mengakuisisi delapan unit P-8I pertama senilai 2,1 miliar AS pada 2009

Pelatihan berbasis darat akan memungkinkan para awak IN untuk meningkatkan kemahiran misi dalam waktu yang lebih singkat. Hal ini juga sekaligus untuk mengurangi waktu pelatihan di pesawat dan meningkatkan ketersediaan pesawat untuk penugasan misi.

India mengakuisisi delapan unit P-8I pertama dari Boeing senilai 2,1 miliar AS pada 1 Januari 2009.

Baca Juga: US Navy telah menerima pesawat multimisi P-8A Poseidon ke-100

P-8I merupakan varian khusus dari pesawat patroli maritim P-8A Poseidon Angkatan Laut AS. Pesawat ini dibuat khusus atas pesanan New Delhi.

IN mengoperasikan pesawat ini untuk menggantikan pesawat turboprop pengawasan maritim Tupolev Tu-142M yang sekarang sudah dinonaktifkan.

P-8I memiliki dua komponen utama yang tidak ada pada P-8A

P-8I memiliki dua komponen utama yang tidak ada pada P-8A, yaitu radar belakang Telephonics APS-143 OceanEye dan detektor anomali magnetik (MAD).

Pesawat ini juga menampilkan sistem Data Link II dan Identification Friend or Foe (IFF) yang dikembangkan oleh Bharat Electronics Limited (BEL).

P-8I PoseidonBoeing

Data Link II memungkinkan P-8I untuk bertukar data taktis antara pesawat Angkatan Laut India, kapal dan pos pantai.

P-8 dikembangkan dari basis pesawat komersial Boeing Next-Generation 737-800ERX (737NG)

P-8I dipersenjatai dengan rudal antikapal AGM-84L Harpoon Block II dan torpedo Mk 54 All-Up-Round Lightweight.

Pesawat ini mampu melakukan operasi wilayah luas, maritim dan pesisir, perang antikapal selam (ASW), perang antipermukaan (ASuW), serta misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR).

P-8I dibangun oleh Boeing di fasilitas produksi Renton, Washington. Pesawat 737 dibuat oleh Spirit AeroSystems di Wichita, Kansas dan kemudian dikirim ke Renton di mana semua fitur struktural untuk P-8 digabungkan secara berurutan selama fabrikasi dan perakitan.

Baca Juga: Pesan 9 P-8A, AU Inggris Menanti Sang Dewa Penguasa Lautan

Pengujian penerimaan kualitas dan kinerja pesawat terbang dilakukan oleh Boeing Field di Seattle.

P-8 dikembangkan dari basis pesawat komersial Boeing Next-Generation 737-800ERX (737NG). Pada awalnya pesawat ini dibuat untuk Angkatan Laut AS guna menggantikan armada Lockheed P-3 Orion.

Selain digunakan oleh IN, P-8 Poseidon dioperasikan/dipesan oleh Royal Australian Air Force (RAAF), Royal Air Force (RAF), Royal Norwegian Air Force (RNoAF), Royal New Zealand Air Force (RNZAF), dan Republic of Korean Navy (ROKN).

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *