Operasi Siaga Tempur Laut hadapi kapal-kapal China di Laut Natuna Utara

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Menyikapi eskalasi dinamika yang terjadi di Laut Natuna Utara dalam beberapa hari terakhir, Komando Armada (Koarmada) I TNI Angkatan Laut menggelar Operasi Siaga Tempur Laut (Ops Siaga Purla) 2020 di Natuna.  

Operasi telah dimulai, ditandai dengan apel gelar kekuatan yang dipimpin oleh Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I Laksamana Madya TNI Yudo Margono didampingi Pangkoarmada I Laksamana Muda TNI Muhammad Ali di Ranai, Natuna pada Minggu, 5 Januari.

Koarmada I mengirimkan tiga Kapal Republik Indonesia (KRI) untuk bergabung dengan kekuatan dua kapal yang sudah ada di sana sehingga total menjadi lima KRI di Laut Natuna Utara dan jumlahnya akan terus ditambah.

Tiga kapal yang sudah dikerahkan Koarmada I adalah KRI Tjiptadi-381, KRI Teuku Umar-385, dan KRI Usman Harun-359.

Tidak ada batas waktu

Yudo Margono mengatakan, kapal-kapal yang ditugaskan di daerah operasi ini akan menjaga kedaulatan dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional.

Sebelumnya diberitakan, puluhan kapal penangkap ikan milik China yang dikawal kapal Penjaga Pantai China (China Coast Guard) sejak akhir Desember lalu bercokol di Laut Natuna Utara yang diklaim oleh mereka sebagai kawasan Laut China Selatan berdasarkan klaim Nine Dash Line.

Klaim tersebut sebenarnya tidak ada dalam aturan hukum internasional dan hanya klaim sepihak Negeri Tiongkok. Bahkan, China sendiri ikut meratifikasi UNCLOS (United Nations Convention for the Law of the Sea) 1982 bersama 117 negara yang menandatangani Hukum Laut Internasional itu.

UNCLOS ’82 menyatakan bahwa beberapa wilayah perairan yang dimiliki oleh setiap negara pantai, termasuk Indonesia, meliputi perairan pedalaman, laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif (ZEE), landas kontinen (LK), dan laut lepas.

Padahal, dalam kasus pencurian ikan-ikan oleh 30-an kapal nelayan China yang dikawal kapal Penjaga Pantai mereka itu berada di kawasan ZEE Indonesia.

KRI-Tjiptadi-381_
Istimewa KRI Tjiptadi-381

Diberitakan sejumlah media nasional, hingga saat ini tiga kapal China Coast Guard masih tidak mau pergi dan tetap mengawal kapal-kapal ikan nelayan Tiongkok yang berukuran besar di perairan Indonesia. Posisinya berada di 130 mil laut wilayah timur laut Pulau Bunguran.

”KRI Teuku Umar dan KRI Tjiptadi yang sedang patroli langsung melakukan komunikasi ke kapal Coast Guard Tiongkok dan meminta untuk segera meninggalkan wilayah ZEE Republik Indonesia,” kata Yudo memberikan penjelasan kepada media.

Dalam situasi seperti itu, ujar Yudo, TNI AL berusaha tegas tapi menghindari terjadinya benturan.

Komunikasi secara persuasif dilakukan agar kapal-kapal asing yang dilindungi Beijing ini meninggalkan wilayah ZEE di Laut Natuna.

”Tindakan pengusiran ini akan terus dilakukan. Baik di lapangan maupun secara diplomatik oleh Kemenlu,” lanjut Yudho. Perwira tinggi bintang tiga TNI AL ini menandaskan bahwa tidak ada batas waktu untuk gelaran Ops Siaga Purla ini.

Koarmada I yang berada di bawah Kogabwilhan I dalam operasi di Natuna Utara memastikan masih akan terus menambah kekuatannya.

Tidak ada perundingan

kapal-coast-guard-china
Koarmada I Tangkapan gambar kapal China Coast Guard di Laut Natuna Utara.

Sementara itu, dari Jakarta diberitakan, Presiden Joko Widodo mengambil sikap tegas dengan mengatakan tidak ada perundingan untuk kasus kapal-kapal asing Tiongkok di perairan ZEE Indonesia ini. Jokowi mengatakan, pemerintah Indonesia tidak akan berkompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman.

“Tak ada kompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia,” kata Jokowi melalui Fadjroel yang seperti dikutip CNNIndonesia, Sabtu.

Kendati begitu, Jokowi tak membantah bila pemerintah tetap memprioritaskan kebijakan diplomatik damai dalam menyelesaikan polemik dengan Negeri Tirai Bambu itu.

“Langkah ini merupakan arahan dari kepala negara,” tambah Fadjroel.

Sikap lunak Menhan Prabowo

Lalu apa sikap Menteri Pertahanan Prabowo Subianto soal pelanggaran kapal-kapal China ini?

Prabowo yang dikenal galak dan menentang segala bentuk ‘invasi asing’ atas kedaulatan Indonesia selama kampanye pemilihan presiden tahun lalu, justru bersikap lunak dan tidak menunjukkan kegeramannya.

Ia menandaskan bahwa China tetaplah negara sahabat. Hal itu disampaikan purnawirawan jenderal bintang tiga ini usai bertemu dengan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta.

“Ya, saya kira kita harus selesaikan dengan baik. Bagaimanapun China adalah negara sahabat,” ujar Prabowo, Jumat.

Untuk diketahui, pada 15-18 Desember lalu Prabowo baru selesai melaksanakan kunjungan kerja ke China dan bertemu dengan para pejabat tinggi dari Kementerian Pertahanan Nasional China, Komisi Militer Pusat China, serta Lembaga Negara Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri untuk Pertahanan Nasional (SASTIND).

Apel-kesiapan-Natuna_tni
TNI Pangkogabwilhan I Laksdya TNI Yudo Margono memimpin apel kesiapan Operasi Siaga Tempur Laut 2020 di Natuna.

Senada dengan Prabowo, Luhut meminta ketegangan dengan China terkait masalah Laut Natuna Utara tak perlu dibesar-besarkan. Dia justru ingin Indonesia berintrospeksi diri.

“Sebenarnya enggak usah dibesar-besarin lah. Kalau soal kehadiran kapal itu, sebenarnya kan kita juga kekurangan kemampuan kapal untuk melakukan patroli di ZEE itu,” tandas Luhut.

Luhut bahkan menambahkan, jika permasalahan terlalu diributkan maka semakin ribut akan membuat investasi terganggu.

“Ya makanya saya bilang jangan ribut. Untuk apa kita ribut yang nggak perlu diributin, bisa ganggu,” ungkap Luhut.

Pembicaraan tingkat tinggi

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pada Senin mengatakan, pemerintah melakukan dua pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Yakni diplomasi dan membuat pertahanan dengan menyiagakan pasukan TNI di perairan Natuna.

“Pada dasarnya kan dua skala besar yang dilakukan. Ada pendekatan diplomasi atau pendekatan politik dengan melalui diplomasi. Diplomasi dimulai dengan yang soft, sampai dengan yang hard,” kata Moeldoko di Jakarta.

Ia menegaskan kedaulatan Indonesia tak dapat diusik oleh negara mana pun. Sehingga, penanganan harus segera dilakukan.

Laksdya TNI Yudo Margono melepas KRI Tjiptadi
Antara Pangkogabwilhan I melepas keberangkatan KRI Tjiptadi-381.

“Nanti akan ada penyelesaian lebih lanjut. Bentuknya apa, bentuknya ya pembicaraan tingkat tinggi. Bagi saya intinya kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan,” ujar mantan Panglima TNI ini.

Dalam perbincangan di tvOne kemarin ia mengatakan bahwa tindakan tegas perlu dilakukan.

Ia mengambil contoh tindakan yang ia lakukan sewaktu menjadi Panglima TNI.

“Saya punya pengalaman, ini perlu dicatat juga, ada pelanggaran yang dilaukan oleh nelayan China dan kita tangkap waktu itu,” ujarnya.

Lalu, lanjut Moeldoko, Duta Besar China menelepon dirinya, memohon-mohon untuk dilepaskan.

“Entar dulu, tidak semudah itu. Saya tahan dulu, walaupun setelah melalui pertimbangan-pertimbangan saya bisa lepaskan,” ujarnya.

Posisi KRI dan kapal-kapal China -di-Laut-Natuna-Utara
TNI Posisi KRI dan kapal-kapal China di Laut Natuna Utara.

Berdasarkan pengalaman itu, Moeldoko meminta adanya tindakan tegas.

“Maknanya apa? Kita harus lakukan tindakan, tidak boleh kita biarkan,” ujar peraih Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama Akademi Militer tahun 1981 ini.

Sementara itu dari Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur diberitakan, TNI mengambil sikap tidak mau terpancing oleh tindakan provokasi kapal-kapal China ini.

Hal itu dikatakan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sisriadi, Senin.

“Kita (TNI) tidak ingin terprovokasi. Mereka melakukan provokasi supaya kita melanggar hukum laut internasional itu sendiri. Sehingga kalau itu terjadi, bisa kita yang disalahkan secara internasional dan kita yang rugi,” ujar Sisriadi.

Roni Sontani

One Reply to “Operasi Siaga Tempur Laut hadapi kapal-kapal China di Laut Natuna Utara”

  1. Cina hanya melakukan test case saja,sampai semua sudah siap pada waktunya,cina akan melakukan apa yg jepang pernah lakukan di perang dunia 2,dunia harus bersiap!!!
    Aku yakin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *