19 tahun lalu pilot F-16 ini nyaris melakukan kamikaze

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sembilan belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa serangan teror terhadap Amerika Serikat dengan menggunakan empat pesawat terbang berpenumpang sipil yang dibajak untuk ditabrakkan ke obyek-obyek vital nasional AS, persisnya pada pagi 11 September 2001.

Dalam peristiwa yang lebih dikenal dengan “9/11” tersebut, banyak kisah heroik yang seakan tak habis dikupas. Salah satunya adalah kisah seorang pilot tempur wanita Angkatan Udara AS (USAF) yang pada hari itu nyaris menjadi pilot “kamikaze”, menabrakkan jet tempurnya pada salah satu pesawat yang dibajak teroris.

Pagi hari Selasa 11 September 2001, Heather Renee “Lucky” Penney, pilot tempur wanita pertama di 121st Fighter Squadron, D.C. Air National Guard, tengah bersama beberapa rekan pilot lainnya di ruang briefing Pangkalan Udara Andrews.

Tiba-tiba seorang rekan dari bagian intelijen pangkalan datang,  mengabarkan bahwa ada pesawat sipil menabrak salah satu menara World Trade Center, New York.

Saat itu belum ada yang langsung menyangka itu adalah awal serangan teroris. Namun tatkala seperempat jam kemudian ada kabar susulan satu pesawat lain menabrak menara kedua, mereka pun sadar negeri mereka tengah diserang dan bergegas berusaha mencari berita. Suasana di Andrews saat itu dilingkupi kebingungan, bahkan bisa disebut nyaris panik.

Masalah terbesar adalah fakta bahwa tak ada jet tempur yang siap mengudara dengan persenjataan udara ke udara lengkap.

Padahal, perintah susulan yang sampai ke pangkalan tersebut sangat mendesak: “Sergap Boeing 757 United Airlines Flight 93 yang dibajak dan kemungkinan besar sedang mengarah ke ibu kota. Jatuhkan jika tak mematuhi perintah!”

“Scramble! Scramble! Lucky, you’re with me!”, Kolonel Marc Sasseville, komandan Penney, berseru mengajaknya segera terbang.

Tak ada waktu menunggu pesawat mereka dipersenjatai. Saat itu para kru darat yang berjaga sudah mulai menyiapkan dua F-16C Fighting Falcon untuk Sasseville dan Penney.

Saat kedua pilot itu bersiap terbang, para kru lainnya mulai mempersenjatai sepasang F-16C Fighting Falcon berikutnya. Masing-masing diset untuk membawa 511 butir proyektil HE 20 mm untuk kanon Vulcan, dua rudal AIM-9L Sidewinder dan dua AIM-120C AMRAAM. Namun masih butuh sekitar setengah jam lagi hingga kedua jet itu siap sepenuhnya.

Sambil tergesa-gesa mengenakan seragam terbang, Sasseville menatap Penney yang kala itu masih berpangkat Letnan Satu itu dan mengatakan “I’m going to go for the cockpit.”

Wanita kelahiran 1974 lulusan Universitas Purdue tersebut seketika sadar, bahwa pikirannya pun senada dengan sang komandan. Tanpa senjata, menjatuhkan Flight 93 hanya dimungkinkan dengan jalan menabrakkan F-16 mereka ke Boeing 757 tersebut.

Tanpa ragu, wanita yang kemudian sempat dikirim bertugas misi tempur di Irak itu menjawab, “I’ll take the tail!”.

Dalam perhitungan kasar, ditabraknya bagian kokpit dan ekor akan cepat menjatuhkan Flight 93 yang ukurannya berlipat besarnya dari F-16 mereka.

Sasseville dan Penney berlari ke pesawatnya, memasuki kokpit, dan mulai menyalakan mesin. Kedua F-16 tanpa senjata itu lepas landas dengan afterburner menyala-nyala, diiringi suara gemuruh yang memekakkan.

Tak butuh waktu lama bagi kedua penempur itu melewati ruang udara di atas Pentagon yang sudah mengepulkan asap hitam tebal. Sepasang Elang Penempur itu terus melaju didorong mesin pada setelan military power, terus melesat menuju Washington DC.

Dalam kokpit jet tempurnya itu, Penney sempat merenung. Akankah ia sempat eject sebelum menabrakkan F-16-nya ke Flight 93? Penney ragu ia akan sempat melakukan itu. Jika ternyata F-16-nya meleset dan ia sudah keburu melompat keluar dengan kursi lontarnya, upaya mereka berdua akan sia-sia.

Ia sempat berpikir bahwa hidupnya akan berakhir sebagai pilot bunuh diri alias kamikaze. Belum lagi terbayang di pesawat sipil tersebut terdapat puluhan penumpang yang tak bersalah yang harus ikut jadi korban.

Dan yang menambah galau Penney adalah kenyataan bahwa ayahnya, John Penney, adalah salah satu kapten pilot yang bekerja di United Airlines.

Penney tak sempat mengontak ayahnya, sehingga ia tak bisa memastikan apakah ayahnya itu sendiri yang menjadi kapten Flight 93 tersebut. Belakangan Penney mengetahui kalau kapten pilot Flight 93 itu adalah Capt. Jason Dahl, teman dekat ayahnya yang dikenalnya pula.

Sejarah mencatat Sasseville dan Penney tak jadi melakukan kamikaze hari itu. Kelak diketahui kalau target mereka itu sudah jatuh di ladang dekat Shanksville di daerah Stonycreek Township di Somerset County, Pennsylvania.

Dari rekaman kotak hitam perekam suara kokpit, jatuhnya Flight 93 adalah akibat perlawanan para penumpangnya yang mencoba merebut kendali pesawat dari tangan pembajak.

Namun bukan berarti usai tugas Sasseville dan Penney. Hari itu mereka dan para pilot tempur lainnya disibukkan dengan misi patroli tempur atau CAP (combat air patrol) di atas Washington DC. 

Penney bahkan sempat melaksanakan pengawalan tempur (escort) pesawat kepresidenan VC-25 Air Force One yang berisi Presiden George W. Bush yang kembali mendadak dari kunjungannya ke Florida.

Setelah undur diri dari dinas aktif, Penney bekerja di Lockheed Martin dan sempat bergabung dalam tim pengembangan jet tempur siluman F-35 Lightning II.

Antonius KK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *