Chakra, Proyek Akuisisi Jet Siluman F-35 oleh Indonesia

AIRSPACE-REVIEW.com – Visi Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo adalah sebuah doktrin baru bagi pertahanan Indonesia di mana kita harus memiliki Superioritas Udara (Air Superiority) sebagai Maritime Iron Umbrella lautan kita, Blue Water Navy untuk keunggulan laut, dan Land Superiority untuk bisa ditempatkan kapan saja dan  di mana saja ke luar wilayah.

Hal ini membutuhkan gagasan baru, namun harus realistis dengan berbagai inovasi cerdas untuk menembus berbagai kendala.

Dalam memenuhi peran sebagai Maritime Iron Umbrella diperlukan teknologi terkini guna menjamin superioritas udara dan unfair advantage

Dalam sejarahnya, Indonesia memiliki kecenderungan menggunakan armada tempur terkini buatan Amerika Serikat (AS) selepas pembelian besar-besaran pesawat dan alutsista Rusia di era 1960-an.

Pesawat F-5E/F Tiger, A-4 Skyhawk eks Israel, hingga F-16A/B Fighting Falcon merupakan contoh alutsista buatan AS yang dibeli semasa era Presiden Soeharto.

Memang ini sempat terhalang dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu dan itu sudah lewat.

Kita kemudian sempat beralih kepada sekutu kita yaitu Rusia dengan membeli pesawat tempur Sukhoi Su-27/30 pada 2003 dan saat ini dilanjutkan dengan pembelian Su-35.

F-35
USAF

Meski demikian, bila dibandingkan filosofi teknikal dan logistiknya berbeda dengan buatan Amerika Serikat. Buatan Amerika terkenal dengan keandalannya, mudah dirawat, dan ketersediaan spare parts yang mudah didapat.

F-16 seperti halnya F/A-18 series contohnya, disebut sebagai pesawat “Sejuta Umat” dengan komunitas pengguna yang luas dan suku cadang yang berlimpah.

Saya berpikir, kita ada baiknya melanjutkan tradisi ini, namun dengan twist yang lebih advanced lagi. Yaitu, kita membeli F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin, AS yang kita sambung dengan paket produksi lokal F-16 seri terbaru.

Atau opsi berikutnya adalah, F-35 bisa kita kombinasikan dengan akses kita pada teknologi yang diberikan dalam Program KF-X/IF-X antara Korea Selatan dan Indonesia. Seperti diketahui, hal ini juga dilakukan pihak Korea Selatan dengan pembelian F-35 mereka.

BACA  Rusia Serahkan Satu Mi-171 Bermesin VK-2500 kepada China

Keunggulan

USAF

Secara taktis F-35 Lightning II adalah pesawat DAY ONE, artinya pesawat yang digunakan untuk menembus pertahanan lawan dalam sebuah gerak ofensif secara kasat radar (dengan senjata disembunyikan di dalam perutnya).

Hal ini sangat berguna untuk menghantam Central of Gravity musuh hingga menetralkan kekuatan udara lawan dan melumpuhkan banyak hal yang membuat serangan berikutnya lebih mudah. 

Kemudian, setelah DAY ONE dikuasai, pesawat F-16 dan Su-35 dapat melanjutkan penyerangan dengan lebih mudah. Tentunya F-35 bisa kembali menjadi spearhead dalam kampanye udara ini.

Memang, sempat ada satu testing di mana F-35 dipecundangi oleh F-16 dan menjadi lahan bully di media. Namun konteksnya saat itu, F-35 belum dicat dan menggunakan fitur silumannya.

Kemudian percobaan berikutnya, F-35 memperlihatkan kegarangan aslinya. Selain siluman (lebih tepatnya Low Observable) juga dengan mempunyai 360 derajat awareness-nya, pilot F-35 bisa melihat pesawat musuh dari helm muktahirnya sehingga lebih unggul dari pesawat lawan.

Hal berikutnya, adalah masalah logistik dan perawatan. Seperti semua jenis pesawat buatan Barat, terutama AS, menggunakan prinsip economical mass atau massal ekonomis. Produksi sebanyak mungkin sehingga harga akan menjadi lebih murah.

F-35 termasuk di dalam filosofi tersebut. Dengan sembilan negara partisipan produksi, suku cadang akan berlimpah dan memudahkan rantai logistiknya.

Untuk perawatan demikian juga, semudah merawat F-16 series yang sudah kita miliki.

F-35B
Brandon Owen

Secara teknologi F-35 akan menambah penguasaan teknologi perang pada pilot dan tim pendukung TNI AU serta industri nasional baik BUMN maupun swasta yang ingin berpartisipasi.

Dalam kepentingan nasional, teknologi siluman dibutuhkan jika ingin menjadi yang terbaik. Bukan mediocre dalam pertahanan kita. Ini sekaligus kritik saya pada ToT (Transfer of Technology) yang merupakan wishfull thinking.

Tentu kita bisa melakukan riset mandiri yang akan sangat lama dan jauh lebih mahal dalam mengembangkan teknologi siluman. Atau, membeli teknologi tersebut dan meminta menjadi bagian dari rantai suplainya (seperti telah kita lakukan saat pembelian F-16 terdahulu).

BACA  10 Pilot Ab Initio RAAF Lulus Pendidikan Terbang Pilatus PC-21

Kemudian dalam konteks ini, sebagai deal feature juga memproduksi pesawat Generasi 4++ seperti F-21 atau F-16 Viper. Atau, membantu IF-X yang kita tidak mendapatkan akses teknologi dari sisi Korea Selatan (yang dibantu oleh Lockheed Martin).

Kendala

F-35C
Lockheed Martin

Pesawat F-35 adalah yang paling mahal dibanding pesawat lainnya, karena memang ini pesawat generasi ke-5 bukan lagi generasi ke-4++. Apalagi jika kita memilih varian F35B dengan kemampuan STOVL (terbang dan mendarat secara vertikal).

Masalah APBN tentunya akan terbebani. Meskipun demikian, dengan sistem manajemen tertentu, penerimaan pajak dari industri yang terlibat bisa saja dimungkinkan.

Tentunya kita juga bisa melakukan imbal dagang, seperti menggunakan komoditi yang Indonesia hasilkan. Sehingga, semahal apapun kita membeli, bisa diimbangi dengan ekspor.

Seperti Thailand dulu membayar pesawat produk IPTN (PT Dirgantara Indonesia kini) dengan beras ketan atau Malaysia yang membeli pesawat buatan BAE Systems dari Inggris dengan kelapa sawitnya.

Namun yang pasti, ini adalah tantangan yang harus dikembangkan model manajemen solusinya.

Kesiapan industri adalah kendala berikutnya. Mengandalkan BUMN tentu saja dimungkinkan, namun seperti yang kita ketahui kapasitasnya sangat terbatas seperti halnya PTDI.

Namun, ini pun tentunya tantangan. Ada beberapa model seperti Konsorsium BUMN atau memperbaiki PTDI dan menarik dana masyarakat melalui IPO.

Gagasan lainnya atau kombinasinya, yaitu dengan menarik swasta nasional dalam program ini. Tentunya dengan proyeksi keuntungan yang jelas bagi semua pihak.

Dispen Kormar

Mengejar penguasaan dan produksi teknologi militer, akan menghasilkan spin off pada industri sipil dengan implikasi bisnis yang biasanya tinggi. Seperti GPS militer, ternyata mampu melahirkan varian produk turunan yang memanfaatkan GPS dan ujungnya memberikan pajak pada negara.

Kendala berikutnya adalah embargo terutama pihak Amerika Serikat. Kita pernah trauma pada embargo AS pada semua pesawat militer produknya karena kasus pelanggaran HAM Timor Timur.

BACA  Apache Guardian dan Viper Berebut Tempat untuk Gantikan Heli Tiger ARH di AD Australia

Namun perlu diingat, kita juga pernah merasakan embargo Uni Soviet pada kasus yang sama yaitu pelanggaran HAM genosida pengikut PKI. Keduanya menghasilkan kelumpuhan bagi TNI AU dalam melakukan operasi.

Ketakutan akan embargo, sebenarnya sederhana saja. Selama kita tidak melanggar kaidah universal seperti pelanggaran HAM dan melakukan politik yang ekspansionis, sebenarnya hal ini tidak perlu di khawatirkan.

Politik Luar Negeri Indonesia, saya percaya akan mengaturnya dengan baik. Indonesia dulu lahir dengan keterampilan dan ketangguhan diplomasi untuk kepentingan nasional. Sekarang kita harus lebih baik lagi dari masa lalu.

Versi Indonesia

F-35B
Roni Sontani

Varian F-35 yang sesuai untuk Indonesia adalah F35B STOVL menggunakan TurboLift System. Karena geografis Indonesia yang memiliki banyak pulau, yang artinya banyak “kapal induk” pangkalan yang secara alamiah memperkuat kemampuan tempur secara strategis. Kita bisa muncul di mana saja meskipun tanpa landasan yang mudah dipantau dari pengamatan udara.

Namun ada juga pertimbangan bahwa yang paling cocok adalah F-35A, varian konvensional tanpa TurboLift system. Ini lebih murah mengingat landasan pesawat di pangkalan militer Indonesia maupun bandara-bandara besar sudah banyak yang mumpuni dalam standar NATO.

Sehingga, dengan membeli varian F-35A bisa menghemat anggaran yang signifikan dan juga memiliki jarak jangkau yang lebih luas karena tidak terbebani TurboLift System yang tidak terpakai saat cruise mode terbangnya.

F-35A
USAF

Namun tentunya, sekali lagi, semua gagasan ini membutuhkan pertimbangan yang sangat dalam. Yaitu, dengan mempertimbangkan sebanyak mungkin aspek serta desain kebijakan terbaik yang menguntungkan negeri ini sebelum menjadi sebuah keputusan politik.

Dengan doa, berpikir, dan bekerja keras, Chakra yang saya sebut sebagai sandi Proyek Akuisisi Jet Siluman F-35 oleh Indonesia dapat kita wujudkan.

Dr. Connie Rahakundini Bakrie

15 Replies to “Chakra, Proyek Akuisisi Jet Siluman F-35 oleh Indonesia”

  1. Indonesia negara non blok bebas memilih alutsista mana yg diinginkan, tapi asurika bermain licik dg memberikan sanksi bagi negara yg ingin membeli alutsista selain dr mereka, RI pernah punya pengalaman buruk di embargo, semestinya jgn bodoh utk tergantung lagi dg Asurika.

  2. Teknologi Amerika memang masih yg terbaik terutama layanan purna jual yg jauh lebih murah dan mudah diperoleh dibanding buatan Russia yg meski nampak garang namun terbukti ketinggalan dr sisi operadional meskipun demikian bukan tidak mungkin sejak sekarang jika mulai dilakukan penelitian dan pengembangan oleh para ahli2 Indonesia dg bekerjasama dg para ahli dari luar, akan tiba pada suatu waktu yg terukur negara kita kan mampu memproduksi pesawat yg memiliki kemampuan stealth dan teknologi peperangan yg canggih. Ini dapat dicapai jika ada kemauan dan tindakan.

  3. Teknologi Amerika memang masih yg terbaik terutama layanan purna jual yg jauh lebih murah dan mudah diperoleh dibanding buatan Russia yg meski nampak garang namun terbukti ketinggalan dr sisi operadional meskipun demikian bukan tidak mungkin sejak sekarang jika mulai dilakukan penelitian dan pengembangan oleh para ahli2 Indonesia dg bekerjasama dg para ahli dari luar, akan tiba pada suatu waktu yg terukur negara kita kan mampu memproduksi pesawat yg memiliki kemampuan stealth dan teknologi peperangan yg canggih. Ini dapat dicapai jika ada kemauan dan tindakan.

  4. Jangan bergantung AS lagi karena selalu bersyarat dan menekan agar selalu sesuai dg politik mereka, kalau tdk nurut di embargo, dikucilkan dll.
    Cukup masa lalu mjd pengalaman, jadilah spt India yg bisa ambil Sukhoi terbaik dari Rusia tetapi tetap bisa dapat Rafael dari Perancis bahkan Mamarika tawarkan F16 tercanggih versi India F21.
    Digdaya tanpa perlu menghamba, sakti penuh wibawa. Semoga jaya NKRI

  5. Tak ada mimpi yg terlalu tinggi, yg ada hanyalah orang yg tak mau bangun dari tidur yg membuatnya mimpi berkepanjangan.

  6. Ingat,indonesia di apit singapura,malaysia dan australia , harus ada alutsista berbeda yaitu SU 35.
    Sejarah membuktikan, bagaimana amerika embargo militer indonesia, sepak terjang australia terhadap timor timur, malaysia sipadan ligitan, singapura lebih parah lagi dari penguasaan ruang udara kepri, tidak ingin perjanjian ekstradisi hingga melindungi para pengemplang pajak orang indonesia.
    Rusia dengan shukoi dan juli nya, Tiongkok dengan arhanud cukup untuk indonesia menjaga wilayah kedaulatannya.
    Teman yang baik adalah yang tidak merugikan indonesia.

  7. Indonesia memiliki F35…? Teori memang OK, prakteknya gak mudah. Terutama pengaruh politis negar tetangga, taruhlah Singapura dan Australia…
    Indonesia beli 11 SU 35 Australia sudah teriak, minta 100 F 35 yang dibeli minta ganti F22 raptor…karena F35 miliknya diatas kertas tidak akan berkutik melawan su35 indonesia…
    Namun keputusan tetap, f22 raptor tidak dijual kemanapun…!
    Nah selanjutnya kita tunggu saja cerita selanjutnya….kapan su 35 datang…?
    Dan apakah paman sam berani memberi sangsi ke indonesia..?
    Nota bene australia pasti ada di belakangnya…

  8. Untuk mode siluman di perlukan F35 untuk serangan pertama, tapi menurut saya F16 pesawat paling lincah untuk pertarungan udara tinggal mungkin di upgrade fiturnya

  9. Memang benar, Indonesia arus menjadi kekuatan superior, terutama bagi para tetangga commnwealth yang sok tengil macam Australia. Kekuatan Udara sangat penting untuk pertahanan. NAmun demikian, tidak kalah pentingnya adalah pertahanan udara yang di darat. Indonesia yang demikian luasnya ini harus memiliki “payung” yang kuat terutama yang tidak tercover oleh pesawat tempur…
    Pelajaran berharga adalah perang Serbia, ketika pertahanan udara yang di darat mampu merontokkan pesawat siluman tercanggih pada masa itu, F117, Dia nyaris tidak punya pesawat tempur yang bisa diandalkan untuk melawan F16, apalagi melawan F117.

  10. Mungkinkah F35 bisa jadi milik Indonesia? bukan karena Indonesia ga punya uang, tapi faktor politis. Selama ini Amerika lebih dekat ke commonwhealt, Autralia, Singapura.

  11. Kalo saya melihat terlalu riskan untuk mengambil F 35..pengalaman adalah guru terbaik, ketika kita masih jatuh ke lubang yg sama berarti kita tidak belajar dr masalah..intinya sebisa mungkin jgn ambil alutsista yg berteknologi buatan Usa dan Inggris..kalo memungkinkan bersekutulah dengan Turki, Korsel, Rusia, Ukraina, Prancis, Jerman, Denmark dan Swedia…

  12. Indonesia intinya perlu pesawat siluman untuk melawan kelebihan persenjataan negara lain… pesawat siluman bisa langsung menyerang jantung pertahanan musuh

  13. Mahzab pertahanan Indonesia adalah defensif, tentunya yang kita butuhkan adalah alutsista yang bisa mendeteksi dan melumpuhkan serangan dari luar negara. Seperti yang kita ketahui, negara-negara tetangga terdekat kita telah mengakuisisi F-35, dan seperti halnya mereka, kita pun merasa terancam akan teknologi siluman F-35 yang mereka miliki. Dan, yang kita butuhkan tentunya adalah alutsista yang mampu memiliki daya gentar untuk menghadapi F-35 yang dimiliki oleh mereka, dan kemampuan itu ada pada SU-35 yang dengan teknologi “mata” infrared-nya mampu mendeteksi keberadaan F-35 di udara bahkan F-22 pun mampu terdeteksi. Nah, untuk menambah daya gentar untuk menghadapi siluman F-35 tersebut, kita bisa sandingkan SU-35 dengan sistem pertahanan darat ke udara S-400, dan hal ini akan membuat F-35 yang dimiliki oleh negara-negara tetangga kita akan berpikir ribuan kali untuk memasuki wilayah udara kita tanpa izin. Dari situ lah supremasi kedaulatan udara yang kita cita-citakan bisa terwujud. Dan kita jangan pernah lupa, bahwa Amerika jika menjual alutsista ke negara lain selalu memperhitungkan keseimbangan kekuatan pertahanan kawasan. Dan negara kita sejak dahulu bukan lah sekutu bagi Amerika.

  14. Mungkin yang harus lebih diperhatikan dan murah untuk Indonesia saat ini adalah penguatan radar, pertahanan udara & rudal pertahanan laut/pesisir secara merata yang bisa mengcover setiap titik wilayah/obyek strategis diseluruh Indonesia. Rudal pertahanan udara min. jarak sedang (Nasam 2) dan rudal pertahanan pesisir yang bisa menjangkau ZEE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *