B-1B Lancer, pensiun atau lanjut jadi penebar rudal hipersonik?

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) tampak seperti menghadapi dilema di persimpangan jalan. Antara memensiunkan pembom strategis B-1B Lancer atau meningkatkan kemampuannya jadi pembawa dan penebar rudal jelajah hipersonik jarak jauh.

Tampaknya sayang juga untuk memasukkan pesawat buatan Rockwell International ini ke museum. Sementara Rusia saja melaksanakan modernisasi terhadap pembom strategis jarak jauh Tu-160 Blackjack alias Si Angsa Putih.

Platform modifikasi B-1B menyebutkan, pesawat mampu membawa 31 unit rudal hipersonik. Jumlah unit rudal yang dapat dibawa bahkan bisa lebih banyak lagi bila merupakan kombinasi jenis rudal.

Ada sekira 61 B-1B yang dimiliki oleh USAF di mana 17 di antaranya akan ditarik dari dinas militer tahun depan.

Di sinilah rencana modifikasi muncul dan akan dijalankan untuk B-1B yang masih digunakan. Pesawat akan dimodifikasi untuk bisa membawa persenjataan modern termasuk rudal hipersonik luncur udara AGM-183A ARRW (air-launched rapid response weapon) buatan Lockheed Martin.

USAF mengatakan, paling tidak satu skadron pembom B-1B yang terdiri dari 18 pesawat diajukan untuk mendapatkan anggaran modifikasi.

Sebelumnya, rudal ARRW telah diuji coba pada pembom strategis B-52 Stratofortress dan akan mulai dioperasikan pada 2022.

Secara prinsip, rudal-rudal ARRW dapat digantung di sayap B-52. Rudal ini melengkapi rudal LRASM (long range anti-ship missile) dan JASSM-ER (joint air to surface stand-off missiles-extended range) di bagian internal maupun eksternal.

Era rudal hipersonik diprediksi menjadi tren yang berkembang di masa mendatang. B-1B sendiri sudah mampu membawa 24 rudal LRASM, versi serang sasaran laut dari JASSM.

B-1B Lancer
USAF

Melalui proses modifikasi, B-1B dapat membawa 40 rudal ini. Namun tentu saja, peningkatan gaya dorong mesin juga dibutuhkan agar laju pesawat tidak kedodoran.

Maklum, sejak digunakan oleh USAF pada akhir 1970-an, pembom B-1B Lancer memang mengemban misi sebagai pembom nuklir supersonik, yang dirancang terbang cepat dan mampu menembus teritorial Uni Soviet pada ketinggian rendah dan kecepatan tinggi.

Pesawat bersayap sayung ini dilengkapi radar di bagian depan hidungnya untuk menjejak kontur bumi dan terbang di atas rintangan .

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *