Jet-jet tempur Polandia yang gagal terwujud

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Polandia termasuk negara yang memiliki industri kedirgantaraan cukup maju di belahan Eropa Tengah yang bertetangga dengan Uni Soviet.

Khusus jet tempur, setelah Perang Dunia Il, selain membuat secara lisensi dari Uni Soviet seperti LIM-2 (Mi-15) dan LIM-5 (MiG-17), Polandia juga merancang sendiri tahun 1958 melalui PZL (Państwowych Zakładów Lotniczych). Jet tempur supersonik dinamai TS-16 Grot (Arrowhead) yang sekelas dengan MiG-21.

Sebagai dapur pacunya akan menggunakan mesin serupa dengan MiG-19 yakni Tumansky RD-9B afterburning turbojet. Kecepatan maksimumnya sekitar 1.200 km/jam. Sebagai mesin alternatif SO-2 buatan lokal juga tengah dikembangakan.

Namun proyek TS-16 gagal terwujud karena tekanan keras dari Uni Soviet. Tahun 1964 proyek TS-16 dihentikan dengan meninggalkan sebuah mockup 1:1.

Berjalannya waktu, setelah bubarnya Pakta Warsawa pada Maret 1991, Polandia kembali mencoba meluncurkan proyek pesawat tempur ringan secara mandiri.

Lahirlah proyek PZL K-15 Pirania (Piranha), pesawat jet yang murah untuk diproduksi dan dioperasikan. Didapuk untuk melaksanakan tugas dukungan udara langsung pasukan darat, menggasak ranpur dan helikopter lawan, serta melaksanakan misi pengintaian dan patroli.

PZL K-15 ditenagai sepasang mesin turbofan, sosoknya menyerupai gabungan desain Fairchild A-10 dari AS dan Sukhoi Su-25 Uni Soviet.

PZL K-15 PiraniaIstimewa

Pekerjaan konstruksi PZL K-15 dimulai tahun 1992 dan penerbangan prototipe dijadwalkan tahun 1994. Sementara produksi berseri direncanakan diluncurkan pada 1997.

Namun proyek PZL K-15 dihentikan pada di tahap awal perancangan dan digantikan dengan jet serang ringan berkemampuan lepas landas dan mendarat pada jarak pendek (STOL) PZL-230 Skorpion (Scorpion).

Selama bulan Juni 1994, Kementerian Pertahanan Polandia mengumumkan bahwa program Skorpion tidak akan menerima dana lebih lanjut dari pemerintah. PZL bersikeras untuk melanjutkan pengembangan secara mandiri. Pesawat didesain ulang sebagai PZL-230D dan melahirkan sebuah mockup 1:1.

PZL-230D akan menggunakan sepasang mesin turbofan Honeywell LF 507. Kecepatan maksimumnya ditargetkan mencapai 1.000 km/jam.

PZL-230F_Skorpion

Namun proyek PZL-230D harus dihentikan karena AU Polandia tak berminat. Tapi PZL tak patah arang dengan menawarkan proyek baru PZL- 2000 Kobra (Cobra), pesawat tempur/serang ringan.

PZL-2000 rencananya akan ditenagai sepasang mesin PZL D-28 atau Rolls-Royce/SNECMAAdour Mk.871 yang ditempatkan berdampingan di bagian belakang badan pesawat.

Lagi-lagi, karena tak ketersediaan dana pengembangannya, proyek PZL-2000 akhirnya dihentikan di pengujung 1990-an tanpa satupun prototipe-pun yang dibangun.

Rangga Baswara Sawiyya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *