Ini teknologi kunci PUNA Elang Hitam, diharapkan digunakan oleh TNI AU

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Elang Hitam yang baru saja diluncurkan pada 30 Desember 2019 di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ditargetkan akan rampung sertifikasinya pada 2024. Sebanyak lima purwarupa terbang akan dibuat untuk mendukungnya.

Jika proses berjalan lancar sesuai target, Elang Hitam sudah bisa diproduksi pada 2025. Sebagai pengguna pertama adalah TNI AU.

Hal ini seperti yang disampaikan Dirut PTDI Elfien Goentoro saat acara roll out yang berlangsung di Hanggar Rotary Wing (RW) PTDI, Bandung.

Elfien bahkan menyebut bila 10 unit Elang Hitam akan mengisi skadron intai baru TNI AU yang akan dibentuk bersama CH-4B Rainbow.

Hammam Riza dan Elfien Goentoro
Rangga Baswara Sawiyya Doorstop dengan media usai acara Roll Out PUNA MALE.

Seperti diketahui TNI AU telah mendapatkan dua unit CH-4B pada 2019 dan akan menambah empat unit lagi.

CH-4B sendiri merupakan drone intai kombatan kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang dimiliki TNI AU.

Sebelumnya TNI AU telah memiliki drone intai non kombatan Aerostar  yang ditempatkan di Skadron Udara 51 Lanud Supadio, Pontianak.

Mengisi kebutuhan TNI AU

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menekankan harapannya, agar kehadiran PUNA MALE ini mampu menjawab tantangan terkait pengawasan kedaulatan NKRI dan mampu mendorong Indonesia menjad negara yang tidak hanya memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, namun juga maju, mandiri, dan berdaya saing.

“Diharapkan dengan kemandirian ini maka PUNA MALE buatan Indonesia dapat mengisi kebutuhan skuadron TNI AU untuk dapat mengawasi wilayah NKRI melalui wahana udara,” ujar Hammam.

Elfien-dan-Hammam
Rangga Baswara Sawiyya Dirut PTDI Elfien Goentoro dan Kepala BPPT Hammam Riza.

Ia menandaskan bahwa pengembangan drone PUNA MALE seratus persen dilakukan oleh putra-putri Indonesia.  

Ditambahkan, PUNA MALE rencananya akan dipersenjatai rudal dan mampu terbang selama 24 jam nonstop dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki.

Untuk diketahui, pengembangan Elang Hitam intai serang akan membutuhkan perjuangan khusus dan usaha yang keras. Teknologi kunci seperti FCS (flight control system), mission system,dan weapon system diakui tim bahwa hal ini tak mudah didapatkan dari luar meskipun tersedia dana untuk itu.

Teknologi kunci

Pengembangan teknologi kunci terkait akan dilakukan sendiri di Tanah Air oleh anggota konsursium PUNA MALE yakni  Pothan/Dislitbang Kemhan, Dislitbang AU, BPPT, LAPAN, PT Len, PTDI dan ITB.

Khusus mengenai weapon system yang akan digarap tim pengembang adalah meliputi fire/combat control computer, launching control unit, launcher termasuk pylon (sistem gantungan senjata).

Perihal persenjataan yang akan melengkapi Elang Hitam akan dimatangkan oleh konsorsium  PUNA MALE pada tahun ini.

Timeline Teknologi Kunci PUNA MALE
Istimewa Timeline PUNA MALE Kombatan.

Bila mengacu pada konfigurasi awal, Elang Hitam masih akan dipersanjatai dengan roket kaliber 70 mm jenis FFAR (Folding-Fin Aerial Rocket) dan jenis RD702 WAFAR (Wrap-Around Fin Aerial Rocket) serta bom konvensional.

Varian Elang Hitam kombatan akan dibangun pada purwarupa ke-5 atau disebut sebagai PM5 (prototype MALE ke-5) yang ditujukan sebagai wahana sertifikasi uji senjata.

Direncanakan PM5 baru akan menjalani uji penerbangan perdananya pada 2022 mendatang.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *