Raytheon akan produksi rudal jelajah nuklir baru untuk USAF

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Tanpa banyak pemberitahuan gagap gempita, 17 April 2020 lalu Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mengumumkan telah memilih pabrikan Raytheon untuk membuat rudal jelajah nuklir baru berteknologi siluman (stealth nuclear-tipped cruise missile).

Rencananya rudal jelajah nuklir baru itu nantinya akan dibawa oleh pembom strategis B-52 Stratofortress, pembom siluman B-2A Spirit maupun pembom siluman generasi baru B-21 Raider.

Rudal jelajah nuklir baru yang saat tulisan ini dibuat belum diberi nomor desainasi ini, akan menggantikan rudal AGM-86 ALCM (Air Launched Cruise Missile) yang merupakan senjata nuklir standar pembom B-52H.

Pengumuman ini mengejutkan karena hasil dari kompetisi atau program pengadaan yang dikenal sebagai LRSO (long range stand off) itu baru akan diumumkan pemanangnya tahun 2022 nanti.

Program ini diluncurkan tahun 2017 dan hanya diikuti oleh dua kontraktor pertahanan AS yaitu Raytheon dan Lockheed Martin.

Dalam penjelasan singkatnya, USAF hanya menjelaskan bahwa pendekatan untuk memperoleh hasil LRSO “diubah” untuk penghematan waktu dan biaya.

Kendati Raytheon terpilih sebagai kontraktor utama, USAF menunjuk Lockheed Martin sebagai pendukung dengan peran sebagai subkontraktor untuk proses pematangan teknologi (technology maturity).

Meski tidak ada penjelasan lebih lanjut, diduga kuat bahwa kemenangan Raytheon ini sudah dipetakan oleh petinggi USAF untuk mencegah dominasi yang terlalu kuat oleh Lockheed Martin.

Seperti diketahui, Lockheed Martin adalah pembuat keluarga rudal jelajah AGM-158 JASSM (joint air-to-surface standoff missile) termasuk varian antikapal AGM-158C LRASM (long range anti-ship missile) yang telah dibeli besar-besaran oleh AS dan beberapa sekutunya.

Antonius KK

editor: ron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *