Dua Heli AKS dan Satu Pesud Patmar Siap Perkuat Puspenerbal

ANGKASAREVIEW.COM – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah menyerahkan dua unit helikopter antikapal selam (AKS) dan satu unit pesawat udara (pesud) untuk kegunaan patroli maritim (patmar) ke Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk memperkuat Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal). Serah-terima dilangsungkan di Hanggar Fixed Wing PTDI, Bandung, hari ini (Selasa, 9/1/2018).

Selain menyerahkan dua unit helikopter AKS AS565 MBe Panther dan satu unit pesawat CN235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang dipesan TNI AL untuk memperkuat Skadron Udara 400 dan Skadron Udara 800 Wing 1 Puspenerbad, PTDI hari ini juga turut menyerahkan tiga unit helikopter serang ringan AS555 AP Fennec yang dipesan TNI AD untuk digunakan Skadron Udara 12/Serbu Puspenerbad.

Sebelumnya pada 29 September 2017, PTDI telah menyerahkan dua unit helikopter yang sama. Dengan demikian, Puspenerbal telah memiliki helikopter AKS AS565 MBe Panther sebanyak empat unit. Sedangkan tujuh unit heli AKS sisanya akan diserahkan PTDI secara bertahap pada tahun ini, termasuk dua unit di antaranya akan memiliki konfigurasi full AKS.

Helikopter ini merupakan hasil kolaborasi industri antara PTDI dengan Airbus Helicopters, Perancis. Pada fase integrasi AKS, dari desain hingga pemasangan dilakukan sendiri oleh PTDI.

Baca Juga: PTDI Serahkan Tiga Unit Helikopter AS555 AP Fennec ke Kemhan

PTDI akan melakukan proses pemasangan torpedo dan sonar varian terbaru yang disesuaikan kebutuhan TNI AL. Demi mendukung performa yang maksimal, PTDI pun bekerja sama dengan Rotorcraft Services Group (RSG) dan L-3 Aerospace Systems untuk melakukan engineering collaboration dan rekayasa manufacturing agar heli AKS ini mampu mengendus dan mengancurkan kapal selam lawan.

Uniknya, versi AS565 MBe Panther yang dipesan TNI AL tidak menggunakan skid, tapi dengan roda.

Sebagai pesawat multiguna, CN235-220 MPA Puspenerbal dapat digunakan untuk berbagai macam misi; seperti patroli perbatasan dan zona ekonomi eksklusif; pengawasan pencurian ikan dan pencemaran laut; pengawasan imigrasi dan perdagangan manusia; penyelundupan narkoba dan barang ilegal; serta pencarian dan penyelamatan korban bencana.

Baca Juga: Patut Diapresiasi, Perjalanan N219 Masih Panjang

CN235-220 MPA memiliki kemempuan maximum take off weight (MTOW) dengan bobot 16 ton. Pesawat ini mampu lepas landas pada landasan pacu yang pendek, bahkan dengan kondisi landasan yang belum beraspal atau berumput sekalipun. Pesawat ini mampu terbang selama 10-11 jam yang didukung sistem avionik full glass cockpit yang lebih modern, autopilot, dan adanya winglet di ujung sayap agar lebih stabil dan irit bahan bakar.

PTDI selalu siap memenuhi pesanan demi pesanan yang dilayangkan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia maupun TNI sebagai pengguna, dalam rangka mewujudkan kemandirian alutsista TNI.

Keberadaan PTDI akan sangat berarti jika setiap produk serta jasa yang dihasilkannya dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh instansi dan lembaga negara di Indonesia, termasuk Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan TNI yang selama ini telah menjadi customer terbesar PTDI. FERY SETIAWAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *