Rusia Tampilkan Senjata Pembunuh Drone di Dubai Airshow 2019

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Rusia melalui JSC Rosoboronexport (bagian dari Rostec) menampilkan bermacam senjata pembunuh drone (counter-drone systems) di Dubai Airshow 2019 di Dubai, Uni Emirat Arab pada 17-21 November.

Dalam kaitan ini, di hari kedua pameran pada 18 November, Rosoboronexport menggelar presentasi mengenai bahaya ancaman pesawat tanpa awak (UAV).

“Saat ini pesawat tanpa awak tidak saja menjadi ancaman bagi lingkungan militer, namun juga dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujar Sergey Chemezov, Direktur Jenderal Rostec, sebagaimana dikutip dalam siaran pers Rosoboronexport.

Ia menerangkan, apa yang terjadi di Perang Suriah memperlihatkan bahwa UAV mini tidak hanya digunakan oleh tentara. Melainkan juga oleh organisasi teroris dan grup-grup kriminal. Wahana ini berbiaya murah, tersedia dalam jumlah banyak, dan sangat mudah digunakan untuk tujuan-tujuan ilegal.

Menyikapi hal itu, kata Direktur Jenderal Rosoboronexport Alexander Mikheev, pihaknya membuat senjata-senjata pembunuh drone untuk melindungi berbagai instalasi vital transportasi hingga infrastruktur bahan bakar dan tenaga atomik dari serangan drone.

Sementara itu, tumbuhnya ancaman yang ditimbulkan oleh UAV (termasuk yang telah diimporvisasi) yang dioperasikan oleh negara maupun aktor-aktor non-negara akan semakin meningkat di masa mendatang.

Hal itu dikatakan oleh Ruslan Pukhov, Direktur Pusat Analisis Strategi dan Teknologi (CAST) yang berbasis di Moskow.

Ia menerangkan, Rusia telah mendapatkan pengalaman yang unik dalam melawan sistem-sistem wahana udara tak berawak itu saat berlangsungnya Piala Dunia dan Olimpiade serta pertahanan pangkalan militer di Suriah.

Berikut produk-produk senjata anti-drone yang dipaparkan dalam seminar oleh Rosoboronexport tersebut:

Repellent-anti-drone
Istimewa

Repellent, perangkat perang elektronik perlindungan wilayah hingga jarak 30 km ini dibuat oleh JSC Defensive Systems. Alat yang diintegrasikan dengan stasiun kendali darat ini dapat mengenali UAV, kecepatan terbang, dan arah penerbangannya. Selanjutnya, sistem ini akan melumpuhkan UAV dengan mematikan komunikasi, kendali, dan navigasi dari UAV tersebut. Repellent dapat dioperasikan dalam segala cuaca dan segala lingkungan.

Sapsan-Bekas, wahana bergerak multiperan untuk melumpuhkan UAV dengan metode deteksi pasif maupun aktif. Alat ini dapat mendeteksi UAV hingga jarak 20 km dan mengenali sasarannya pada jarak 8 km. Sapsan-Bekas juga dapat melaksanakan fungsi untuk melakukan pengacauan kendali dan navigasi UAV hingga jarak 30 km, tergantung permintaan pelanggan.

Sapsan-Bekas
Rostec

Kupol dan Ruberz-Avtomatika. Wahana ini dapat melakukan perlindungan wilayah dari ancaman UAV layaknya sebuah kubah payung. Batas-batas perlindungannya tidak dapat ditembus oleh drone musuh dan akan melakukan serangan balik pada berbagai arah dan ketinggiah hingga 3 km.

Luch. Alat ini bersifat portable yang dapat digunakan dengan cepat untuk melakukan perlindungan terhadap drone. Luch dapat mendeteksi UAV dan melumpuhkan kendali UAV hingga jarak 6 km.

Pishchal. Alat yang dapat dibawa ke mana-mana ini memiliki fungsi serupa dengan senjata anti-drone lainnya. Dengan bobot 3,5 kg, Pichchal merupakan produk paling ringan dari deretan wahana anti-drone yang telah dibuat. Kemampuan melumpuhkan kendali dan navigasi UAV mencapai jarak 2 km.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *