Pesawat angkut komersial serasa jet mata-mata supersonik

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Pesawat angkut masa depan tidak lagi berbentuk standar seperti yang tampak sekarang. Paling tidak, ini salah satu konsep yang diangkat oleh Virgin Galactic dengan mengusung desain tahap awal pesawat komersial yang mampu terbang dengan kecepatan hingga 3 Mach.

Tahun 1960-an, Rusia menjadi negara pertama yang behasil membuat pesawat angkut komersial supersonik Tu-144. Pesawat ini mampu melaju dengan kecepatan di atas Mach 2.

Setelah itu Concorde buatan Perancis-Inggris menyusul. Konsep pesawat-pesawat bersayap delta ini muncul dengan tampilan yang futuristik dan terbang pada kecepatan di atas kecepatan rata-rata pesawat tempur.

Masih di tahun 1960-an, orang dibuat terkagum dengan pesawat mata-mata SR-71 buatan Lockheed. Pesawat ini mampu terbang di atas kecepatan Mach 3 dan terbang hingga ketinggian 85.000 kaki. Tapi ini pesawat militer dengan fungsi khusus.

Nostalgia akan hadirnya kembali pesawat-pesawat komersial berkecepatan super cepat itulah yang kini sedang dihidupkan lagi oleh sejumlah negara. Di Amerika sendiri, saat ini riset untuk pesawat semacam ini sudah banyak dimunculkan oleh sejumlah perusahaan.

Namun karena yang diutamakan dalam pesawat ini adalah soal kecepatan terbang, maka penumpang yang dapat diangkut pun tidaklah banyak.

Virgin Galactic dengan desain pesawat barunya ini, misalnya, hanya menyediakan 19 kursi penumpang. Pesawat akan terbang hingga ketinggian di atas 60.000 kaki.

Virgin Galactic
Virgin Galactic

Untuk proyek ini Virgin Galactic berkolaborasi dengan Rolls-Royce sebagai perancang mesin untuk mendukung pesawat ini.

Virgin Galactic juga berkolaborasi dengan NASA dan FAA. Kerja sama dengan kedua instansi dilakukan untuk mendapatkan studi mengenai teknologi eksplorasi kecepatan tinggi serta studi kelayakan konsep pesawat komersial dalam kaitan dengan sertifikasi pesawat.

Tidak ketinggalan, Boeing turut berkontribusi dalam proyek ini dengan menyertakan investasi sebesar 20 juta dolar AS.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *