Tim investigator cari penyebab A350 terbang terlalu rendah sebelum mendarat

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Tim Biro Investigator Kecelakaan Pesawat Jerman (BFU) masih menyelidiki penyebab A350-900 Thai Airways registrasi HS-THF Flight TG-926 yang terbang terlalu rendah sebelum mendarat di Bandara Frankfurt am Main, Jerman pada 1 Januari 2020.

Diketahui, pesawat komersial badan lebar buatan Airbus milik flag carrier Thailand itu terbang dari Phuket dengan tujuan Frankfurt pada malam hari dengan jarak pandang yang bagus.

Pada saat melaksanaan approach untuk mendarat di Landasan 07R Bandara Frankfurt, A350 turun terlalu rendah hingga ketinggian kurang dari 670 kaki (204 meter) di atas permukaan tanah.

Padahal, jarak terhadap landasan masih jauh, yaitu masih sekitar 6,5 mil laut (12 km).

Sebelumnya, saat pesawat melaksanakan penurunan ketinggian hingga 7.300 kaki, pilot mendapat instruksi (dari petugas layanan lalu lintas udara/ATS) untuk menambah descent rate (rata-rata kecepatan turun).

Petugas mempersilakan pilot A350-900 untuk turun hingga ketinggian 3.000 kaki. Setelah itu pilot diperintahkan melaksanakan heading ke 040o dengan kecepatan 170 knot (314,8 km/jam) atau lebih cepat dari itu untuk mencapai sistem pemandu pendaratan instrumen (ILS) Landasan 07R.

Tim BFU dalam penjelasannya seperti Airspace Review kutip dari pemberitaan Flight Global (29/3) mengatakan, pilot setelah itu mulai menurunkan flap di ketinggian 6.000 kaki (1,8 km) dan menurunkan roda pendarat di ketinggian 5.100 kaki (1,6 km)

Pada saat itu, descent rate HS-THF tercatat 2.000 kaki/menit. Descent rate terus bertambah hingga pesawat mencapai putaran base leg (tahapan pendaratan sebelum final approach).

Pesawat terus menurunkan ketinggian terbang hingga ketinggian 4.000 kaki (1,2 km) di atas permukaan tanah.

Rekaman Data Penerbangan (FDR) memperlihatkan, descent rate pesawat berada di angka 3.500 kaki (1,06 km)/menit.

Ketika pesawat mencapai ketinggian 2.500 kaki (762 meter), suara indikator ketinggian pesawat berbunyi dan sistem autopilot dinonaktifkan.

Selang 20 detik kemudian, jelas BFU, Rekaman Suara Kokpit (CVR) merekam dua kali peringatan ‘Sink Rate’. Sink Rate atau “Don’t Sink” adalah peringatan dari Ground Proximity Warning System (GPWS) yang mengingatkan bahwa pesawat meluncur mendekat tanah atau rintangan terlalu cepat dari ambang normal.

Setelah itu, terdengar suara peringatan otomatis ketinggian 1.000 kaki (304,8 meter) dan glideslope (sudut panduan pendaratan).

Kopilot, yang menerbangkan pesawat saat itu, meminta go-around dan membatalkan pendaratan. Captain Pilot yang duduk di sebelahnya segera menyampaikan keputusan ini kepada petugas tower. Komunikasi ini, jelas BFU, merupakan kontak radio pertama awak kokpit HS-THF dengan petugas menara ATC Bandara Frankfurt.

Dari ketinggian 1.000 kaki, lanjut BFU, pesawat masih sempat turun hingga ketinggian 936 kaki di atas pemukaan laut atau setara 668 kaki (203,6 meter) di atas permukaan tanah. Sementara jarak terhadap ambang landasas masih 6,43 mil laut (11,9 km).

Ketinggian terbang ini jelas jauh di bawah ketinggian normal yang mengharuskan pesawat masih berada pada 2.100 kaki (640 meter) di atas permukaan tanah. Pada jarak ini, pesawat harusnya mengikuti glideslope dengan sudut 3o .

BFU menambahkan, A350 melakukan proses pendaratan kedua dan melakukan ILS approach menuju Landasan 07R. Saat pesawat berada pada jarak 6,43 mil laut seperti posisi pendaratan pertama, saat itu pesawat berada di ketinggian 2.238 kaki (682 meter) di atas permukaan tanah.

Pesawat pun berhasil mendarat di Landasan 07R, 14 menit setelah pilot melaksanakan go-around.

Tim BFU belum bisa menyampaikan kepada publik hasil kesimpulan dari penyelidikannya.

A350 Thai
Getty Images/Simple Flying

Sementara terkait pilot yang mengawaki pesawat, kopilot (36) tahun yang menerbangkan pesawat telah membukukan 1.500 jam terbang di A350 dari total 4.000 jam terbang yang telah dicapai.

Sementara untuk Captain Pilot (43), telah membukukan 400 jam terbang di A350 dari total 8.000 jam terbang yang telah dicapai.

Selain kedua pilot yang duduk di kursi kemudi, di kokpit A350-900 HS-THF juga ada dua pilot lain berberstikat ATPL (Airline Transport Pilot License) saat insiden terbang rendah itu terjadi.

Data lain yang mungkin tidak berhubungan seperti ditulis Simple Flying menyebutkan, empat jam sebelum A350 Thai tiba di Frankfurt, seorang penumpang di pesawat tersebut mengalami sakit. Pilot telah meminta tim medis Bandara Frankfurt untuk segera mendekat ke pesawat sesaat setelah pesawat mendarat.

Sementara saksi mata yang melihat A350-900 Flight TG-926, mengaku ngeri melihat pesawat bermesin ganda ini terbang sangat rendah. Ia menduga pesawat akan jatuh dan meledak.

Pengamat mengungkapkan, tindakan pilot mematikan sistem autopilot pada saat kritis dan memutuskan go around untuk mengulangi proses pendaratan merupakan tindakan yang sangat tepat dari perspektif keselamatan penerbangan.

BFU mengatakan, kejadian ini sebagai insiden serius (serious incident) yang harus dituntaskan.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *